KEIMAMAN MEMPELAI

rountree_1KEIMAMAN MEMPELAI

Oleh Anna Rountree

Kata Pengantar

Sering kali pria digambarkan sebagai imamat Kristus dan wanita sebagai mempelai Kristus. Tapi kenyataannya, baik imam maupun mempelai tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin kita. Bapa surgawi hanya melihat Anak-Nya di dalam kita.

Dia ingin melihat apakah kita menunjukkan kekudusan dan kebenaran yang ditampilkan dalam kehidupan imam alkitabiah-Nya. Dia ingin melihat apakah kita menunjukkan pengabdian tunggal yang nyata dalam seorang mempelai tercinta – seseorang yang tidak mengharapkan apapun lebih daripada hidup dalam kesatuan yang sempurna dengan suaminya – bahkan seperti Kristus hidup dalam kesatuan yang sempurna dengan Bapa-Nya.

Karena hanya kesatuan yang sempurnalah yang memuaskan Bapa kita, Ia menciptakan kita sehingga hanya kesatuan yang sempurna yang akan memuaskan anak-anak-Nya. Proses pertunangan kuno dalam Alkitab adalah peta perjalanan rohani untuk orang-orang percaya “ritual peralihan” dalam merasakan keintiman dengan Tuhan dalam Kristus.

Ketika kita dilahirkan kembali, kita bersatu dengan Kristus secara roh, beralih dari kerajaan kegelapan ke kerajaan putra terkasih-Nya, duduk dengan Dia dalam ruang surgawi dan membuat paduan dengan Yesus Kristus dari Allah Bapa. Kita memulai setinggi yang kita bisa, tetapi tidak dalam. Kedalaman adalah sebuah perjalanan.

Jika dalam perjalanan ini kita mencari Tuhan semata-mata hanya untuk Dia, jika kita lama untuk mengenal Dia sebagaimana Ia mengenal kita, maka Ia akan mendekat pada kita dalam kenyataan yang menakjubkan. Ia akan meresmikan perjanjian pertunangan yang kita masuki (diatur oleh Bapa surgawi) pada saat kelahiran baru kita.

Dengan penuh gairah Ia akan menarik kita padaNya dan mengantar kita ke tahap dari pertumbuhan Kristen yang Alkitab gambarkan sebagai “saat cinta” (Yehezkiel 16:8). The New International Version mengatakan ini: Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. (Yehezkiel 16:8), menjelaskan tahap ini sebagai masa berpacaran.

Untuk bertunangan, ini adalah saat sukacita yang luarbiasa dan ujian yang keras. Sebuah kerinduan yang sangat dalam mulai tumbuh dalam diri orang percaya tersebut. Mereka menyadari bahwa tak ada yang dapat memuaskan rasa lapar ini kecuali kesatuan yang lebih dalam dengan Yesus sendiri.

Jika kita tekun menantikan, mencari penghiburan hati kita hanya dalam Kristus saja, Tuhan akan menarik kita ke dalam kesatuan roh. Setelah kita dibawa pada kesatuan yang lebih sempurna, kita “mengenal”-Nya – oh, bukan seperti pengenalan akan Dia nanti, maupun pengenalan akan Dia ketika kita memiliki keselamatan secara penuh dengan menerima kebangkitan tubuh kita. Tetapi kita mengenal Dia sebagai seorang yang akan mengatakan pada kita, sebagaimana Ia berkata pada Abraham, “ Aku mengenal dia (Kejadian18:19, versi King James, penekanan ditambahkan). Dalam bahasa Ibrani firman dapat diterjemahkan: “Aku intim dengan dia” (penekanan ditambahkan).

Ada tiga tahap yang berbeda dalam proses seorang mempelai. Dua diantaranya adalah pengalaman pribadi, dan yang satu secara korporat.

Buku ini adalah cerita nyata seperti sebuah perjalanan – sebuah perjalanan (terbuka bagi semua orang percaya) untuk masuk merasakan keintiman dengan Kristus. Saya membagi surat cinta saya dengan anda karena Dia yang membuat mereka meminta saya membagikannya.

Kunjungan-Nya pada saya di bumi, serta visi-visi tertentu dan wahyu-wahyu pengalaman di surga, terjadi antara 5 Juli 1995 dan 5 Juli 1996 (dengan dua penglihatan terkait yang diberikan kemudian). Mereka mencatat kata demi kata dalam jurnal-jurnal. Mereka mencatat tanpa henti, kegairahan yang ditarik oleh Tuhan pada Diri-Nya, memuncak pada kemuliaan, kesatuan roh.

Harapan besar saya agar ini menjadi dorongan bagi semua orang yang ingin hidup di dalam Allah dengan hubungan sedalam mungkin saat di bumi – dan untuk mengenal-Nya di atas segala sesuatu baik dibumi dan di surga.

Untuk anda, Kristus memiliki surat cinta anda sendiri yang menunggu.

Diagram di halaman berikut menunjukkan setiap tahap, pekerjaan yang dicapai dan apa yang diterima dalam setiap tahap.

Banyak diantara kita yang memiliki pemahaman tahapan awal dan ketiga dari proses ini. Tetapi beberapa diantara kita tidak memiliki pengertian yang dalam dari komitmen yang menyala-nyala pada sisi Kristus terhadap orang-orang pilihan-Nya, maupun keintiman yang pedih yang bisa terjadi selama hidup dalam tahap kedua.

Siapa yang mengalami tahap penyelamatan ini Penggenapan tugas Yang diterima dalam tahap keselamatan ini
1. Pribadi a.Lahirbaru/pertunangan8

b.Harga mempelai 9

c.Mas kawin10

d.Didandani dengan Kris-

tus11

e.Karunia rohani untuk

mempelai12

f. Perjanjian pernikahan13

g.Penerimaan secara

resmi14

h.Piala perjanjian/ piala

anggur pertama15

·   Penyesalan & pengampunan

·   Pernyataan kebenaran dalam Kristus (Roma 10:4)

·   Roh Kudus (Yoh 7:39)

·   Hati dan roh yang baru (Yehezkiel 36:26)

·   Diangkat sebagai Pewaris (Roma 8:17)

·   Kehidupan Kekal

(Rom 6:23)

2. Pribadi a. Pengudusan yang terus-

menerus16

b.Pengesahan pertunang-

an mengiringi karunia-

karunia17

c.Persiapan Esther/

pengujian18

d.Kesatuan yang dalam

dengan Kristus19

e.Pertunangan resmi

(dengan status

mempelai adalah wani-

ta yang menikah, pe –

ngantin pria adalah pria

yang akan menikah, te-

tapi mereka belum me-

rupakan pasangan yang

menikah)20

·   Perubahan kehidupan dalam Roh

(Mat 16:24-25)

·   Pentahbisan tubuh

(Roma 12:1)

3.Umum

(disadari setelah mele-

wati kehidupan ini)

a.Kebangkitan tubuh21

b.Pakaian putih dari

kekudusan hidup22

c.Mempelai Kristus seca-

ra korporat 23

d.Berkat Bapa24

e.Piala anggur baru/ piala

anggur kedua25

f.Pernikahan/minggu

pernikahan (status per-

nikahan penuh)26

g.Perjamuan kawin Anak

Domba27

h.Memerintah bersama

Kristus di bumi28

·   Keselamatan tubuh

(Filipi 3:21)

·   Keselamatan penuh

·   Perkawinan

______________________________________________________________

 

Bab Satu

Kunjungan

Tepian udara terbakar.

Saya mengangkat tangan untuk melindungi mata saya dari cahaya yang membakar. Bagian-bagian terkecil dari udara dalam apartemen kami terbakar putih- panas dari satu titik sumber.

Dengan cepat Roh Kudus berbicara: “Bangunlah Anna.” Pada saat saya berlutut dalam doa memohon Tuhan lebih lagi. Saat ini, bagaimanapun, saya berhenti berdoa, karena saya terpana dengan penampakan ajaib di depan mata saya. Udara mendesis dan berputar.

Di pusat fenomena ini, api kemuliaan dari Tuhan mulai membakar melalui dinding apartemen kami. Roh Kudus mendudukkan saya di kaki saya, karena saya tidak bisa berdiri. Melihat kemuliaan Tuhan saat di bumi dan dalam tubuh seseorang sangatlah berbeda dengan melihatnya di atas dalam alam roh. Kemuliaan-Nya hampir melebihi yang dapat ditanggung tubuh jasmani.

Para Malaikat hadirat-Nya

Saat saya bangkit berdiri, para malaikat agung hadiratNya melangkah melalui pusat cahaya yang menyala untuk memasuki ruangan. Mereka datang berpasangan tetapi terpisah saat menyentuh atmosfir ruangan. Empat malaikat berdiri di depan saya membentuk setengah lingkaran di sebelah kiri, empat malaikat dalam bentuk setengah lingkaran di kanan saya. Mereka mengenakan jubah lavender pucat disulam dengan ungu tua dan emas pada lengan baju dan keliman. Sabuk emas mengikat pakaiannya menyilang di dada mereka. Setiap malaikat membawa sesuatu di tangannya seperti sikap seorang utusan.

Lalu empat malaikat tambahan, dengan pakaian yang sama, memasuki ruangan melalui udara yang terbakar. Masing-masing memegang satu tiang kanopi, salah satunya tampak seperti pada pernikahan Yahudi. Saat mereka bergerak maju, kata CINTA dapat dilihat pada kain kanopi itu.

Raja Yesus

Roh Kudus bergerak dan mengembang menjadi angin puyuh sebagai respon pada Satu Pribadi yang kini melangkah dibawah kanopi. Raja Yesus, lebih terang dari matahari, memasuki ruangan.

Melewati syok karena cahaya yang sangat luarbiasa, saya dapat melihat samar-samar Dia mengenakan jubah ungu sempurna yang terbuka di depan dan tergantung dalam lipatan ke tanah. Dengan lengan baju yang panjang dan pinggirannya di bordir emas yang melebar. Di dalamnya adalah jubah putih yang juga sampai ke kakiNya. Jubah itu bertumpuk menyilang di dadaNya dengan sabuk emas. Di kepalaNya ada mahkota emas yang beberapa bagiannya mirip dengan mahkota yang digunakan untuk cap gulungan Taurat. Ia sangat luar biasa dalam keagungan, mengagumkan dalam kekudusan dan megah dalam keindahan.

Roh Kudus berputar-putar di sekeliling saya untuk menguatkan saya, terhadap cahaya yang menyilaukan dan kekuasaan yang keluar dari Tuhan sehingga menyulitkan saya untuk berdiri.

Pemberian-pemberian

Kemudian, seolah-olah dengan beberapa perintah untuk tenang dari Yesus, malaikat terdekat dari formasi setengah lingkaran mendekat pada saya. Ia memegang mahkota emas di tangannya, yang ia letakkan dengan hati-hati di kepala saya. “Kebijaksanaan” katanya, sedikit tersenyum. Kemudian menyilangkan tangan di dadanya, ia mengangguk hormat dan melangkah kembali ke formasi setengah lingkaran.

Malaikat di formasi seberangnya melangkah dengan pemberian yang dibawanya. Ia memasangkan anting emas di telinga saya. “Hikmat” katanya. Kemudian ia juga melipat tangan di dada dan bergerak lagi untuk bergabung dengan malaikat lain.

Satu demi satu setiap malaikat hadiratNya yang berikutnya membawa pemberian yang dipegang di tangannya. Setelah karunia fisik dikenakan pada saya, malaikat yang bernama Karunia Rohani menjadi lambang. Karunia-karunia yang diberikan malaikat-malaikat termasuk sebuah hati emas yang tergantung di rantai di atas hati saya sendiri – pengertian; gelang emas di masing-masing pergelangan tangan – kebijaksanaan; ornament emas di hidung – kearifan; cincing emas di tiap jari – kemampuan berkomunikasi, dan kalung emas – takut akan Tuhan. Ke delapan malaikat melangkah ke depan dan meniup kabut emas di atas saya. Ini menutupi saya seperti kerudung dari kepala sampai kaki.

“Kebaikan hati,” katanya sambil tersenyum. Dia juga mengangguk dan melangkah kembali ke formasi setengah lingkaran.

Tanggapan

Saya tertegun. Saya tidak pernah menerima jawaban dari doa secepat itu dan berlimpah-limpah. Saya menatap pemberian-pemberian yang saya dapat lihat. Itu adalah pemberian bangsawan dari Bapa. Tetapi kenapa dengan kanopi?

“Tuhan, saya berkata, “Biarlah semua karunia ini ada untuk menyenangkan-Mu”.

Dia tersenyum padaku. “Karena engkau telah meminta agar semua karunia itu untuk menyenangkan-Ku, maka hal itu akan jadi dan juga akan dialami oleh orang lainnya. Semua pemberian itu akan membuka hati-Ku untukmu dan untuk tubuh-Ku. Semua teka-teki yang terikat, terkunci di dalam Aku, Anna. Tetapi misteri dari KasihKu adalah wahyu terbesar dari semuanya.” Majulah pada-Ku, Ia berkata, ”Seorang yang kupilih, cinta-Ku, ranting yang berbuah, kebun yang berbuah.”

“Tuhan,” jawabku, “Aku mandul.” (aku belum pernah melahirkan anak secara jasmani). Dia tersenyum lagi dan menjawab, ”Engkau akan menanggungnya dan lebih berbuah dibandingkan bila engkau melahirkan anak-anak jasmani. Aku telah menahan bebanmu. Tapi sekarang Aku meletakkan tangan-Ku atasmu sehingga engkau dapat membawa buah yang baik – banyak anak, para ahli waris, para raja dan para imam pada Bapa mereka.”

Ia meletakkan tanganNya atas saya. Api dan kuasa melanda saya. Ia terus berbicara, ”Engkau tidak akan menanggung malu lagi karena tidak berbuah.”

Peresmian Pertunangan

“Melekat pada-Ku,” Ia berkata. “Aku suamimu. Biarlah perlindungan-Ku ada di atas kepalamu.” Matanya menyala padaku sebagaimana Ia melanjutkan,” Akulah Tuhan, Allahmu, dan tidak ada yang seperti Aku. Akulah awal dan akhir. Akulah kesehatanmu, perlindungan dan keberhasilanMu. Ribuan demi ribuan pewaris akan engkau lahirkan, orang-orang yang berjalan menuju kerajaan-Ku. Orang-orang yang akan berada di rumah di ruang-ruang-Ku.”

“Anna,” Ia berkata dengan nada yang lebih intim, “ Sekarang engkau lebih cantik dari sebelumnya. Hati-Ku terarah kepadamu. Kerinduan-Ku untukmu. Engkau telah memikat hati-Ku. Kunci ini jauh di dalam hatimu, karena janji-janjiKu benar dan pasti.”

Saya hampir tidak bisa bernafas. “Tuhan,” bisikku, “ biarlah ini terjadi segera.”

“Ini sudah selesai”, sahut-Nya. “Hasilkanlah buah untuk kerajaan. Jauhkan diri dari kebanggaan pribadi. Jangan menghakimi.”

Keberangkatan

Ia membungkuk sebagai tanda keberangkatan-Nya dan melangkah kembali ke bawah kanopi. Saat di bawah kanopi, Dia berbalik dan berjalan melewati lubang menyala di dinding apartemen. Keempat malaikat yang memegang tiang kanopi juga membungkuk dan berjalan keluar dengan-Nya, memegang kanopi di atas kepala-Nya sebagaimana Ia menghilang. Para malaikat kehadiran-Nya juga menandai keberangkatan mereka, dua demi dua mereka mengikuti Tuhan.

Kemudian Roh Kudus mengelilingi saya lagi, kali ini bersama semua api dan cahaya yang tersisa. Ia juga pergi melewati dinding apartemen. Seketika, karunia-karunia ini masuk dalam diri saya dan tidak lagi tampak di luar tubuh. Dinding tertutup.

Keheningan

“Bapa,” bisikku, ”siapakah saya untuk menikah dengan seorang Raja? Saya datang tanpa apapun. Saya tidak punya mas kawin. Bahkan saya tidak mengharapkan peti dengan kain lenan dan…”

Sebelum saya teruskan, Bapa bicara audibel dengan gemuruh di ruangan: ”Tidak dapatkah Aku menyediakan pakaian lenan untuk anak-anakKu?”

Tidak lama kemudian, saya mendengar sebuah ketukan di pintu depan apartemen. Meskipun asyik dengan semua yang terjadi, saya berhasil menuju pintu dan membukanya.

Kafilah

“Halo, Anna,” sapa seorang malaikat yang tinggi. Saya mengatakan bahwa ia adalah malaikat karena ia memanggil saya dengan nama yang hanya dikenal di surga.

Juga, ia mengenakan pakaian orang Baduwi (pakaian yang tidak biasa di benua ini). Di belakangnya di tempat parkir saya melihat sebuah rombongan kafilah dengan dua puluh empat unta beserta masing-masing pemiliknya orang Baduwi.

Aku melirik cepat ke sekeliling kompleks apartemen. Saya dan suami tinggal di sebuah fasilitas rumah kontrak yang murah di Florida. Kami telah beradaptasi terhadap kondisi ini dengan baik setelah kita belajar menghindar ketika para tetangga saling menembak. Namun, saya tidak yakin bagaimana mereka bereaksi terhadap kafilah unta. Meskipun biasanya komplek itu diramaikan dengan orang dewasa dan anak-anak, tak seorangpun yang nampak.

Peti Pengharapan

 

Malaikat melanjutkan. “Kami membawa peti-peti pengharapanmu,” katanya dengan semangat. “Dua puluh empat peti. Di mana anda mau ini diletakkan?”

Tangan saya memegangi wajah saya dengan takjub. Saya dibanjiri dengan begitu banyak emosi yang campur aduk sehingga saya mulai tertawa dan menangis pada saat yang sama.

“Tidak apa-apa, Anna,” kata malaikat besar menghibur. “Jangan gelisah. Bapamu mengasihimu.” Di tempat parkir para penunggang unta Baduwi memberi isyarat pada unta-unta untuk berlutut. Para malaikat itu mulai membongkar isi peti.

Antara tertawa dan menangis saya berkata,”Dapatkah anda menumpuk peti itu di sini (ruang tamu)?” “Tentu bisa,” katanya riang. Ia bersiul ke malaikat lain dan memberi isyarat dengan kepalanya untuk membawa peti-peti. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada saya lagi. “ Harapan adalah Allah, Anna. Setiap peti yang Bapa berikan padamu adalah harapan yang engkau dapat bagikan. Ini adalah pemberian terbesar untuk Suami anda dari renda-renda dan handuk berhias bordir,” malaikat tersenyum.

Para petugas mulai membawa peti-peti ke ruang tamu dengan dua malaikat membawa tiap peti. Semua malaikat itu menggunakan pakaian padang pasir bewarna senada dengan unta. Sesudah membawa peti-peti, setiap pasang malaikat tersenyum lebar seperti ingin memperlihatkan keramahan mereka. Kemudian mereka kembali ke rombongan kafilah.

Peti-peti itu tampak tertutup kulit unta. Yang besar seperti peti harta karun. Kelima tali mengelilingi setiap peti dari emas, dan dua pegangan untuk membawanya berwarna biru terang. Material pembuka kunci tiap peti disalut emas, yang mana lubang kunci itu sendiri berbentuk salib. Namun, tak seorangpun pernah memberikan kuncinya pada saya.

Penerimaan

Karena ukurannya, peti-peti ditumpuk mencapai langit-langit apartemen. “Malaikat besar menggoyang-goyangkan tumitnya menikmati pemandangan itu. “Ya,” dia tersenyum, “ ada harapan besar di sini.” Kemudian ia mengambil pensil dari belakang telinganya dan mengeluarkan papan dengan surat tanda terima. “Tanda tangan di sini, silakan,” katanya, memberikan papan itu pada saya. “Nama apa yang harus saya gunakan?’ Tanya saya. “Anna tidak apa-apa.”

Saya tulis”Anna” pada kwitansi putih dan kemudian menyerahkan papan klip kembali padanya. “Baiklah,” katanya dengan menghela nafas tanda tugas sudah selesai. Dia mengeluarkan salinan bawah dari tanda terima dan menyerahkannya pada saya. “Ini tanda terima anda. Dua puluh empat peti harapan turun.”

Ribka

Tiba-tiba, saya teringat Ribka dan bagaimana ia memberi minum unta beserta pelayan-pelayan Abraham. “Apakah anda mau minum air atau sesuatu?” Tanya saya terbata-bata, tidak yakin apa yang harus dikatakan.

“Oh tidak,” katanya sambil tertawa. “Kami memiliki air yang lebih baik dibandingkan dengan suplai air untuk kota anda. Kami akan pergi sekarang sebelum kami menarik perhatian orang.”

“Terima kasih membawakan peti-peti,” saya berkata. “Dengan senang hati,” ia tersenyum. “Shalom.” Para petugas bersiul dan membunyikan lidah mereka agar unta-untuk bangkit. Malaikat besar meraih kekang yang menempel pada tutup kepala dari unta dan membawanya memutar sehingga rombongan kafilah dapat berbalik arah dari tempat parkir. Kemudian ia dan unta beserta pembantu mereka mulai pergi. Tiba-tiba, mereka menghilang.

Sesaat kemudian, kehidupan di komplek apartemen kembali normal. Saya menutup pintu dan bersandar melihat peti yang menumpuk sampai ke langit-langit. “Terima kasih, Bapa,” bisik saya.

Bapaku terdengar berbicara audibel lagi. “ Engkau mendapat pengharapan yang lebih besar dan lebih baik dari putri lain dapatkan untuk hari pernikahannya. Sekarang,” Ia melanjutkan, “datanglah kemari.” Secara ajaib, dalam roh, saya mulai bangkit.

_________________________________________________________________

Bab Dua

Pendakian

Saat saya bangkit, saya sadar bahwa perisai pelindung mengitari saya. Itu jelas dan bulat. Saya bertanya-tanya apakah perisai ini hadir setiap saat, meskipun saya tidak melihatnya. Saya duduk, menarik lutut hingga ke dada dengan lengan memeluk kaki.

Kehidupan yang lebih dalam

Saya mulai merenungkan selama pendakian ini,”Bagaimana semua ini dimulai? Tentu saja ketika saya dilahirkan kembali,” pikir saya. Tetapi saya ingin berpikir di luar masa kekristenan dan remaja. “Tidak,” saya pikir, ”ini dimulai ketika saya memutuskan untuk ingin hidup sedalam mungkin – untuk menyentuh dasar kehidupan itu sendiri. Satu-satunya cara untuk melakukannya adalah mengetahui sungguh-sungguh kehidupan Dia sendiri.”

Saya datang ke tempat dalam hidup saya dimana saya tidak ingin hidup seperti kerikil yang dilewati air. Saya ingin mengalami lebih mendalam. Saya ingin mengenal-Nya.

Seperti saat saya bercermin, saya sadar bahwa membutuhkan waktu dua puluh tahun sebagai orang Kristen untuk sampai pada kesimpulan ini. Dua puluh tahun diyakinkan untuk mengenal dan bersekutu dengan Tuhan adalah pengejaran termulia bagi manusia. “Mengapa,” saya bertanya-tanya,” ini mengambil waktu saya begitu lama?”

Penyerangan

Ketika saya mendekati langit kedua, saya memiliki firasat. Tiba-tiba, di kejauhan atmosfer terkoyak, dan kawana berwarna hitam dituangkan ke bagian yang terbuka. Dalam pandangan saya, kawanan itu tampak seperti belalang atau lebah. Apapun itu, dengan cepat menuju ke arah saya.

Roh jahat – hitam, bermata merah, berbau busuk – mengelilingi perisai. Mereka tampak seperti mahkluk gargoyles yang bersayap. Mereka mulai meneriakkan kutukan pada saya. Saya merasa terjebak, terpojok.

Roh-roh itu mulai memuntahkan empedu hijau pucat ke perisai. Empedu memiliki sifat asam, sehingga permukaan perisai mulai terbakar, menjadi melengkung dan tipis seperti plastik dipanaskan. Kemudian dengan cakar yang tajam, iblis mulai menggali di area-area yang melemah. “Tuhan, tolong saya,” saya menangis.

Bantuan kemalaikatan

Tidak lama kemudian, jeritan datang dari beberapa roh jahat di pinggir luar perlindungan. Secara cepat mereka mengalihkan perhatian dari saya kepada dua malaikat prajurit berbaju zirah terang dan malaikat Azar.

Saya sangat senang melihat Azar. Ketika saya melihat dia sebelumnya, ia telah mengatakan pada saya bahwa ia adalah malaikat “penolong” yang ditugaskan melindungi saya. Ya, saya pastinya butuh bantuan sekarang.

Ia mengenakan baju kerja terusan dimana ia mengenakan jubah coklat tipis. Sebuah kantung peralatan tergantung di ikat pinggangnya. Dua cangkir hisap yang memiliki pegangan diantaranya juga tergantung di sabuknya. (cangkir ini adalah sejenis alat yang digunakan untuk memindahkan lembaran kaca besar). Selain itu, ia memiliki tangki yang dipasangkan di punggungnya. Saya bersorak ketika melihatnya.

Para prajurit mengenakan baju zirah serupa dengan yang dipakai oleh para penjaga prajurit, kecuali baju itu ditembak memakai cahaya. Bukannya pedang, mereka membawa tongkat panjang yang digambarkan sebagai firman Allah. Setan-setan mundur ketika bersentuhan dengan tongkat itu seolah-olah terkena kejutan yang keras. Seperti binatang liar yang membunuh haus, mereka berjuang kejam untuk mempertahankan mangsanya. Sementara para prajurit melawan musuh, Azar menarik selang yang dilekatkan pada tangki yang terpasang di punggungnya. Cepat-cepat ia meniupkan gelembung untuk menghentikan empedu yang menggerogoti permukaan perisai. Hanya sesaat saja, ia menempelkan dua cangkir hisap pada gelembung. Kemudian ia meraih pegangan diantaranya. Dengan dorongan yang kuat, ia mulai menarik perisai ke atas, jauh dari pertempuran. Setan-setan mulai menjerit ketika mereka menyadari saat kami semakin menjauh.

Para prajurit malaikat memegang setan-setan di teluk sementara kami melarikan diri. Saat kami naik lebih tinggi, saya lihat para prajurit mengacaukan musuh, membawa mereka kembali ke atmosfer yang terbuka. Saya menghela nafas lega.

Koridor

Seiring kami bangkit, suara gemuruh setan memudar. Saya merasakan sebuah kedamaian. Azar menarik perisai ke sebuah lorong yang tampak. Di kedua sisi gelembung, ribuan malaikat terbang lambat, seperti spiral ke atas. Formasi yang megah, koridor berkilau ke surga. Mereka tersenyum pada kami saat kami lewat. Lintasan kami seperti cahaya laser yang berkelebat naik turun. Inilah cara para malaikat yang bepergian di lorong.

Firdaus

Sebelum kami memasuki cahaya terbesar yang ada di ujung koridor, Azar berbelok membawa saya ke firdaus dengan cara yang berbeda. Tiba-tiba, gelembung muncul lewat sebuah lubang di rumput sebuah taman yang dipersiapkan Allah dengan sempurna. Begitu perisai menyentuh rumput, ia menjadi “merah muda,” pecah semudah gelembung sabun. “Maaf telah memecahkan gelembungmu,” canda Azar.

“Terima kasih sudah menolong saya, Azar,” kata saya dengan lega. “Kami bertujuan untuk menyenangkan,” ia bergumam dengan aksen gembala sapi. Ia mengeluarkan sebuah sikat baju dan mulai membersihkan saya. Saya mengira ada serpihan sisa gelembung di baju saya.

Saya melihat sekeliling. Bagaimana di rumah saya merasa di sini sekarang. Meskipun saya telah mengunjungi surga berkali-kali, keindahan dan keagungan taman Tuhan selalu memenuhi saya.

Azar meneruskan tentang setan, “Mereka hanya gangguan. Mereka tidak memiliki kekuatan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya mereka melakukan perjalanan bergerombol. Meskipun begitu, mereka mengganggu. Mereka dapat memperlambat anda.”

“Dan para prajurit?” saya tanya. “Ya,” ia tersenyum, ”kadang saya sendiri butuh bantuan. Mereka adalah para pengawas, bagian dari patroli perbatasan. Mereka menolak hal-hal tak berarti yang ingin ikut campur.” Ia melangkah mundur, menatap saya, “ Jadi, bagaimana perasaanmu?”

“Saya merasa baik-baik saja,” kata saya.” Maukah anda menyampaikan terima kasihku pada pengawas yang menolong saya?” “Saya bisa,” ia tersenyum. Ia mulai menarik tangannya keluar dari tali yang mengikat tangki ke punggungnya. “Apakah engkau mau bertemu dengan Bapamu?” tanyanya. “Ya,” saya tersenyum, sambil menyerahkan cangkir hisap yang jatuh ke tanah ketika gelembung pecah.

Pengawalan kemalaikatan

Dua malaikat yang tampak seperti wanita muda cantik terbang mendatangi. Mereka mengenakan jubah biru pucat dan tidak bersayap. “ Ayo terbang bersama kami, Anna” panggil mereka. Azar tersenyum,”Mereka akan mengawalmu ke ruang singgasana.” “Maukah engkau ikut dengan kami?” Tanyaku pada Azar. “Saya harus menguji peralatan ini sebelum saya menyimpannya,” katanya.”Pergilah,” ia meneruskan. “Engkau akan menikmati penerbangan.”

Saya mengangkat kedua tangan saya pada para malaikat, menunjukkan bahwa saya ingin bergabung dengan mereka. Sambil tertawa, mereka menukik turun dan mengambil saya, masing-masing di setiap sisi. Segera mereka melakukan dua putaran – putaran-putaran yang menghabiskan nafas saya. Azar tertawa dan berkata, ”Bersenang-senanglah dengan Bapamu.”

Mereka terbang dengan saya di tengah-tengahnya. Mereka seperti para penerbang tangkas yang melakukan akrobat berbahaya di atas daerah surga. Mereka membelok, bergulung, mengepak, dan memutari putaran. Saya tahu mereka berusaha berbagi pengalaman dengan saya yang tidak akan saya dapati di bumi. Namun saya mulai bersyukur dengan kenyataan itu. Mereka bergembira seperti anak-anak.

Ruang Tahta

Kami tiba sangat tinggi di ruang tahta dan agak jauh dari tahta. Namun, dari sudut pandang ini saya mendapatkan pemandangan lengkungan kemuliaan dalam warna-warna yang memancar dari Bapaku, ribuan menembus lautan kaca, para malaikat datang dan pergi, para tetua, keempat makhluk, dan kegiatan di sekitar tahta (saya kira hal itu adalah pekerjaan resmi di kerajaan).

“ Saya ingin tahu apakah saya mengganggu Bapa?” saya bertanya pada diri sendiri. Keheranan saya tidak lama. “Kemarilah, Anna,” Bapaku berbicara suara keras tetapi lembut, suara yang dapat menembus bagian terdalam manusia.

Para malaikat yang membawa saya menjawab langsung permintaan-Nya. Mereka melakukan pergantian yang terjal dan terbang menuju area tahta – terlalu cepat dan rasanya tidak nyaman, bisa saya katakan. Tepat sebelum kami sampai di tahta, para malaikat turun ke bawah dan melakukan pendaratan mendadak sejauh jarak penghormatan dari aktifitas tersebut. Sayangnya mereka melepas saya terlalu cepat, dan menyebabkan saya meluncur. Mereka bergerak menyingkir, tidak meyakinkan seberapa jauh saya dapat berjalan. Saya sangat malu, dan para malaikat yang membawa saya malu.

Tetapi seperti pimpinan pemerintahan berkuasa yang dua tahun lamanya terpaku di tempat kerjanya, Bapa surgawi lebih peduli dengan perasaan saya daripada diri-Nya sendiri. “Tidak buruk,” Dia tertawa, mengomentari pendaratan saya. “Hanya keluar dari sarang, Bapa,” saya tergagap, berusaha untuk meredakan suasana.

Ia berbicara anggun pada para malaikat pengawal, berusaha untuk meringankan beban mereka. “Terima kasih telah membawa anak-Ku,” kata-Nya. Mereka membungkuk dalam-dalam, sambil menggelengkan kepala dan menggigit bibir mereka saat mereka minta diri.

Aku berbalik dengan sikap meminta maaf pada mereka yang ada di pertemuan.”Saya begitu tak menyadari apa yang terjadi di sini.” Saya kembali menatap Bapa, “Apakah Engkau sibuk?” Ada keheningan sesaat – kemudian Tuhan tertawa. Para tetua tertawa. Orang-orang tebusan dan para malaikat tertawa. Saya tertawa. Itu adalah tertawa yang berlanjut dan terus berlanjut di surga.

Bapaku

Setelah suara mereda, Bapa berkata,”Kemarilah anak-Ku.” Ia mengangkat saya dan mendudukkan di sandaran tangan tahta. Mereka yang bertemu dengan-Nya membungkuk dan menarik diri.

Saya menengadah ke area wajah-Nya. Bapa kami adalah cahaya – cahaya yang menyilaukan. ‘Dia memiliki sebuah bentuk dan bahkan terlihat mengenakan pakaian cahaya.

Dari dada-Nya ke atas tidaklah mungkin melihat wajah-Nya karena begitu cemerlang. Cahaya putih kehadiran-Nya memancar keluar untuk menghasilkan aurora warna seperti permata. Megah.

Meskipun Dia mewujudkan kekudusan dan keagungan, berada di dekat-Nya membuat perasaan yang dalam untuk pulang. Saya merasa sepenuhnya aman dan sungguh-sungguh dikasihi.

“ Pastinya ada jutaan orang yang menyelinap pada-Mu sekarang, saya berkata pada Bapa. “Jutaan,” Ia menegaskan,” tetapi masing-masing anak-Ku memiliki hubungan pribadi dengan-Ku. Masing-masing mereka merasa seperti anak tunggal, mendapatkan semua perhatian-Ku.”

Elang Emas

“Jadi,” Bapa melanjutkan, “Bagaimana kabar elang emas-Ku hari ini?” saya menduga bahwa Dia menyebut saya sebagai elang remaja karena peristiwa memalukan saat saya mendarat di dekat tahta.”Saya baik-baik saja, Bapa,” kata saya. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan elang emas untuk dewasa?”

“Ketika bulu-bulumu menjadi putih murni, engkau siap untuk sarang yang di atas. Engkau harus terbang ke gunung-gunung dan lembah dari surga, lebih dulu, dan engkau harus makan dari tangan-Ku. Jangan mencari apa yang dicari elang di bawah. Mereka mencari daging segar (wahyu baru), tetapi permainan mereka terikat dengan dunia, juga pewahyuan mereka – waktu, musim, tanda-tanda alam, dan akibat dosa. Aku telah membuat mereka melihat ke dalam jiwa manusia, tetapi semua itu menyangkut wahyu yang dibutuhkan untuk pelataran luar. Kebanyakan elang bekerja di sana untuk kebutuhan yang besar.”

Ia melanjutkan, “Ada beberapa elang yang terbang di tempat kudus. Mereka melayani Aku lebih intim. Mereka terbang di antara cabang-cabang kaki dian emas. Mereka, seperti Daud, berada dalam persekutuan dengan putra-Ku, makan roti sajian. Wahyu mereka digunakan untuk membantu mereka yang melayani di mezbah pedupaan emas. Lebih sedikit pelayan di tempat kudus. Tetapi siapa pelayan-Ku di depan tabut?

Imam Besar Agung

“Imam tinggi, Bapa,” saya berkata. “Ya, Anak-Ku. Ia adalah elang putih besar seperti halnya Imam Besar Agung. Ia adalah korban bakaran, dan Ia adalah darah yang dipercikkan. Berapa banyak yang masuk ke tempat itu (maksudnya Ruang Maha kudus)?”

“Satu,” jawab saya. “Satu,” Dia mengulangi. “ Ia adalah pintu, Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Ia ada dekat untuk melayani Aku. Dan saat engkau bergabung pada-Nya, makan dari tangan-Ku, ketika engkau makan dari tangan Satu pribadi yang duduk di atas tahta, engkau juga akan menjadi putih. Sempit dan lebih sempit adalah jalan, Anna. Sedikit dan lebih sedikit lagi yang terus berlanjut. Tetapi barang siapa yang akan ditarik mendekat pada-Ku – kepada siapa yang meletakkan tangan mereka di atas bahtera dan mati terhadap kedagingan – mereka akan tinggal diantara kerubim dan menghasilkan banyak buah untuk kerajaan.”

Tiba-tiba, Ia membuka mata saya dalam penglihatan untuk melihat dua roda elang putih – berputar. Ia melanjutkan,” Aku sudah memilihmu, dan engkau sudah memilih-Ku, dan Aku sudah memilihmu seolah-olah dari putaran roda yang akan terus menerus berputar, seperti roda yang kekal. Penglihatan berakhir.

Bapa melanjutkan,”Jangan biarkan apapun membawa engkau pada makanan kasar, meskipun engkau berpikir itu menolong untuk manusia. Makan dari tangan-Ku dan tidurlah diantara kerubim,”

Manna Emas

Ketika penglihatan berakhir, saya menyadari hujan cahaya keemasan jatuh ke atas saya. Sesuatu menumpuk di kepala, bahu, dan tangan saya yang menengadah. Benda itu lembut seperti salju tetapi tidak dingin.

“Manna emas, anak-Ku. Makanan untuk elang emas.” Ia menggores manna dari kepala saya, bahu dan tangan serta mengulurkan tangan-Nya dari cahaya yang Ia ingin saya makan. “Makanan dari tangan Tuhan, Anna.”

Saya makan dari tanganNya. Ia melanjutkan,” Apa yang terjadi di mulutmu akan keluar melalui tanganmu sehingga engkau dapat menulis apa yang engkau lihat dan dengar.” Hujan emas berhenti.

Pertunangan

“Sekarang alasan-Ku memanggilmu, Anna,” lanjut Bapa. “Engkau harus mempersiapkan diri. Sejak pertunanganmu dengan putra-Ku, engkau tak sendiri lagi. Engkau adalah milik-Nya. Siapkan dirimu seperti Esther. Kami mengasihimu, dan engkau terpanggil dan terpilih. Oleh karena itu, perlu untuk tidak menghilangkan semua pelatihan yang sangat penting yang terletak pada ketaatan. Ketaatanmu harus muncul dari kasih yang sempurna kepada-Ku – tidak dibawah tekanan, tetapi hanya karena cinta. Tangkap rubah-rubah kecil, Anna, sehingga panen-Ku akan terpenuhi.

Ia melanjutkan, “ Saat ini akan berlalu dengan cepat. Kami ingin engkau menyelidiki semua ini. Masa berpacaran adalah waktu yang mengesankan, waktu yang tertahan. Ini adalah waktu ketika kekasih berjalan bergandengan tangan, sebuah waktu dimana pengenalan bertumbuh dan saling mempedulikan. “Saat berpacaran di bumi adalah hal yang manis. Tetapi engkau, Anna, ada dalam masa berpacaran dengan putra-Ku, seorang Pangeran, tidak ada yang lebih sempurna dan indah, tidak ada yang lebih berkuasa dan mulia, Putra-Ku. Lepaskan dirimu untuk mengalami saat-saat itu.”

Kedagingan melawan Roh

“Aku tidak ingin engkau hidup dengan apa yang matamu lihat atau telingamu dengar atau dengan apa yang menjadi alasanmu,” Ia berkata. “Aku ingin engkau hidup dari setiap perkataan yang diproses dari mulut-Ku kepadamu. Tangan kedagingan tidak pernah melakukan keinginan-Ku. Cobalah cara-Ku, Anna. Engkau telah memberikan caramu sendiri untuk kesempatan putra-Ku. Sekarang ambil cara dari Pangeran sendiri – pikiran Kristus, emosi Kristus, keinginan Kristus. Semua tentang Dia. Tak satupun dari dagingmu. Sempurna dan persatuan yang utuh. Ia layak mendapatkannya tidak kurang, bukan?”

“Ya, Bapa,” saya berkata pelan. “Itu gadisku,” Ia berkata, mengangkat dan menempatkan saya di lautan kaca di hadapan-Nya.

Zamrud

Bapa mengulurkan zamrud besar pada saya. “ Untuk mahkotamu, Anna,” Ia berkata. Saya mengambilnya. “Oh Bapa, ini indah,” jawab saya (meskipun saya tidak tahu mahkota itu untuk tujuan apa). “Terima kasih.” Ada suatu keheningan. Kemudian Ia bertanya,”Maukah engkau bertemu Kekasihmu?”

“Aku merasa malu, karena Dia telah membaca keinginan terdalam saya. Aku menunduk dan mengeluarkan kunci emas yang tergantung di sebuah kawat berwarna merah tua di leher saya. Yesus telah memberikan kunci kepada saya. Itu membuka gerbang dari anyaman logam emas ke taman tertutup dari hati saya di surga. Tuhan mengatakan pada saya bahwa jika saya ingin melihatNya, maka Ia akan menemui saya di sana. Ia mengangkat kunci emas dan tersenyum pada Bapa.

“Pergi kepada-Nya,” Bapa berkata lembut. Kemuliaan datang dari-Nya dan mencium keningku. Seketika, saya di depan kebun bertembok.

______________________________________________________________

Bab Tiga

Sang Kekasih

Secepatnya saya memasukkan kunci ke lubangnya dan membuka gerbang ke taman yang tertutup. Saya meletakkan tali merah tua itu lagi di leher saya, melangkah pelan ke dalam gerbang. Sesaat pintu tertutup di belakang saya, dan berbunyi klik tertutup.

Dalam Taman

Sebuah keheningan dan kedamaian di sana. Saya berdiri menghadap air mancur bertingkat tiga di tengah taman. Keren, air jernih mengalir dari atas dan perlahan menggenang di cekungan luas berbingkai. Sesuatu yang besar, pohon aprikot berbunga melengkung di atas air mancur, dengan bangku untuk dua orang pada bagian bawahnya.

Saya membiarkan mata saya beristirahat dengan melihat warna dan jenis tanaman di area tembok. Segala macam tanaman beraroma tumbuh di antara jonquils,tulip-tulip dan dafodil. Pohon-pohon yang berbuah lebat dan tanaman yang penuh dengan bunga, yang juga memiliki daun dan dasar baik musim panas dan gugur. Seperti pohon-pohon dan tanaman perdu, bunga-bunga musim semi, musim panas, dan musim gugur yang mekar pada waktu yang sama dalam satu tanah.

Angin sepoi bertiup di taman mencampur aroma. Aroma itu unik. Di bumi kita tidak mengalami tiga musim tanam bersama-sama. Saya teringat tongkat Harun yang bertunas, berkembang, dan berbuah pada saat yang sama. Saya bertanya-tanya apakah tiga musim yang diwakili dalam taman itu ada hubungannya dengan imamat orang percaya. Saya tidak tahu.

Saya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan-lahan. Kedamaian.

Tidak Sendirian

Tiba-tiba saya mendengar seseorang berdehem untuk menarik perhatian ke hadirat-Nya. Saya mendongak. Yesus duduk di pohon aprikot besar. Tuanku,” saya berkata dengan takjub, “Apa yang Engkau lakukan di sana?”

“Saya di atas pohon, Anna,” Ia berkata. Saya tertawa. “Apa yang Engkau lakukan di atas pohon?” “Engkau ingin Aku di sini,” jawabNya. “Aku ingin Engkau di atas pohon?” saya tertawa, saya pikir Ia bercanda.

“Ya,” Ia menjawab.”Aku ditempatkan di sini, dan engkau tahu dimana Aku berada. Engkau bisa datang ke bawah pohon dan menanyakan padaKu pertanyaan-pertanyaan, dan kemudian pergi ke kehidupanmu. Aku memiliki ruang dalam hatimu, tetapi Aku tidak memiliki kebebasan masuk ke seluruh taman.” Saya tercekat. Saya menelan ludah. “Turunlah, Tuhanku,” Saya berkata.”Maafkan saya. Misteri ini begitu menarik…baik, maafkan saya bahwa…”

“…bahwa engkau sudah mulai memanfaatkan Aku?” Ia bertanya, melompat turun dari pohon. “Hal yang sangat saya benci, yang saya lakukan,” saya berkata. Dia mendekati saya.”Apa yang engkau inginkan dariKu, Anna? Informasi? Ada sumber yang luas. Itukah yang engkau inginkan?” “tidak, tentu saja tidak,” saya menjawab. “Misteri ini begitu…”

“…menggelitik?” Ia bertanya. “Ya, itu…” “…menggoda?” Ia menambahkan. “Ya,” saya menegaskan. “Tetapi itu adalah bagian dari Aku – dan engkau telah diberi semua dari diriKu. Ini kelihatannya adalah pertukaran yang sedikit.”

“Oh, Sahabatku,” saya melanjutkan,” Maafkan saya. Aku mengasihi-Mu dan ingin bersama-Mu. Saya ingin Engkau memasuki seluruh taman,” “Engkau dipanggil untuk mengetahui misteri-misteri Anna, tetapi tidak untuk memanfaatkan Aku,” Ia berkata.

Untuk Menenangkan Jiwa

Saya kehabisan kata-kata. Ketika tahun-tahun sebelumnya saya memutuskan untuk mengejar Tuhan dengan sungguh-sungguh, saya menarik perasaan-perasaan saya dari banyak godaan duniawi. Saya merasa saya perlu menenangkan jiwa saya jika saya ingin Dia datang mengetuk hati saya.

Penarikan diri dari kebiasaan untuk dihibur oleh dunia sungguh menyakitkan. Tetapi sekarang Tuhan berkata bahwa saya telah menggantikan hal yang duniawi dengan hiburan rohani – merindukan lebih dan lebih lagi pengenalan rohani – lebih halus dan kurang dapat diterima untuk menggantikan, tapi masih sebagai pengganti bagi-Nya. Saya tidak tahu harus bicara apa. Saya tertegun.

Dia meraih tangan saya dan membimbing saya dengan lembut ke tepi air mancur.” Duduklah,” kata-Nya pelan. Dia duduk disamping saya. Saya memandang wajah-Nya. Keindahan dan kejernihan mata itu luar biasa. Ia memegang tangan saya dan menggenggam-Nya.

Seorang Sahabat Sejati

“AnnaKu,” Ia berkata, “jadilah sahabat sejati-Ku, seperti Aku kepadamu. Aku ingin engkau menginginkan kerajaan-Ku. Aku adalah Raja, tetapi Aku ingin bersamamu, sebagaimana kekasih yang akan berlama-lama bersama orang yang ia cintai. Aku tidak mengatur cintamu, Aku dengan rendah hati memintanya. Aku tidak mendikte bahwa engkau bersama-Ku. Aku lama untuk engkau mencari Aku. Oleh karena itu Aku menunggumu, Anna.” Saya menundukkan kepala. “Tuhan,” saya berkata, “saya egois. Saya memanfaatkan Engkau untuk kesenangan saya sendiri.”

Bahkan Seorang Raja

Ia mengangkat daguku. “Anna, lihat Aku,” kata-Nya. “Bahkan seorang Raja berharap dicintai untuk diri-Nya, bukan karena hadiah yang Dia anugerahkan.” Ia tersenyum pada saya. “Jia engkau tidak menikmati kebersamaan dengan Aku sekarang, mengapa engkau percaya bahwa engkau akan menikmati Kerajaan-Ku yang kekal?” Dia menatap tanganku. “Pengejar ingin dikejar juga,” Ia berkata lembut.

Ia mendongak dan kemudian ke gerbang.”Apakah engkau pernah berpikir berdiri di pintu masuk ke taman dengan pintu gerbang terbuka, menunggu-Ku?” “Tidak,” jawab saya. “Engkau mengharapkan Aku menempuh seluruh perjalanan untukmu. Apakah engkau tidak berpikir Aku akan senang saat engkau menunggu, dengan bagian jarak tertutup sehingga kita bisa melihat satu sama lain lebih cepat?”

“Ya,” kata saya pelan. Dia tersenyum pada saya.”Ayo, cinta-Ku, mari kita berjalan.” Dia membantu saya bangkit dan meletakkan tangan-Nya di pinggang saya. Kami mulai berjalan di jalan kecil yang melingkari taman. “Aku telah memanggilmu untuk Aku sendiri,” Ia berkata dan menatap saya. Sedikit mengerti apa maksudnya. Apakah engkau ingin tahu, Anna?

“Ya,” kata saya ragu-ragu. “Saya mengatakannya dengan rasa takut dan gentar karena saya takut tidak mendapatkan yang saya inginkan.” Dia tertawa. “Saya tahu ini. Apa yang dikatakan mengenai hubungan kita?” “Kedengarannya seperti saya tidak percaya pada-Mu,” saya berkata. “Seperti itulah kedengarannya,” Ia setuju ”Apakah itu benar?” “Ya,” jawab-Nya . “Baiklah, Tuhan, tolong saya!” saya memohon. “Saya ingin mempercayai-Mu.”

“Gadis-Ku yang luar biasa,” Ia berkata,”Cinta-Ku. Tidakkah engkau mengerti? Hasrat-Ku adalah engkau. Kerinduan-Ku menyala dengan api abadi. Tidak ada air mata yang dapat memadamkannya. Ini akan butuh air mata-air mata dari kekekalan, dan tetap saja api kerinduan-Ku padamu tidak akan terpadamkan. Mengapa engkau tidak mempercayai Pribadi yang mencintaimu seperti Aku mencintai?”

saya tidak dapat menjawab. Saya tidak tahu mengapa saya tidak menyerahkan diri saya pada Tuhan. Saya menggeleng. “Siapakah saya sehingga layak mendapatkan cinta seperti itu?” “Engkau dipilih untuk-Ku oleh Bapa-Ku,” kataNya sungguh-sungguh “Dengan hikmat yang melampaui hikmat, Dia telah memilihmu.”

“Lalu menambah keinginanku untuk bersama-Mu,” kata saya,”untuk menginginkanMu lebih dari sebuah urapan atau pengenalan rohani atau…” saya tidak dapat berpikir cukup cepat untuk menghitung. Saya menggelengkan kepala frustasi dan kemudian berseru.”Saya mengasihi-Mu.” Saya melekat pada-Nya, membenamkan wajah saya di dada-Nya. “ Engkau adalah sahabat tersayang yang kumiliki…cinta pada-Mu!”

Ia melingkarkan tangan-Nya pada saya dengan penuh kasih. “Milik-Ku,” Ia berkata. Ia menundukkan kepala-Nya kembali dan tertawa seperti rasa sakit yang bercampur sukacita. Kemudian, mengarahkan kepala-Nya ke wajah saya, Ia berkata lembut,”Anna, Anna.” Ada kesedihan besar dalam suara-Nya. “Tolong jangan lakukan ini lagi.” Ia memegang saya gemetar.”Anna, jangan lakukan ini lagi.”

Saya telah begitu menyakiti-Nya dengan memperlakukan-Nya terlalu berani, santai – seperti seseorang dengan siapa saya harus berurusan untuk memperoleh tujuan utama saya. Tetapi Dia mengasihi saya. Ia menginginkan keberadaan saya dan ingin saya merindukan-Nya. Yang mana merupakan keinginan terdalam setiap hati manusia itulah keinginan saya, dan saya mencari hadiah nomor dua.

Hati saya mulai hancur. Rasa sakit itu menyiksa. Taman beraksi juga. Bau mur membanjiri area itu. Saya melirik pohon mur. Air mata merah dari karet beraroma meluncur dari jantung pohon.

Saya menarik kembali, memegang panjang lengan-Nya, menatap mata-Nya. “Tuhanku, Tuhanku,” saya berkata. “Saya tidak layak untuk-Mu. Bahkan saya tidak bisa menanggapi dengan benar pada kedalaman cinta-Mu, Kristus, jika Engkau tidak memberi saya sebuah cinta yang sesuai dengan kekuatan cinta-Mu…”, rasa sakit dalam hati saya begitu berat sehingga saya tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. “Dengan semua yang ada pada saya, saya paksa melewati rasa sakit yang hebat untuk berseru,” Oh, tolong saya untuk mencintai-Mu seperti Engkau mencintai saya. Saya mau, Tuhan, tetapi saya tidak dapat melakukannya sendiri. Engkau harus melakukannya melalui saya! Mohon!”

Impartasi

Ia menatap saya tajam. Lalu Ia mengambil tangan kanan saya kepada-Nya, membaliknya, dan mencium punggung telapak tangan saya dengan lembut. “Terima,” Ia berkata. Saat itu juga saya bisa merasakan roh bergelombang ke dalam diri saya. “Tidak ada kedekatan yang lebih besar daripada berbagi satu kehidupan,” kata-Nya.

Dalam cahaya yang samar dan kekuatan yang mengikutinya, saya melihat dunia bertabrakan dan jutaan orang dilahirkan. Saya melihat kematian dan kehidupan. Gelombang demi gelombang sukacita yang luar biasa bergulung-gulung dalam diri saya. Saya pikir saya akan pecah jutaan keping, karena tidak sanggup menanggung tingginya cinta itu. Saya lupa dimana saya berada bahkan siapa saya. Saya lupa segalanya, hanya cinta itu sendiri. Berapa lama impartasi ini berlangsung saya tidak tahu, tapi ketika kekuatan itu mulai mereda, taman itu secara perlahan kembali terfokus pada saya. Saya tidak terlalu tersadar, walaupun, tidak jelas dan tidak stabil. Saya harus sigap.

Dia berbicara untuk meyakinkan,” Tempat tenang ini ada dalam dirimu, Anna, dimana engkau dapat bertemu dengan-Ku setiap saat.” Akhirnya pengelihatan saya menjadi jelas. Saya menatap wajah-Nya. Ia tersenyum pada saya.”Anna-Ku,” Ia berkata, “Aku akan memperlihatkanmu taman lain.” Seketika, Ia menjadi elang putih. “Mari, Anna,” Ia mendesak. Saya naik ke punggung-Nya dan berbaring dengan lengan melingkari leher-Nya, seperti yang saya lakukan pada waktu dulu. Kemudian dengan satu gerakan perkasa sayap-Nya, Ia terbang melewati dinding taman. Segera, kami tiba di bumi.

Penglihatan Mempelai

Kami terbang melewati padang pasir yang luas. Dalam penglihatan kami mendekati area yang tampak seperti taman di tengah padang gurun ini. “ Elang putih berkata, Aku akan memperlihatkan mempelai wanita kepadamu, Anna.

Di tengah-tengah taman yang berada di padang gurun ini saya melihat seorang wanita muda yang cantik (pengantin kerajaan Kristus). Ia mengenakan kemuliaan Allah. Elang putih melanjutkan, “Roh Kudus sedang melatih mempelai. Aku membawanya ke padang gurun untuk mengajarnya bernyanyi. Ia adalah seorang perawan, tidak tercemar oleh berhala. Ia tidak akan menyebut mereka atau mempertimbangkan untuk berhubungan dengan mereka. Matanya adalah sendiri, dan Aku mengisi semua penglihatannya.

Wanita muda itu mulai bernyanyi :

Bintang hari di pagi,

Turun di depan mata kita,

Terbit sehingga kami dapat melihat wajahMu,

Pangeran Surga.

Berbaju kemegahan

Berbaju kekuasaan

Jejak Kebenaran Ilahi

Gambaran sempurna dari semua cahaya.

Tuhan melanjutkan, “ Roh Kudus akan menjadi tiang api dan tiang awan kemuliaan Allah. Seperti anak-anak Israel, Ia akan memimpinnya di padang gurun, dan Ia akan melindunginya. Kemuliaan Allah akan bersemayam di atasnya.”

Keintiman dari taman

“Bapa Kami memperbaharui keintiman taman, Anna. Ia memberiKu seorang mempelai yang akan berjalan bersamaKu berpegangan tangan.” Ia melanjutkan, “Tiang api akan menghabiskan semua yang bukan dari Aku? Tiang awan akan melindunginya. Roh Kudus rindu Aku memiliki mempelai yang murni. Ia akan mengajar dan memimpinnya. Ia akan memberinya minyak dan wangi-wangian rempah. Ia akan memberinya makan manna dari atas – seperti Ia memberi makan anak-anak Israel di padang gurun – sehingga dengan atau tanpa it ia bisa dipersiapkan. Dipelihara dan dihangatkan, ia akan tumbuh dan berkembang untuk-Ku sendiri. Wangi parfumnya akan untuk-Ku sendiri, dan ia akan bernyanyi- bernyanyi untuk-Ku sendiri. Kemuliaan akan menjadi perisai baginya, membutakan mata orang fasik. Awan akan membuat mereka tersandung dan jatuh. Mereka akan meraba-raba seperti pada malam gelap, tetapi mereka tak akan menemukan mempelai.”

Datang ke Taman

“Panggilan telah keluar dari ruang maha kudus di surga untuk datang ke taman. Tetapi sebagian besar akan tetap berada di luar. Aku, diri-Ku, memanggil, “Datanglah ke taman!” Tetapi banyak yang masuk puas memakan buah di dekat gerbang. Sedikit yang mencari Aku di tengah taman. Bagaimanapun, bagi sedikit orang yang melakukan perjalanan, mencari Aku, mereka menemukan sebuah pintu terbuka ke hati Bapa. Di tengah taman adalah pintu masuk ke hati Bapa, dan di dalam hati-Nya, Aku hidup dan bergerak.

“Dan engkau, Anna,”Ia berkata, “ tinggalkan semua yang sudah menjadi sauh bagi jiwamu. Lepaskan tali, potonglah layar, dan biarkan Aku mengatur latihan. Datanglah ke padang gurun. Sebagaimana ada sebuah taman rahasia di sana, dan di tengah taman, ada pintu masuk pada Allah.” Kami mulai terbang menjauh dari taman di padang gurun.

Gunung-gunung

Tiba-tiba, penglihatan itu berakhir. Saya menemukan kami benar-benar terbang ke atas pegunungan di bumi. Di bawah kami lembah terbentang subur dan hijau. Pada beberapa pegunungan yang melingkar ada kebun apel. Kebun itu berbaris rapi dan dirawat dengan hati-hati. Matahari bersinar di atas sesuatu seperti sungai yang berkelok-kelok melewati lembah jauh di bawah. Namun, saat kami semakin mendekat, saya menyadari bahwa itu adalah sebuah jalan.

Sebelum kami mendekat ke puncak gunung tertinggi ada sebuah batu menonjol yang besar. Batu itu membentuk sebuah langkan. Elang putih membawa saya ke batu ini sebelumnya. Saya membenamkan wajah di bulu beraroma-Nya saat saya menempel ke leher-Nya. Dia membawaku ke sarang-Nya.

Bab Empat

Pelajaran Dari Burung-Burung

Kami terus terbang lebih tinggi. Sebelum kami mendekati gunung tertinggi, saya melihat burung bangkai mengitari lembah di bawah kami. Kepala botak mereka tampa kasar, najis, dan menjijikkan. Elang putih berbicara, “Jangan pedulikan mereka. Mereka mencari apa yang sudah mati, bukan yang hidup.” Saya mengalihkan mata saya.

Cerobong yang Cepat

Tiba-tiba, ribuan burung kecil, hitam mulai melewati kami. Mereka memenuhi langit. Mereka berceloteh keras dengan sesama mereka sendiri. Suara sayap-sayap mereka menambah ributnya suara terbang mereka. Mereka begitu berisik dan banyak cakap sehingga tidak mengenali elang putih yang terbang di antara mereka. Mereka memanggil melampaui kami untuk ngobrol dan kembali ngobrol satu sama lain.

“Cerobong yang cepat,” elang putih berkata. “Mereka tinggal di jelaga. Mereka naik, tetapi tidak dari api. Tertutup dengan arang, mereka muncul dari kegelapan yang bersembunyi diantara yang hangus. Ekornya seperti lidah ular. Jangan terbang dengan mereka.” Mendengar obrolan kelompok mereka, kata gossip muncul dalam ingatan – “ racun dalam kisah-kisah mereka,” saya pikir.

Untungnya sebuah udara yang bergerak membawa kami lebih tinggi dari seruan menusuk mereka. Saya merasa terganggu oleh peringatan Tuhan dan mulai merenungkan apa yang telah dikatakan.

Seringkali percakapan diantara saudara seiman memang tampak lebih seperti sanggahan di tabloid daripada nasihat dari Paulus untuk, “ janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu (Efesus 4:29). “Memang,” saya pikir, bagaimana kita bisa terbang lebih tinggi jika kita terikat dunia dengan kekaguman kita mendengar dan berbicara tentang dosa – tidak hanya dosa-dosa dunia, tetapi juga dosa diantara saundara seiman? Fokus keduniawian kita memicu sebuah pertaruhan ke dalam dasar dimana roh kita terpaut.”

Elang-Alap

Saya mengerjap kembali ke saat kini yang mana seekor burung pemangsa gelap berlalu di bawah kami. “Elang-elang alap,”Tuhan berkata. “Jangan terbang dengan mereka.”

“Menjajakan barang-barang anda,” saya bergumam sendiri. Sata tidak memikirkan frase itu bertahun-tahun – dan tentu saja tidak berhubungan dengan pekerjaan kerajaan. Namun, sekarang saya memikirkan hal ini, tampak bahwa dalam usaha mencapai dunia atau Kristus, beberapa diantara kita menjadi luar biasa seperti dunia. Kita bersaing mempertontonkan tukang teriak dalam menjajakan dengan semarak. Dapatkah terjadi bahwa kita menganggap murah kedalaman komitmen yang mana Tuhan telah panggil kita? Apakah garam kehilangan rasa?

Burung Alap-alap

Sebelum saya dapat mempertimbangkan hal ini lebih lanjut, seekor burung alap-alap menukik melewati kami. “ Burung alap-alap akan menipu engkau, “ kata elang putih. “ Kebohongan akan membawa hidupmu bertabrakan. Jangan terbang dengan mereka.”

“Dengan siapa saya boleh terbang, Tuhan? “ saya bertanya. “Terbang dengan-Ku, Anna. Terbang dengan-Ku (Elang-elang bersarang tinggi)” Mereka tidak melakukan perjalanan dalam kawanan seperti bebek-bebek (mengikuti satu sama lain selain Tuhan). Mereka tidak bertengger bersama-sama seperti ayam (mencari perlindungan dari yang lain selain Kristus). Mereka tidak berburu binatang-binatang kecil seperti angsa (mencari ketentuan lain selain dari Tuhan). Elang-elang bersarang tinggi. Maukah kamu terbang dengan-Ku, Anna?” “Ya Tuhan,” kataku. “Berhenti berusaha menjadi bagian dari kawanan (yang tidak mengikuti Tuhan). Berubah menjadi angin, dan biarkan aliran itu mengangkat engkau lebih tinggi.”

Batu

Segera, angin mengembang di bawah sayap-Nya. “Kita akan melambung, Anna. Kita akan melambung,” Ia berseru. Kami melambung, lebih tinggi dan lebih tinggi. “Tinggalkan rumah ayah dan ibumu. ‘ Raja merindukan semua di dirimu.” Dengan sebuah gelombang perkasa dari angin dan kekuatan, kami membumbung ke batu dekat puncak gunung.

Elang putih besar turun dengan lembut. Ia berhasil mencapai tepian sarang-Nya yang besar. Saya turun dari punggung-Nya dan berdiri dekat bagian tengahnya. ‘Sarang itu terbuat dari cabang-cabang pohon yang kuat. Ketika saya duduk di lantainya, tinggi tepiannya sekitar sedada.

Kemenyan

Dalam bundaran intu, ada aroma menyengat dari kemenyan. “Kemurnian,” pikir saya. “ itulah yang Tuhan telah katakan melalui pelajaran tentang burung-burung. Tidak cukup untuk mencintai-Nya dan ingin bersama-Nya. Ia ingin mempelai yang murni – seorang yang bebas dari dunia, kedagingan, dan setan. Juga seorang yang tidak akan ambil bagian dalam dosa-dosa orang Kristen yang tidak dewasa – seorang yang bersedia untuk diubah menjadi serupa dengan-Nya.”

“Saya melipat tangan di atas sarang dan menyandarkan kepala di tangan saya, melihat keluar. Kami sangat tinggi di atas lembah. Anda dapat melihat sangat jauh. Tanah tampak subur.

Saya telah memperhatikan beberapa bulu-bulu putih di dalam sarang ketika saya duduk. Saat saya melihat keluar di atas lembah saat ini, saya bertanya-tanya berapa banyak bulu-bulu keremajaan saya digantikan dengan yang kuat, dewasa, yang putih.” “Bertumbuhkah saya? Berubahkah saya? Maukah saya membayar harganya?”

 

Pertanyaan

Bapa surgawi telah bertanya kepada saya pertanyaan ini ketika saya menjadi duta-Nya (seorang sekretaris untuk seorang raja). Saya jawab bahwa saya mau. Terkadang, saya temukan bahwa saya menjawab sebelum saya tahu harganya – harga sesungguhnya. Sekarang saya ingin bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang sama. “Maukah saya membayar harganya? Sungguh mau? Maukah saya berhenti dari kebiasaan yang saya anggap pelanggaran kecil – hal -hal yang iblis bisikkan pada saya,’ Tidak apa-apa saat ini? Maukah saya membiarkan Roh Kudus membawa saya pada kehidupan yang disiplin, kehidupan seorang murid?” pikiran saya berlanjut. Dan tujuan saya: “ Maukah saya berhasil, atau maukah saya mengijinkan-Nya bekerja melalui saya, bebas menerima hasil yang terlihat maupun yang kurang terlihat – yang mana Dia pilih? Hadiah apa yang saya cari – Dia atau kemuliaan saya, menjadi Mempelai yang Dia rindukan atau menjadi komoditas berharga? Hadiah apa yang saya cari?”

 

 

Mawar

Saya berbalik untuk melihat elang putih. Dia telah berubah menjadi Yesus. Tuhan sekarang duduk di pinggiran sarang dengan kaki-Nya di lantai. Di tangan kanan-Nya Ia memegang sebuah bunga mawar merah muda yang besar.

“Kedagingan mungkin terlihat baik,” kata-Nya, “tetapi duri di mawar ini dapat menyebabkan banyak luka.” Tiba-tiba di tangan kanan-Nya muncul buket (sepertinya) tulip merah. “ Inilah mawar dari Saron,” Ia melanjutkan. “Ini tumbuh dalam kebun-Ku. Aku ingin engkau seperti sebuah mawar, Anna, sebuah mawar tanpa duri.”

Mawar merah muda menghilang sementara Ia melanjutkan,”Pengujian memecahkan cengkeraman kedagingan. Biarkan dirimu dituangkan dari bejana ke bejana sehingga endapan yang retak dapat ditinggalkan.” Dia menyerahkan buket mawar merah Saron pada saya. Untukmu, Anna, Dia berkata. “Tuhanku, ini indah,” saya menjawab. “Tetapi apakah ini tidak mati ketika di bumi?”

Hadiah

“ Bunga ini tidak akan mati,” Ia tersenyum. “Ketika engkau dihadiahi pemberian, kehidupan, bahkan kehidupan di bumi, menjadi kegairahan, misterius, berdenyut dengan benar, kehidupan kekal.’ Engkau menjadi roh yang memberi hidup, karena Roh-Ku menyentuh yang lain melalui engkau.”

Ia melanjutkan,”Ketika Aku dalam ukuran yang lebih besar mengalir melalui engkau, pemberian-Ku adalah bersama Aku. Benteng-benteng jatuh, ratapan retak dan jatuh – banyak kehidupan berdesakan melalui rohmu dan meluap ke orang lainnya. Tapi engkau juga mendapat keuntungan. Engkau juga akan disegarkan dengan menjadi saluran kehidupan-Ku.”

Pilihannya jelas – kehidupan atau kematian. Jika aku lebih menginginkan kehidupan – lebih menginginkan Dia – hal ini akan saya bayar. “Akankah ini saya bayar?” saya cepat-cepat menjawab. “Semuanya,” saya menjawab cepat. “ Segala sesuatu yang lainnya.’ Tetapi apa itu segala sesuatu yang lain?” saya kembali bertanya pada diri sendiri. “Kematian. Segala sesuatu di luar Dia adalah kematian, kematian memakai sebuah topeng, khayalan belaka. Tidak,” pikir saya pada diri sendiri; ‘biarlah orang lain lebih memiliki dunia. Saya lebih menginginkan Tuhan.”

Saya bangun dari lantai sarang dan duduk di samping-Nya di pinggiran itu. Saya menatap mata yang jernih itu. “Saya menginginkan Engkau sebagai hadiahku, Tuhan. Sejak Engkau berjanji untuk menjadi hadiahku, hadiah yang hanya saya terima adalah Engkau.” Meletakkan buket di pangkuan saya, saya memeluk-Nya, menyandarkan kepala saya di dada-Nya. “Engkau, Tuhan. Saya menginginkan kekasihku, sahabatku; Aku ingin Suamiku dan menara kuatku. Aku mencintai-Mu dan tidak dapat dipuaskan oleh apapun kecuali Engkau.

“Putri kecilku,” Ia berkata, menciumku lembut di dahi, Aku mencintaimu. Saya memiringkan kepala untuk memandang-Nya. “Terima kasih karena Engkau mencintai saya,” kataku. Lalu saya kembali menyandarkan kepala di dada-Nya. Betapa amannya saya rasakan dengan tangan-Nya memeluk saya, betapa bahagia, betapa lengkap dan damai yang penuh. Saya bertanya pelan,”Apakah Engkau melihat saya tumbuh dewasa?” “Ya,” jawabNya lembut. “Saya berharap dapat menyaksikan Engkau tumbuh,” kataku.

Sendiri Bersama

 

Kami duduk bersama dengan tenang, berpegangan satu sama lain. “Kita tidak memerlukan kata-kata, benar, Anna? Berikan tanganmu,” Ia berkata. Ia meraih tangan saya dan meletakkannya di atas hati-Nya. Saya dapat merasakan dan mendengar hati-Nya berdetak. Ia menatap tanganN-ya yang menutup tangan saya. “ Hati-Ku berdetak untukMu, Anna. “ Ketika saya memandang wajah-Nya, mata-Nya penuh dengan air mata. “Aku mencintaimu,” kata-Nya.

Roh-roh Biru

Tiba-tiba, di depan kami di udara ada dua puluh empat roh. Mereka adalah es biru, seperti batu permata yang jernih. Saya dapat melihat langsung menembus mereka. Dengan cara yang megah mereka mulai menarikan musik surgawi yang entah dari mana datangnya. Mereka menari di udara seolah-olah di lantai. Namun, ketika mereka membuat lingkaran, yang vertikal, seperti sebuah roda. Sikap mereka adalah hormat. Mereka mulai bernyanyi:

Biarlah bumi mendengar surga menyatakan.

Dengar, hai bumi, suaranya.

Surga mengeluarkan nafas sebuah doa

Pohon-pohon dan batu-batu bersukacita.

Setiap menit, setiap jam

Menyanyikan lagu-lagu yang tak dinyanyikan,

Memuji misteri kekuasaanNya,

Batang-batang rumput sebuah lidah.

Keajaiban tak berujung, kekaguman yang tak habis-habisnya,

Kesukaan tak berujung,

Kehidupan dan cinta hukum roh

Di surga, tanah cahaya.

Pernah melihat, sebelumnya tak terlihat

Roh-roh bergabung menjadi satu,

Memuji Allah, Raja belas kasih kami,

Memuji Kristus, AnakNya.

Dengarlah, hai bumi, sebagaimana surga bernyanyi.

Gema mengembalikan pujiannya,

Diam, kesukaan bergemuruh

Untuk Tuhan, sejak purbakala harinya

Setelah lagu mereka berakhir, tarian meneruskan musik surgawi. Saya tetap dengan kepala bersandar di bahu Tuhan sementara saya memperhatikan roh-roh itu menyelesaikan tarian mereka. Saya bertanya-tanya apakah Tuhan akan selalu merayu saya seperti yang Ia lakukan sekarang. “ Akankah selalu seperti ini?” saya bertanya.

Ia tersenyum, “Tidak, Anna. Sebagaimana di bumi persiapan untuk pernikahan bukanlah sebuah pernikahan, demikian juga dengan burung-burung – pasangan dalam ritual pernikahan bukanlah pasangan ‘setelah penyempurnaan dan bersarang dimulai. Namun setiap periode waktu memiliki kekayaannya sendiri. Engkau tidak menyukai rutinitas yang datar. Mengapa engkau harus keberatan untuk berubah? Makan apa yang di atur di depanmu. Nikmati perjalanan hari ini.”

Roh-roh menyelesaikan persembahan indah mereka. ‘Musik berakhir. Saya duduk. Kristus dan saya bertepuk tangan sebagai penghargaan. “Makna yang dalam, teman-teman,” Ia berkata pada roh-roh. Ia berbalik pada saya, “Ulurkan tangan kananmu.” Saya lakukan. Seketika roh-roh terbang ke arah saya.

Garam Biru

Setiap roh menuangkan sejumlah kecil garam biru ke tangan saya. Kemudian setiap roh terbang kembali untuk berdiri di depan kami. “Makan, Anna,” kata Tuhan. Saya makan garam biru. Rasanya enak. Ia melanjutkan, “ Ini perjanjian garam untuk alam surgawi.” Roh-roh tampak sangat senang telah mewakili surga dalam membantu membuat perjanjian ini. “Terima kasih, teman-teman terkasih,” kata Yesus. Mereka membungkuk dalam-dalam sampai ke pinggang, kemudian menghilang.

Zamrud

“Ayo, Anna,” kata Tuhan, bangkit. Ia menolong saya berdiri. Saya mengambil buket bunga. Seketika buket itu menjadi zamrud yang besar. Saya berseru tertawa, karena hal ini mengejutkanku. “Untuk mahkotamu, Anna,” Ia berkata. “Terima kasih, Tuhan,” saya tersenyum kembali (meskipun seperti dengan Bapa, saya tidak tahu untuk apa mahkota yang Ia rujuk), “Bagaimana Engkau menghabiskan begitu banyak waktu dengan saya?” tanyaku.

“Hal ini dalam uraian pekerjaan-Ku,” Ia tertawa. Ia mengulurkan tangan-Nya pada saya berkata,”Mari.” Saya memberikan tangan saya. Kami mulai bangkit dari sarang.

Roda Injil Abadi

Sebagaimana kami naik, saya melihat sebuah gulungan terbuka dengan tulisan di atasnya. Itu memanjang dari langit ke bumi dan kemudian kembali ke surga lagi. Benda itu membentuk roda besar yang menyentuh bumi dan langit. Kami naik tepat disampingnya. “ Saya belum pernah melihat ini, Tuhan,” kata saya. “Injil yang kekal dibuat kelihatan, Anna” Ia berkata. Diwartakan di surga, digenapi di bumi – diwartakan di bumi, digenapi di surga. Ayo.”

_____________________________________________________________

Bab Lima

Kolam Pencerminan

Setelah kami tiba di surga, saya menemukan bahwa saya sedang duduk sendirian di dekat kolam air melingkar yang jernih. Di seberang kolam, semak-semak tumbuh berbentuk geometris – kotak, persegi panjang, segitiga, dan lingkaran. Bentuk-bentuk tersebut dipantulkan dalam kolam.

Tumbuhan damar sedang mekar di balik semak-semak geometris. Setiap semak-semak ditutupi dengan bunga putih lilin yang mengeluarkan aroma yang lembut, menyenangkan. Saya ingat bahwa getah damar adalah rempah-rempah yang digunakan dalam pedupaan suci. Tetapi saya tidak ingat arti yang melekat pada namanya.

Ini tidak biasa masih di kolam, seperti berada di mata badai. Saya mengayunkan kaki, meletakkan kaki saya di dalam air. Kolam itu hampir tidak membuat riak. Aneh. “Di mana saya?” tanyaku dengan suara keras. “Kolam cerminan,” sebuah suara anak-anak menjawab di belakang saya.

Kristal Jernih

“Uh, oh,” kata saya dalam diri sendiri karena saya mengenali suara itu. “Kristal jernih,” saya tersenyum samar ketika saya berbalik menghadapnya. Di sana ia berdiri, rambutnya masih kusut seolah-olah habis bermain. Dia memakai kaus pucat warna pucat sama dengan pakaian luarnya. Dia tampaknya berumur lima atau enam tahun.

Namun, ia memiliki mata yang tua. Saat itu saya bisa melihat lewat lengan atau kakinya. Ia adalah roh. “Engkau datang lagi untuk melihat kami,” serunya riang. “Kami K-A-S-I-H, mengasihimu,” ia melanjutkan, mengeja kata kasih seolah-olah dalam sebuah lagu anak-anak.

Saya mendesah menyakitkan dalam diri saya karena saya ingat terakhir kali saya melihatnya. “Tapi,” pikir saya, “mungkin kali ini akan berbeda,” saya putuskan untuk bertanya padanya tentang kolam. “ Apa itu kolam cerminan?” “Ini adalah sebuah tempat dimana engkau dapat melihat dirimu sendiri dengan sangat jelas,” katanya.

Saya tidak yakin saya menyukai pemikiran itu. “ Apakah kita ingin melihat cerminan diri sendiri?” Tanya saya dingin, kedagingan saya tiba-tiba muncul dan menjadi lihai, kaku, dan mengelak sebagaimana sifat kedagingan.

Ia melanjutkan seolah-olah dia tidak melihat. “Engkau mungkin mau menengok untuk melihat apakah engkau bekerja sama dengan Tuhan atau menolak-Nya. Maukah engkau melihat ke dalam kolam?” tanyanya riang.

Keputusan

Tentu saja saya tidak ingin melihat ke dalam kolam. Namun, saya mulai mendengar dalam suara saya sendiri, sebagaimana dalam kekerasan hati saya, perlawanan saya untuk dikoreksi.

Sesaat sebelum tiba di kolam saya mengatakan kepada Tuhan bahwa saya akan memberikan apapun dan segalanya untuk mendapatkan-Nya lebih lagi. Sekarang dengan kesempatan pertama saya untuk mengijinkan deklarasi ini menjadi pengalaman dalam hidup saya, saya menolak keras. “ Kamu pikir saya harus melihat?” tanyaku lemas.

“Ini mungkin bisa membantu,” jawabnya. Sambil mendesah saya menarik kaki keluar dari air dan berbaring di perut saya untuk melihat ke dalam kolam. Saya sangat terkejut. Saya melihat wajah Yesus tercermin dalam air bukan wajah saya sendiri. Tapi ada obyek geometris terjebak di kepala dan wajahNya. Apa benda-benda ini?” Tanya saya.

“ Blok-blok,” ia berkata. “Engkau menghalangi-Nya. Itu membuat wajah Yesus terlihat benar-benar jelek.” “Bagaimana saya mengeluarkannya?” saya bertanya dengan peringatan. Ia membungkuk untuk melihat wajah saya di kolam. “Hmm,” katanya, seolah membuat diagnosis. “ Engkau harus melepaskan perekatnya.” “Melepas perekatnya?” saya bertanya. “Bagaimana saya melakukannya?”

Pertobatan

“Pertobatan,” katanya blak-blakan. “Pertobatan melepaskan perekatnya.” Dia menarik diri kembali untuk melihat saya secara langsung, bukan bayangan saya. Saya duduk untuk melihat wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya dari sisi satu ke sisi lain seperti yang anak-anak lakukan ketika mengoreksi satu sama lain. Berbicara dengan merdu, lambat, ia berkata, “ Kau terlalu tua untuk bermain dengan blok-blok” Sebelum saya bisa menjawab, dia menghilang.

Getah Damar

Bau getah damar yang kuat memenuhi area itu. Saya menatap semak-semak. Getah yang harum mengalir turun dari cabang. “Kebenaran dengan belas kasihan,” kataku muram, mengingat sekarang makna yang melekat pada nama itu.

Sambil mendesah saya kembali ke kolam. Saya melihat ke dalam air lagi. Wajah, dan yang sebelumnya kehidupan Yesus, pasti di blok untuk mengalir kepada orang lain. Saya mengumpulkan keberanian untuk melihat blok lebih dekat. Masing-masing ada tulisan di atasnya. Saya memicingkan mata untuk menguraikan huruf tersebut.

Blok-blok

“Orang munafik,” tertulis pada satu blok. “Orang munafik,” saya berkata dengan kemarahan karena pembenaran diri. Meskipun marah, saya tidak berani mencoba membantah hal ini karena saya tahu itu benar. “ Hal itu yang orang di bumi tidak lihat yang terlihat jelas di surga. Mungkin saya bisa menyembunyikan ini dari orang lain tapi saya tidak bisa menyembunyikannya dari diri sendiri atau dari Allah.”Saya seorang yang munafik,” saya berkata, dan Engkau melihatnya. Saya berkata bahwa saya melakukan dengan ketaatan, tidak peduli dengan hasilnya, tetapi saya peduli. Saya sangat peduli. Saya ingin sukses. Saya ingin merasa bahwa saya mencapai sesuatu. Saya tidak bisa melihat blok itu lagi.

Saya memutuskan untuk melihat blok yang lain. “Uang” tertera di atasnya. “Oh, tidak,” saya mengerang. “Yah, itu benar.” Saya berkata bahwa saya tidak keberatan menjadi miskin, tapi saya banyak keberatan. Saya tidak suka menjadi miskin. Saya tahu bahwa hidup dengan iman menyenangkan-Mu, dan saya ingin menyenangkan-Mu. Tetapi sejujurnya, lebih mudah berbicara tentang iman daripada untuk hidup dengan itu. Kadang-kadang saya berpikir, “jika saya punya cukup uang, saya tidak perlu memikirkan uang lagi.” Pengakuan saya membuat tidak nyaman. Memutuskan untuk melihat blok lain.

“Menjadi seorang bintang,” tertulis di atas blok ini. Tangan saya ke wajah saya karena malu. Benar lagi, saya mengaku. Sulit bagi saya untuk hidup tersembunyi. Saya ingin dihormati. Saya ingin kehormatan. Saya ingin dikenal. Saya ingin….” Saya hampir berkata “kemuliaan”. Saat saya mengakui dosa ini, saya dikejutkan oleh keseriusan ini. “Tuhan, tolong saya,” saya berkata. “Saya ingin kemuliaan-Mu” saya menggelengkan kepala. “Hal ini serius, sangat serius. Bagaimana Engkau membawa saya sejauh Engkau telah membawa saya? Bagaimana bisa Engkau mencintai saya? Bagaimana bisa Engkau ingin saya menjadi mempelai Putra-Mu? Dalam roh saya, saya tahu bahwa saya ingin apa yang di dalam adalah apa yang saya tunjukan di luar. Saya tahu bahwa saya ingin hidup dengan iman. Saya tahu bahwa kesombongan adalah dosa besar. Setan menginginkan kemuliaan-Mu. Bagaimana aku lebih baik?

Darah

Mengatakan hal itu menetapkan pemikiran saya. Saya di tempat yang lebih baik di hadapan-Mu, Bapa, karena Tuhan dan Juruselamatku mati untuk membebaskan saya dari hukuman mati karena dosa. Dan saya bisa memohon darah Yesus di hadapan-Mu dan memohon Engkau mengampuni saya untuk setiap dosa, serta untuk setiap pelanggaran. Saya dapat menyatakan pada-Mu bahwa Roh Kudus diutus untuk menerapkan kayu salib untuk setiap tindakan kedagingan dalam diri saya.” Saya di tempat yang lebih baik.

“Lalu, Bapa,” saya menangis, “Saya memohon untuk diperbaiki oleh Roh Kudus. Saya meminta salib. Saya meminta saya menjadi bersih di dalam dan di luar. Saya ingin kehidupan Yesus mengalir melalui saya tanpa hambatan. Maksud saya, Bapa, saya tidak ingin satu hambatan pun. Saya memberi-Mu ijin untuk membawa saya ke jalan yang murni di hadapan-Mu. Saya tahu ini akan menyakitkan. Saya tahu itu. Tapi saya mengijinkan Engkau untuk mengabaikan rengekan saya.”

Air Mata

“O Tuhan, jangan tinggalkan saya seperti orang mati.” Saya mulai menangis. “Ampuni saya. Cuci bersih saya dengan darah Yesus – Ia yang membayar harga tertinggi dengan darah-Nya yang ditumpahkan dan kematian di kayu salib agar saya bisa berdiri di hadapan-Mu bersih, dalam kebenaran-Nya.

Saya melanjutkan, “Potong kedagingan saya. Kesampingkan protes-protes saya. Potong rengekan saya. Tolong, tolong jangan biarkan saya pergi mengelilingi gunung ini sekali lagi. Saya tidak ingin hidup setengah hati, kompromi di setiap kesempatan karena saya tidak ingin sakitnya salib.” Saya menangis tersedu-sedu. “Dan saya merindukan Yesus,” saya menangis. “Saya dalam kesakitan ketika kami terpisah!”

Tiba-tiba saya menyadari seorang malaikat yang sangat terang di dekat saya menangkap setiap air mata tangisan saya dalam sebuah botol kecil pualam. Air mata akan mulai jatuh di pipi saya dan kemudian secara otomatis, bahkan patuh, masuk ke botol. Saya terpesona.

Malaikat Pujian

Saya begitu terpaku pada pemandangan ini bahwa saya sedikit melompat ketika nama saya dipanggil dari belakang saya. Itu Judy, malaikat pujian. Dia mengenakan kain hijau tipis di bawah tunik terikat dengan sabuk emas. Di atasnya sebuah jubah hijau pekat yang memiliki lengan yang besar dan panjang. Di lengan ini terdapat kantong -kantong tempat segala macam alat musik emas. Bagian leher, tangan, dan kaki memiliki warna sedikit emas. Rambut pirang dikepang menjadi tujuh ikalan dijalin dengan emas. Di dahinya ada sebuah kotak emas kecil, tempat kitab suci. Ia mulai berbicara. ‘Anna, bersukacitalah karena engkau dicintai. Saya dikirim untuk menghibur engkau dengan jubah pujian.” “Apa itu?” menyeka mata dengan tangan saya. Malaikat terang dengan botol untuk air mata menghilang.

Nyanyian Pujian

“Shh,” ia berkata, meletakkan jari di bibirnya.”Biarkan saya membantu menenangkan jiwamu. Istirahat.” Ia menjadi angin puyuh yang hijau dan kecil. Angin dan pergerakannya menyebabkan semua alat musik dalam jubahnya bermain bersama. Suara pujian begitu murni seperti menarik malaikat-malaikat dari udara. Mereka berkumpul di sebuah lingkaran besar di sekelilingnya. Ia mulai bernyanyi:

O besar Aku, Pribadi yang abadi,

Sumber kehidupan dalam Anak,

Mata Air berkat,

Mata Air cahaya,

Tak terbatas misteri tersembunyi dari pandangan kami.

Dicari oleh Roh,

Terungkap melalui Anak

Misteri terungkap, walaupun pernah dimulai

Awal dan akhir, lingkaran besar cahaya

Itu menghancurkan kegelapan, membingungkan malam

Semua keindahan, semua sukacita, semua kemegahan dalam Pribadi,

Kasih karuniaNya bebas dibagi lewat kehidupan AnakNya.

kehidupanNya dan kematianNya dan kehidupanNya selama-lamanya,

Walaupun pernah disalibkan, tidak lagi mati.

Semua sorak, Penebus yang agung, semua bersorak, Raja Perkasa

Kehidupan dan Kebenaran dan cahaya kami bernyanyi.

Segala pujian, penyembahan, dan syukur,

Melalui waktu yang tidak pernah berakhir, penghormatan kami akan kami bawa

 

Getah Rasamala dan Kayu Teja

Saat ia bernyanyi, aroma getah rasamala dan kayu teja memenuhi udara. Getah rasamala berbicara tentang pemujaan, penyembahan, syukur dan pujian. Kayu Teja mendorong penghormatan kepada Allah saja. Saya perlu keduanya. Saya perlu berhala di hati saya dilemparkan ke bawah. Juga saya perlu diangkat, dari diri saya, dengan mengarahkan mata saya kepada-Nya dalam pujian. Nyanyiannya seperti sebuah jubah yang dikenakan pada saya – mengangkat roh saya tapi menenangkan jiwa saya.

Pada akhir lagu, banyak malaikat yang berkumpul mundur diam-diam. Judy berkata. “Sembahlah Allah, Anna. Ia saja yang layak.” Kemudian ia juga menghilang.

Allah di Tempat Kerja

Saya kembali sendirian. Tetapi keheningan dekat kolam tidak lagi kosong. Itu lebih dekat pada keheningan dalam jiwa saya. Tuhan telah menyelesaikan sebuah pekerjaan dalam diri saya, meskipun saya tidak tahu sifat pekerjaan atau bagaimana Dia telah menyelesaikannya. Tetapi saya merasa dapat melihat lebih jelas, bahwa dalam beberapa cara saya berbeda.

Jawabannya tampak sederhana. Yesus mengalahkan kedagingan ketika Dia berjalan di muka bumi. Dia sekarang bisa mengatasi kedagingan dalam diri saya. Dia akan bekerja, dan saya akan beristirahat di dalam Dia. Saya merasa dibersihkan, dicuci, dengan jiwa saya setenang kolam bundar di depan saya.

Namun, keheningan di dalam jiwa saya membuat ruang untuk suatu kerinduan yang lebih besar bagi-Nya. Rasa sakit di dalam roh saya telah tumbuh begitu menyakitkan. Saya merindukan-Nya. Saya ingin bersama-Nya. Kesakitan menjadi kelaparan yang rapuh.

Dua Malaikat

Tiba-tiba dua malaikat datang berjalan menyusuri jalan kecil dekat kolam. Mereka tampak seperti laki-laki muda berumur sekitar dua puluh lima tahun. Yang satu memiliki rambut coklat dan mengenakan jubah coklat. Yang lainnya mempunyai rambut pirang dan mengenakan jubah warna pirang. Ada sesuatu yang lucu tentang mereka. Tetapi saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini. Garam dan merica datang dalam pikiran ketika saya melihat mereka. Mereka tertawa dan berbicara.

“Halo, “ saya berkata. “ Siapa kalian?”

“Akal,” membungkuk malaikat berjubah coklat. “Tak masuk akal,” membungkuk malaikat berjubah pirang. “Apa?” saya tertawa. “ Allah tidak menjadi Tak masuk akal.” “Oh, iya,” kata Tak masuk akal. “ Ada yang lebih dipahami oleh roh dari pada pikiran.” “Dan banyak yang pikiran berikan untuk memahami sebagai kebenaran, “ Akal menambahkan.

“Itu mengingatkan saya pada sebuah lagu,” kata Tak masuk akal. “Oh, sayang,” kata Akal. “Kami akan menyanyikannya untukmu,” tambah Tak masuk akal. “Kita akan?” Tanya Akal. “Mengapa tidak?” jawab Tak masuk akal. “Engkau selalu menyukai nyanyianku.”

“Saya?” Akal bertanya tidak percaya. Akal tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, baiklah,” katanya. “Engkau memulainya,”

Tak Masuk akal bernyanyi:

Apa rasanya hidup di atas?

Seperti apa di atas?

Berjalan buta engkau lihat, berjalan tuli engkau dengar,

Itulah rasanya di atas, di atas.

Itulah rasanya di atas.

Ada jeda yang panjang. “Itukah?” Akal bertanya. “Yah, aku tidak menyanyikan sebuah nyanyian tunggal di sini,” Tak masuk akal menjawab. “Itu dia.” Ada jeda lain yang panjang. “Aku menyukainya,” kata Akal sepenuh hati. “Terima kasih,” Tak masuk akal berkata iri. “Bagaimana kalau kita menyanyikannya bersama-sama?” “Sangat baik,” Akal mengangguk. “Apakah anda mau bergabung dengan kami, Anna?”

“Jika saya dapat mengingatnya,” saya berkata. “Hanya melompat di saat engkau bisa,” Tak masuk akal menambahkan. Tak masuk akal mulai bernyanyi lagi. Kami bergabung ketika kami bisa. Ketika nyanyian berakhir, Tak masuk akal bertanya,”Bagaimana kalau kita bernyanyi lagi?” Tertawa, Akal dan saya berkata,”Dengan segala cara.” Akal melanjutkan,”Ayo Anna, kita akan berjalan bersamamu di jalan kecil.”

Kami mulai berjalan dan menyanyikan lagu yang sama lagi. Kami bernyanyi lagi dan lagi dan lagi. Semakin kami berjalan dan bernyanyi, segalanya tampak lucu. Kami semua mulai tertawa terbahak-bahak. Kenyataannya, kami tertawa begitu banyak sehingga hampir tidak bisa berdiri. Saat itu kami harus bertahan satu dengan yang lain hanya untuk tetap tegak.

“Lagu-lagumu lebih baik dari yang kuingat,” seru Akal. Kami hampir jatuh tertawa karena lagu itu benar, tetapi mutlak tak masuk akal. Kami berjalan dan bernyanyi dan tertawa sampai kami mendekati sebuah taman hijau yang besar, pintu masuk dijaga oleh dua kerub besar. “Kami tinggalkan engkau di sini,” kata Akal.

Saya ingin bertanya, “Di mana?” tetapi sebelum saya bisa bertanya, Tak masuk akal berkata,”Kapanpun engkau membutuhkan sedikit musik perjalanan, biarkan kami tahu.” Mereka membungkuk tertawa dan pergi.

Saya ditinggalkan di jalan menuju ke taman. Hanya di depan saya ada sebuah tanda berbentuk sebuah anak panah menunjuk ke pintu masuk. Tulisan pada tanda dibaca: TAMAN TUHAN.

Bab Enam

Taman Tuhan

Penangguhan singkat gelak tawa menghilang bersama Akal dan Tak Masuk akal. Kesakitan jenuh dari kerinduan kembali lagi. Ini menjadi begitu berat, sehingga mengkhawatirkan. Itu berlipat ganda, berderap dalam intensitas.

Saya telah minta untuk menginginkan Tuhan lebih dari hidup itu sendiri. Saya tidak menyadari bahwa menerima cinta seperti itu akan sangat menyakitkan. Itu seolah-olah sebuah tombak yang telah ditekan ke perutku. Saya tidak bisa menariknya keluar. Saya ditusuk oleh kerinduan. Tetapi saya terdorong maju menuju kebun. Mungkin saya akan melihat Yesus di sana. Dia dan Dia saja adalah kesembuhan saya. Itu yang saya tahu.

Malaikat Elia

Tiba-tiba malaikat Elia yang terhormat bergabung dengan saya di jalan. Ia adalah sosok yang besar, tampak tua, dan sedikit biru karena cahaya biru yang memancar darinya. Ia memiliki kepala yang botak dan jenggot putih yang sangat panjang. Dia mengenakan mantel rajut tak berlengan yang panjang dengan berbagai nuansa biru. Di bawah jubah ini ada jubah yang bahkan lebih biru. Cahaya berkelebat dalam mantel seolah-olah ada gemuruh badai yang berkecamuk dalam kain. Sebelumnya Bapa surgawiku menugaskan malaikat ini untuk bepergian dengan saya untuk sisa kehidupan saya di dunia. Ia sudah menjadi seorang teman.

“Elia,” saya tersenyum, mengenalinya. “Bolehkah aku berjalan bersamamu?” ia bertanya.“Silakan,” jawab saya. Dia tidak mengatasi rasa sakit yang saya alami, yang mana saya bersyukur. Saat kami berjalan dia mulai berbicara,”Hidup dalam roh adalah menjadi tahu lebih dekat dan mengenal kedekatan – mempercayai Sang Kekasih, lebih memilih Sang Kekasih, memikirkan Sang Kekasih, menghormati Sang Kekasih, memegang Kekasih hatimu.”

Dia menatap saya sambil melanjutkan,”Bapa surgawi-mu telah menyediakan pernikahan di bumi untuk menunjukkan ikatan cinta yang tumbuh antara orang yang dicintai, dewasa dalam cinta, memperdalam cinta, tidak berusaha untuk memamerkan tetapi untuk memelihara, menjadi rentan terhadap orang yang dikasihi dan lembut satu sama lain.”

Ia melanjutkan,”Karena besar dan kuat Tuhan kita telah menciptakan semua, semua memiliki martabat. Pribadi yang engkau cintai adalah rahmat yang dituangkan seperti minyak hangat pada luka-luka dunia, balsam Gilead. Pribadi yang diurapi memberikan diri-Nya sendiri untuk semua, karena Dia memiliki belas kasihan pada semua, meskipun sedikit yang akan melekat pada-Nya.”Kami mendekati pintu taman. Tidak ada tembok-tembok di sekelilingnya. Namun, tampak seolah-olah tumbuh dinding tak terlihat dan kemudian berhenti.

Kerub

Kami berhenti di depan dua kerub besar yang mengapit pintu masuk. Setiap kerub memiliki dua wajah. Satu kerub memiliki wajah seorang pria di depan dan di belakangnya wajah singa. Yang lain memiliki wajah seekor elang di depan dan dibelakangnya lembu. Setiap kerub memiliki dua sayap dan tangan di bawah sayap. Kaki mereka yang lurus seperti manusia, tetapi berujung kuku. Bulu berwarna kelabu tua menutupi tubuh mereka seperti sisik ikan. Mereka penuh dengan mata di sekeliling tubuh mereka dan dalam sayap mereka. Mereka adalah makhluk yang tampak menakutkan.

Kerub membungkuk kepada Elia. Wajah pria itu bertanya, “Bagaimana kabarmu di hari yang diberkati ini dalam Kerajaan Allah kita?” Lalu keempat wajah dari dua kerub meledak dalam lagu,”Berkatilah Nama-Nya selama-lamanya!” mereka adalah kuartet.Elia berkata pada mereka, “Aku mendampingi Anna ke taman.”

“Selamat datang,” kata wajah elang. Kemudian kuartet bernyanyi,”Pujilah Dia, pujilah Dia, semua hasil karya-Nya.” Elia berpaling pada saya.”Bagaimana kalau kita pergi, Anna?” “Ya, silakan,” saya menjawab.

“Semarak dan keagungan, kemuliaan dan hormat adalah milik-Mu, ya Tuhan,” nyanyi kerub. Sayap mereka naik dan menyentuh bagian atas pintu masuk. Mata dari keempat wajah diangkat dalam pujian ketika kami melewati bagian bawah sayap mereka.

 

Eden

Kerinduan saya agak mereda ketika kami memasuki taman. Kehadiran Tuhan ada di sana. Kami mulai menyusuri jalan setapak. Suara pujian dari kerub semakin samar lebih dalam kami masuk taman.

Area ini begitu kaya. Tampak setiap jenis pohon, semak, bunga, dan herbal tumbuh di dalam bundaran. Pohon-pohon berbuah memiliki bunga dan daun dan juga berat dengan buah. Saya kagum.

“Saya berjalan dalam taman asli yang menghiasi bumi pada awal penciptaan,” saya berkata pada diri sendiri. “Dan inilah bau sebenarnya,” saya menambahkan, karena aroma nikmat memabukkan. “Apakah taman ini masih di bumi?” saya bertanya pada Elia.

“Tidak,” ia menjawab. “Taman itu terbawa pergi bersama banjir,” “Mengapa ada kerub di pintu masuk?” saya bertanya. “Untuk bergabung dalam nyanyian pujian yang muncul dari tempat ini pada Bapamu,” ia berkata. “Dengar,” Seolah-olah segala sesuatu dalam taman diberi suara yang dapat digunakan untuk bernyanyi bersama-sama. Suaranya tidak keras. Saya harus berdiam diri untuk mendengarnya. Ini berpadu seperti musik yang datang dari semua yang membentuk taman – semua yang menggambarkan Kristus.

“Musik yang manis,” saya berkata. “Tetap lebih manis karena datang dari hati-Nya yang luar biasa. Itu berasal dari hati Yesus,” tambahnya. Taman itu keren, tidak lengket karena saya sudah membayangkan dengan begitu banyak dedaunan. Kami melewati air terjun kecil dan kolam tersembunyi.’Mawar Saron tumbuh dekat air.

“Apakah Yesus berjalan di sini?” tanyaku pada Elia. “Ya,” ia tersenyum.”Ini adalah taman-Nya. Ia berjalan di sini.” “Ini begitu indah,” saya berkata. “Ya,” ia setuju, “ Nafas kehidupan Allah, taman Yesus.” Kami datang ke tempat terbuka yang saya kira adalah pusat dari taman. Mawar Saron tumbuh di sekelilingnya. Dibagian tengah padang rumput ini tumbuh sebuah pohon terang yang besar. Itu adalah bentuk pohon ek bercabang banyak- atau sebuah pohon apel yang sangat besar. ‘Cabang-cabang yang berat dengan buah. Pohon itu bersinar dengan cahaya yang berlimpah dan bukan warna pohon yang ada di bumi. Elia menunjuk ke arahnya saat kita bergerak ke tanah lapang: “Pohon kehidupan,” ia menyatakan. “sekarang saya akan libur, Anna.”

“Oh, Elia,” seruku. Dia berbalik ke arahku. “Ingat, Anna, di dunia yang akan datang, ingat bahwa engkau dicintai,” katanya. Di masa yang lalu saya telah menemukan bahwa pernyataan seperti itu tidak lebih membuat rambut saya berdiri pada akhirnya daripada menghibur saya. Tidak terkecuali kali ini.

“Ingat,” ia berkata lagi, mencium tangan saya. Ia menghilang. Tampaknya saya sendirian di taman. Saya memandang sekeliling lapangan. Angin sepoi mencampur bunga-bunga dan rumput-rumput di padang rumput. Saya mulai berjalan menuju pohon kehidupan.

Penderitaan Kristus

Ketika setengah jalan ke pohon, Tuhan muncul di depan mata saya. Dia berdiri di depan saya dalam keadaan dipukuli, memar, pakaian-Nya menempel pada luka-Nya yang masih terbuka, tercungkil di tengkorak-Nya, jari-jari yang bengkak, dan wajah yang bengkak.

Saya berteriak panik. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana menolong-Nya. Saya syok. Saya berlutut di kaki saya, semua kekuatan saya hilang. Tangan saya menutupi wajah saya. “Anna,” Ia berkata, “ ini Suamimu juga. Aku tetap menanggung luka-luka dari kedurhakaan di dunia.”

Saya tidak bisa melihat-Nya. “Tidak apa-apa, Anna,” Ia berkata. “Tidak apa-apa.” Ia menarik kedua tangan saya pada-Nya dan membantu saya bangun. “Tatap Aku, Anna,” Ia melanjutkan. Dia sudah berubah dan sekarang terlihat seperti biasa saya melihat-Nya. “Aku adalah baik yang engkau lihat dan apa yang engkau lihat dulu. Engkau perlu tahu bahwa engkau menikahi keduanya, satu tetapi keduanya.”

“Saya tidak tahu harus berkata apa,” bisikku. “Tak perlu berkata apa-apa,” Ia berkata. “Adakah yang harus dikatakan? Tetapi engkau perlu mengenal Aku sebagai keduanya sehingga engkau tidak menikah membabi buta.”

“Apa artinya ini?” saya bertanya. “Dia yang adalah satu berbagi semua,” kata-Nya. “Engkau berharap minum lebih dalam, untuk berbagi sepenuhnya, untuk mengenal bahkan sebagaimana engkau dikenal. Ini juga adalah bagian dari pengenalan, berbagi, menjadi satu. Tidak banyak yang berbalik dari keinginan diri sendiri untuk mencari keinginan Tuhan. Tetapi barang siapa yang dipanggil dan dipilih untuk hidup dalam Tuhan berhasrat untuk berbagi penderitaan ketuhanan.”

Hal itu membuat saya membisu. Ia melanjutkan, “ Aku sadar bahwa engkau syok. Karena itu Aku tidak akan meminta engkau sekarang untuk mau berbagi penderitaan-Ku, kesedihan-Ku.” “Tuhan,” saya berkata, berusaha menghadapi kenyataan dari apa yang saya sudah lihat, “Buat aku bersedia. Saya ingin menjadi satu dengan Engkau. Saya tidak akan menyangkali Engkau, maupun akan berbalik dari Engkau karena ada kesedihan untuk ditanggung – asalkan kita bersama-sama.”

“ Engkau serius dengan hal ini?” Ia bertanya. “Ya, Tuhan,” saya menjawab.“Lihatlah,” Dia berseru, berbalik menghadap pohon kehidupan dan menunjuk ke arahnya.

Roda Api

Sebuah cincin emas raksasa mulai berputar di depan kami. Ini setinggi roda Ferris yang menjadi bagian dari World’s fair exhibitions (pameran dunia) di bumi. Ia berputar cepat, meledak menjadi api yang menyala. Saya menyadari bahwa api itu adalah serafim yang berapi-api, ratusan, bukan, ribuan, dari mereka. Api mereka begitu kuat seperti api las. Tapi sosok yang mirip dengan manusia merupakan inti dari setiap obor. Setiap serafim memiliki enam sayap. Dengan dua sayap mereka menutupi mata mereka, dengan dua saya mereka menutupi kaki mereka, dan dengan dua sayap mereka terbang. Sebuah musik yang unik dan murni datang dari tengah-tengah mereka.

“ Siapa yang akan naik ke roda api?” serafim memanggil. Mereka memiliki suara yang aneh, seolah-olah kata-kata mereka melewati beberapa media yang kita tidak biasa dengar di bumi.” Saya sadar bahwa saya membutuhkan kedewasaan rohani yang lebih besar daripada yang sekarang saya miliki jika saya memiliki hasrat untuk berbagi beban Allah. Saya tidak tahu apakah ini akan berarti. Tetapi ternyata api ini adalah langkah pertama jika saya mengharapkan kedewasaan seperti saya berpaling kepada Yesus,”Saya ingin naik roda, Tuhanku.”

Ia tersenyum. “Kita akan naik bersama-sama.” Saya memanggil serafim, “Kami akan naik.” Yesus memegang tangan kanan saya, dan kami mulai maju. Semakin dekat kami datang ke roda, lebih panas bertambah pada api dimana roda dibakar. Suara ribuan api las begitu menakutkan. Tetapi menembus api saya dapat mendengar sebuah penyembahan Tuhan yang begitu murni sehingga mengejutkan indera saya.

Ketika kami tiba di roda berapi, seorang serafim memanggil kami untuk masuk ke api. Serafim itu berbicara pada saya . “Beberapa ingin naik cincin api. Mereka ingin cincin emas tetapi tidak cincin api.” Saya menatap Yesus. Kemudian berpegang erat pada tangan-Nya, kami berdua memasuki api. Ini sangat panas diantara serafim yang menyala.

Seorang serafim memberi isyarat pada kami untuk duduk. Kami melakukannya. Roda mulai berputar. Kami pergi seolah-olah cincin api itu adalah roda Ferrish yang besar.

Pelayanan Para Serafim

Yesus berkata, “Serafim ini akan melatihmu dalam kekudusan yang akan membawa ibadah yang murni, kekudusan terbakar seperti obor, terus menerus pada fokusnya. Jika engkau mau memberi diri pada pelayanan hamba ini, engkau juga akan menjadi seperti api dan membakar seperti obor cinta dan kemurnian untuk Allahmu.” Ia melanjutkan, “Api ini untuk semua. Belajar untuk hidup dalam api dengan mengijinkannya membakar semua yang tidak akan melewatinya sebagai kemurnian-Ku. Belajar untuk mencintai api Tuhan.”

Batu bara menyala

Seperti roda naik, tampaknya seolah-olah saya bisa melihat seluruh alam semesta – melebihi dari luar. Sesosok serafim terbang ke arah saya dengan batu bara hidup dan meletakkannya di bibir dan lidah saya. Api membakar seluruh wajah dan turun ke tenggorokan masuk ke dalam hati saya. Serafim berkata, “Biarlah kata-katamu sedikit dan hanya datang dari tahta.”

Tebu dan Kayu manis

Bau tebu dan kayu manis begitu tajam di dalam api. Saya tahu bahwa Tebu berarti tegak di hadapan Allah. Kayu manis berbicara bau kekudusan yang sebelumnya datang dari hati yang murni. Tuhan, kesucian hati.

Nyanyian Serafim

Ribuan serafim bernyanyi:

Biarlah semua yang di surga, biarlah semua yang di bumi menyatakan namaNya yang kudus

Biarlah semua yang di surga, biarlah semua yang di bumi Mengatakan Kemuliaan dan kemasyuran-Nya

Sebuah dinding api melingkupi hati kita,

Sebuah dinding api melingkupi pikiran kita,

Sebuah diniding api melingkupi kaki kita,

Kudus adalah Nama-Nya.’

Saya menatap Yesus. Semakin mereka bernyanyi, semakin banyak cahaya tertuang ke kulit-Nya. “Kulit-Mu,” saya berkata, “begitu……berbeda. Ini seperti cahaya kuat datang dari situ.”

Mereka yang Ditarik Mendekat

“Cahaya menembus kulit-Ku,” Ia berkata. “Tetapi Anna, cahaya dapat menembus kulitmu, bagi mereka yang mendekat pada-Ku adalah pembawa cahaya. Semakin dekat mereka datang, semakin banyak cahaya menembus kulit mereka kepada orang lain.”

“Seperti Musa?’ saya bertanya. Saya berkata pada diri sendiri tentang bagaimana hidupnya menjadi terpisah. Musa pergi sendirian ke Kemah Pertemuan, sendirian ke puncak gunung, sendirian dengan kerudung di wajahnya karena kemuliaan Tuhan di atas wajahnya. Tuhan membaca pikiran saya.

“Ada pemisahan yang terjadi, Anna. Sebagaimana seseorang ditarik mendekat pada Allah, ada pembakaran yang melenyapkan kesuraman atas mata pikiran dan mata hati. Untuk ini dunia kehilangan gemerlapnya. Kecerdikan manusia menjadi sebuah kacamata tembus pandang yang hanya menyebabkan orang untuk berbalik dengan desahan kembali kepada Allah.”

Ia melanjutkan, “Ketika Kebenaran datang, yang mana salinannya, tetapi sebuah titik ulang dari seluruh kemegahan, tidak dapat menahan keinginan orang tersebut. Tuhan sendiri yang dapat menangkap roh, hati, jiwa dan tubuh mereka.”

Penyembahan

Sementara roda berapi mencapai puncaknya, Yesus mulai memuji Bapa. serafim membakar lebih terang dalam meresponi pujian-Nya. “Ya Bapa yang tiada bandingnya, siapa atau apa yang seperti Engkau? Alam semesta yang luas ini berdiri dalam keberadaannya oleh kuat Kuasa-Mu. Setiap rambut dihitung karena belas kasih-Mu yang lembut. Siapa seperti Engkau, Bapa? betapa mengagumkan dalam keagungan! Betapa setia dalam perjanjian! Tak tertandingi dalam keindahan! Diberkatilah mereka yang mendekat pada-Mu. Diberkatilah mereka yang berlindung pada-Mu. Mereka selamanya akan memuji Engkau dan melayani-Mu dengan hasrat dari hati-Mu – kasih tak terbagi, membakar semangat dalam kekudusan, hanya untuk Allah saja. Dan mereka yang mendekat, mereka yang masuk, mereka tidak akan pernah keluar lagi.”

Kristus Berubah

Dia berubah menjadi pujian murni di depan saya. Seolah-olah Ia tidak bisa mengendalikan diri-Nya sendiri. Sekali dimulai, Ia hanya dapat masuk lebih dalam lagi, menyatakan kasih-Nya yang lebih bergairah, terbakar lebih kuat. Gairah dari keinginan-Nya datang dari pengenalan yang sempurna. Itu adalah cinta dan pujian yang muncul dari pengenalan seperti itu bahwa hanya persatuan yang sempurna dapat membawa seterusnya.

Ketika saya melihat, Dia telah masuk ke dalam sukacita yang luar biasa dari cinta dan gairah yang sulit untuk saya mengerti. Intensitas dan kemurnian ekspresi-Nya – keseluruhan-Nya – menyedot semangat untuk Bapa-Nya – begitu jauh melampaui pemahaman saya bahwa itu kesemuanya “yang lainnya.”

Ia terbakar dengna sinar laser putih. Dengan bersama-Nya, saya dibawa lebih jauh dalam hasrat saya sendiri dan semangat untuk Tuhan. Hal itu seolah-olah botol pualam yang hancur sehingga bau minyak narwastu yang mahal naik spiral ke atas. Ia menjadi murni, cahaya yang tidak dibuat.

Akhirnya, api putih dari hasrat-Nya untuk BapaNya mereda, seperti intensitas cahaya kuat yang dikurangi. Ia menjadi Tuhan yang dapat saya pahami. “Cintai Tuhan, Anna.” Ia berkata. “ Ia telah mengundangmu ke dalam hati-Nya. Jangan perlakukan hal ini seperti undangan sepele.”

Meninggalkan Taman

Roda api berhenti di puncak rotasi. Tiba-tiba Yesus menjadi elang putih. “ Naik ke punggung-Ku,” Ia berkata. Saya melakukannya, berbaring dan meletakkan lengan di leher-Nya seperti yang telah saya lakukan berkali-kali. Kemudian dari atas roda, Ia mulai terbang.“Waktunya telah tiba,” Dia berkata.

______________________________________________________________

Bab Tujuh

Lembah Bayangan Kematian

 

 

Elang putih besar menerobos kegelapan. Saya berpegang pada-Nya dengan segenap kekuatan saya, membenamkan wajah saya di bulu-bulu-Nya dan menjaga mata saya tertutup rapat. Dengan semua hal itu, saya berkonsentrasi untuk berpegangan pada-Nya.

Meskipun terjun adalah hal yang mengerikan seperti jatuh bermil-mil secara vertikal, seperti meluncur dilumuri minyak, elang putih mendarat dengan lembut di kandang domba di langit kedua. Tempat ini gelap, lembab, dunia roh diisi dengan setan-setan dari gua persembunyian yang besar. Ini adalah markas setan-setan.

Kandang Domba

Wilayah ini adalah territorial rohani yang jahat, Tuhan kita mempertahankan sebuah pos terdepan-Nya, kandang domba. Ini tempat yang aman untukNya sendiri. Sebuah dinding batu menutup area yang terlindung. Bagian atas dinding tertutup duri, bila itu bisa jadi benar-benar kandang domba di gurun. Tempat yang tertutup, walaupun terbuka, tempat tinggal dan satu bangku kayu diantara dinding. Hanya ada satu gerbang masuk ke area yang dilindungi. Meskipun dikelilingi kenajisan yang merusak, kandang itu tetap tak terjamah.

Persiapan

Elang putih menjadi Yesus. Anehnya, Ia tak berkata apa-apa. Sebaliknya, Dia memberi saya sepasang sepatu berbentuk lumba-lumba bercat merah. Saya telah mengenakan sepatu ini sebelumnya ketika Tuhan membawa saya ke wilayah ini. Sekarang saya duduk seperti badut di bangku dekat gerbang dan mulai memakai sepatu itu pada kaki telanjang. Saya bingung.

Dia juga duduk dan mulai mengenakan sepasang. Sementara Ia mengenakan sepatu, Dia berbicara. “Aku bertanya sekali sebelumnya, Anna, dan sekarang Aku bertanya lagi: percayakah engkau pada-Ku?” “Ya, Tuhan,” saya menjawab. Jawaban saya berikan dengan jaminan kurang dari pertama kali Ia bertanya. Saya menyadari bahwa sebelumnya saya tidak menghidupi harapan saya sendiri. Sekarang, setidaknya sebutir kerendahan hati telah disempurnakan dalam diri saya dari pengetahuan yang lebih besar tentang kelemahan saya sendiri.

“Aku membutuhkan engkau,” Ia berkata sebagaimana Ia bangkit berdiri di kaki-Nya. Tongkat gembala-Nya muncul di tangan kanan-Nya. Dengan tangan kiri-Nya, Ia mengulurkan tangan untuk membantu saya bangun. Ia tampak serius. “Ketika kau di sini sebelumnya, Saya memperingatkanmu untuk tak menyentuh apapun. Sekarang Aku minta engkau tidak mengatakan apapun. Berjalan lurus di depanmu, dan ketika diminta, lakukan hanya apa yang Aku perintahkan.” Ia mencari wajah saya. “Anna,” Ia berkata, “hati-hati mengikuti petunjuk-Ku.” Ia berkata dengan nada yang tenang yang sangat pasti, mungkin fatal, berbahaya.

Saya mengangguk. Tarikan kata-kata-Nya membuat sebuah jawaban yang terdengar mustahil. Seperti Dia membuka gerbang, Ia menghembuskan nafas seolah-olah memusatkan Diri-Nya sendiri sebelum sebuah percobaan. Kami pergi keluar. Gerbang itu tertutup di belakang kami. Saya merasa gugup. Saya mengikuti jejak-Nya, berpegangan pada bagian belakang jubah-Nya.

Turunan

Saya berharap untuk melihat apa yang sudah dilihat sebelumnya ketika kami mengunjungi tempat jahat ini. Ternyata tidak. Sebaliknya kami memulai sebuah turunan gelap. Saya dapat merasakan sesuatu meluncur melewati kaki saya di jalan. Reaksi sederhana yang tiba-tiba membuat saya mencoba untuk mengeluarkan kaki saya dari jalan. Setelah mata saya terbiasa dengan kegelapan, saya dapat melihat dengan cahaya yang memancar dari Yesus bahwa ular itu merayap di seluruh lereng basah.

Sesaat saya terpaku, kehilangan pegangan saya pada baju Tuhan. Saya tidak bisa memanggil-Nya. Semua yang dapat saya lakukan adalah bergerak maju. Dengan cahaya-Nya saya dapat melihat ular-ular melarikan diri dari Yesus. Tapi apakah mereka melarikan diri dari saya?

Semuanya dalam diri saya jadi terpisah-pisah. Saya tahu bahwa saya harus memusatkan perhatian saya. Saya berhenti melihat ke bawah. Sebaliknya saya menetapkan mata saya pada Tuhan.

Sekarang saya tidak dapat melihat ular-ular, tetapi tetap saya dapat merasakan mereka merayap melewati saya. Saya berjalan tersendat-sendat. Setiap bagian tubuh saya tegang, hampir kaku.

Ujian Jiwa – Emosi-emosi

Tiba-tiba saya mendengar suara yang tidak asing. Itu adalah anjing kami yang menggonggong senang, sebagaimana jika ia mendengar saya datang. Kami mengangkat anjing ini dari saat ia seekor anak anjing. Dia begitu dicintai.

Secara naluri saya menolehkan kepala ke arah datangnya gonggongan. Sesaat saya, bagaimanapun, saya menghentikannya kembali dan menetapkan mata saya pada Yesus. Saya tahu bahwa kegelapan dan lereng yang licin memecahkan konsentrasi saya. Saya mencoba tetap menjaga perhatian saya terpusat.

Kemudian saya mendengar sebuah kendaraan yang cepat datang di depan suara gonggongan sambutan anjing. Roda-roda kendaraan berderit, seperti membuat perhentian mendadak. Ada sebuah tabrakan, bunyi gedebuk memuakkan, dan kemudian suara anjing mendengking seolah-olah ia telah dipukul.

Saya berhenti lagi, mengatur nafas yang terengah-engah, telinga saya berusaha untuk mendengar lokasi suara. Kedengarannya seolah-olah anjing itu menangis kesakitan. Tetapi karena sayangnya pada saya, ia masih berusaha menyeret dirinya pada saya. Itu merobek hati saya.

Lalu saya mendengar ibu saya menangis. Suaranya terdengar dekat di dengking si anjing. “Tolong!” serunya. Nafas saya hampir berhenti saat saya berusaha mendengar. Saya tidak bisa memanggil Tuhan.

“Tolonglah anjing itu, Anna!” suara teriakan keluar dari ibu saya. Tiba-tiba emosi saya, yang telah tersebar seperti seekor burung ketakutan yang dilepaskan dari kandang, membentak menjadi kejelasan yang membaja. Setan telah berlebihan mempermainkan tangannya. Suara yang terdengar seperti ibu saya telah memanggil saya “Anna.” Ibu saya yang sesungguhnya tidak akan memanggil saya seperti itu karena di bumi ibu dan ayah saya menamai saya Ann.

Segala sesuatu terjadi begitu cepat sehingga saya tidak memiliki waktu untuk berpikir. Setan telah menghadang pikiran saya dan mengikat emosi saya. Tetapi itu adalah sebuah kebohongan…kebohongan!

Pemulihan

Saya mulai bergerak maju lagi dengan langkah kecil, kaku. Dengan pengakuan pada penipuan, suara itu berhenti. Tetapi saya terguncang pada emosi saya yang robek. Yesus berada di depan saya, tetapi jarak di antara kami melebar. Saya perlu bergerak lebih cepat untuk mengejar ketinggalan dengan-Nya. Dalam hati, saya mulai mengutip Alkitab.”Kecuali anda membenci ayah dan ibu…,” saya berkata, berusaha untuk bergerak lebih cepat.

Ujian Jiwa – Pikiran

Tiba-tiba ular kecil menjadi besar. Saya bergidik, “Ya Tuhan!” saya berharap Yesus akan berbalik. Ular ini memiliki huruf di atasnya, simbol atau rumus. Satu ular raksasa menjulang ke atas untuk melemparkan dirinya pada saya, untuk menjatuhkan saya. Saya tahu bahwa jika ia menjatuhkan saya, ular itu dapat melilit dengan sendirinya melingkari saya dan memeras kehidupan keluar dari saya.

“Ramalan,” saya berkata pada diri sendiri. “Sihir, ilmu sihir, ilmu hitam yang kuat.” Syok dan ketakutan mengacaukan pikiran saya. Saya tidak berani berteriak atau menghindar dari terjangannya. Lereng menjadi curam dan licin. Saya tidak tahu apakah saya bisa menjaga pijakan saya. Ular itu menerjang, nyaris kehilangan saya. Kemudian tiga atau empat ular menjulang pada waktu yang sama untuk menerkam. Saya membeku di jalan, ketakutan.

Tiba-tiba, mutilasi mengerikan terlintas dalam pikiran saya dalam pergantian yang cepat. Seolah-olah saya dipotong-potong dalam perutnya. Gambar mengerikan siksaan menyerbu saya, bercampur dengan penglihatan dikuburkan hidup-hidup atau jatuh dari pesawat.

Malaikat terang

Dengan cepat gambar-gambar mengerikan itu menghilang di depan mata saya. Di tempat ular besar menjadi raksasa, mahkluk iblis, berpakaian mewah.

Mereka berbicara kepada saya, “Ada kekuatan yang lebih besar daripada yang pernah kau impikan untuk memilikinya. Kekuatan,” mereka berkata bersama-sama. “Kau dapat memiliki apapun yang kau inginkan. Kau dapat mengambilnya dengan kekuatan ini.”

“Mereka harus menunjukkan mutilasi yang akan terjadi jika saya menolak tawaran mereka yaitu kekuatan iblis,” saya berkata pada diri sendiri. “Mereka ingin menakuti saya, melumpuhkan pikiran saya.” Saya meneguhkan diri sendiri. “Saya tidak akan takut pada mereka.” Saya beranjak sejengkal demi sejengkal. Saya tidak akan mendekat. Saya mulai mengulang, “ Bukan dengan keperkasaan, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku,’ demikianlah firman Tuhan.

Setan-setan besar berada tepat di depan saya. Saya bersiap-siap dan terus bergerak maju. Hebatnya, saya lewat tepat melalui mereka. Saya bingung.

Pemulihan

“Mereka adalah hantu,” saya berkata pada diri sendiri. “Tidak nyata sama sekali. Mereka adalah trik pikiran.” Saya tidak ingin kehilangan pengertian yang jelas ini, yang mana setan sudah mengatur untuk mengambil kejelasan dan perspektif dari saya di tempat ini. Sejak saya melihat lebih jelas saya mulai mengulang firman Tuhan dalam diri saya lagi. saya bergerak maju lebih cepat sekarang dengan pikiran yang telah diperbaharui. Saya tidak berani memanggil Yesus. Saya perlu mengingatnya.

Namun, Yesus mulai bergerak maju lebih cepat daripada yang saya bisa ikuti. Dia menghilang ke dalam kegelapan lembah di depan saya. Saya ingin berteriak dan lari kepada-Nya. Tapi saya ingat nasihat-Nya.

“Sesungguhnya Ia akan merasakan bahwa saya telah jatuh di belakang,” saya berkata pada diri sendiri. “Pasti….,” saya mengulang dalam kepanikan.

Ujian Roh – Keinginan

Saya terus menempatkan satu kaki di depan yang lain. Sekarang, bagaimanapun, saya berada di kegelapan total – hitam, tanpa cahaya, tidak ada suara, tidak ada apa-apa.

Kegelapan menakutkan. Hal ini seperti teror yang membuat anda ingin berteriak hanya untuk meredakan ketegangan yang anda alami. Saya merasa bahwa saya tercekik tanpa bisa melarikan diri. Kejahatan menekan saya.

Saya mulai berbicara pada diri sendiri, berusaha untuk berpegang teguh pada ukuran kewarasan. “Setiap menit saya akan melihat cahaya-Nya di depan saya,” pikir saya.

Tidak, tidak ada. Saya meraba-raba dengan kaki saya di lereng berbahaya. Saya harus tetap tegak. Saya sendirian. Saya tidak bisa merasakan kehadiran-Nya sama sekali. Saya berdoa dalam diri saya dengan doa yang berat seperti batu. Saya mengutip Firman dalam diri saya. Tetapi tampaknya tidak memiliki kekuatan.

“Ya Tuhan,” saya berpikir, “Jangan tinggalkan saya!” tiba-tiba saya memegang diri saya.”Tidak,”saya berkata pada diri sendiri. “Saya tidak akan menuduh-Nya meninggalkan saya. saya tidak akan merasa ditinggalkan.”

Ketiadaan

Bagi anak Tuhan yang mencintai cahaya, kegelapan adalah menyiksa. Bagi mereka yang terbiasa ke hadirat-Nya, ketidak-hadiran-Nya adalah menyiksa.

Saya berpikir, “Dalam penderitaan Tuhanku di kayu salib, Dia harus menjalani kegelapan ini. Hanya Ia memiliki semua dosa dunia pada-Nya. Setan kejam harus dilepaskan untuk menyiksa-Nya.”

Mereka Mengalahkan”

saya mulai mengakui dalam diri manfaat dari darah Yesus dan kemenangan yang Ia dapatkan, kemenangan melalui tubuh-Nya yang hancur. Saya bersaksi pada diri sendiri – untuk saya sendiri – kewibawaan ditemukan pada-Nya dan kejayaan dimenangkah oleh-Nya.

Entah bagaimana, penghujatan pada Tuhan menjadi lebih keji daripada kebinasaan. Saya tidak ingin meletakkan Tuhan untuk membuka aib. Saya tidak ingin untuk menyalibkan Dia untuk diriku lagi. saya tidak ingin menangis dan tidak taat di tempat ini dimana musuh dapat menang dan mentertawakan-Nya untuk merendahkan-Nya lagi.

“Tidak,” saya berkata dalam, “tidak ada dakwaan. Tidak ada kepahitan. Tidak ada lagi ‘mengapa’. Tidak ada lagi kebutuhan untuk dimanjakan. Dengan kasih karunia-Nya saya akan menjalani latihan di mana Ia memerlukan saya untuk berjalan. Dia…bukan saya. kehormatan-Nya…bukan keselamatan saya. Kemuliaan-Nya, bukan kemuliaan saya. Dia. Dia. Dia saja yang layak. Ia saja yang layak.

“Ya Tuhan,” saya terisak dalam. “Saya sangat mencintai-Mu. Apakah bedanya? Meskipun Engkau membunuhku, namun saya akan percaya pada-Mu. Apa bedanya? Jika saya hidup atau mati, saya milik-Mu. Itu yang terpenting. Saya mencintai-Mu melampaui bahaya atau kekacauan atau kegelapan atau kematian.

Cinta

Tiba-tiba, hati saya retak terbuka. Saya tidak dapat menahan cinta yang sekarang saya rasakan. Saya meledak bebas, dari apa yang saya tidak tahu. Ini seolah-olah cinta karena Tuhan telah melepaskan saya dari penjara, seolah-olah saya telah menarik diri dari dorongan kedagingan. Saya mengasihi-Nya. Saya mencintai-Nya lebih dari apa yang saya inginkan untuk memelihara diri sendiri.

Itu aneh, pengalaman yang menyenangkan. Itu seolah-olah saya dilepaskan dari diri sendiri. Bukan berarti saya tidak menyadari, bahkan, kemudian, salib akan perlu diterapkan pada sifat kedagingan saya setiap hari untuk menahannya di tempat kematian. Tetapi sesuatu telah terjadi. Saya telah dihancurkan bebas.

Tidak lagi menjadi mudah untuk menerima kedagingan. Saya akan perlu bekerja bebas mempekerjakan daging sekarang, padahal sebelumnya itu tampaknya tak terelakkan. Sekarang saya sedang ditarik ke dalam orbit anak Allah. Saya sudah bisa merasakan diri saya bergerak ke arah-Nya lebih cepat. Hukum Roh Kehidupan dalam Kristus Yesus adalah gravitasi baru yang menarik saya ke Tuhan sendiri.

Cinta seperti sungai yang mulai berdesakan melalui hati saya – cinta tanpa hambatan, tidak terbendung, dan tak terbayangkan.

Sebuah titik cahaya

Dengan cepat setitik kecil cahaya muncul di jalan di depan saya. saya hitung bahwa jika cahaya itu yang sedikit ke kanan atau kiri, kegelapan akan menghalangi saya untuk melihat-Nya. Saya terus bergerak maju. Dalam cahaya yang berasal dari Nya berdiri Yesus.

Dia sedang menunggu saya di lembah. Saat saya mendekat, Dia tersenyum dan membuka kedua lengan-Nya. Saya terlihat menutupi jarak antara kami secara supernatural dan dalam pelukan-Nya. Bahkan dalam tangan-Nya saya atidak berani berbicara, karena Dia telah memintanya. Dia juga tak mengatakan apa-apa. Pelukan-Nya mengatakan semua itu.

Dia dalam diri saya, oleh Kuasa Roh Kudus, telah menunjukkan kemenangan-Nya. Musuh tidak melibatkan emosi saya, membuka botol pikiran saya, atau menajiskan keinginan saya. cinta, cinta-Nya, adalah kemenangan dalam diri saya.

Ada sedikit waktu untuk bersuka cita, namun, melewati bahu-Nya saya melihat bangunan hitam yang sangat besar mendiami kegelapan yang basah.

Bab Delapan

Ruang Piala Setan

Yesus memegang lengan panjang saya, mengamati wajah saya. Dia tersenyum, berbalik, dan memimpin jalan menuju bangunan. Suasana di lembah itu merah seolah-olah bangunan itu menangkap cahaya dari kebakaran hutan yang jauh. Itu menakutkan. Ini bayang-bayang panjang di lembah.

Bayang-bayang itu bepergian di atas bangunan sampai mereka menjangkau dua naga marmer hitam besar di puncak. Naga ini saling berhadapan dengan sayap mereka terangkat dan menyentuh seperti kerub di atas tutup pendamaian.

Bangunan itu adalah cemoohan dari tabut perjanjian. Gelap mencekam seolah-olah terbuat dari antimateri. Bagian luar marmer hitam itu basah, dan kelembaban yang menguasainya membuat sulit untuk bernafas.

Laskar bayangan

Ribuan tentara berdiri bahu membahu di keempat sisi bangunan. Mereka mengenakan baju baja kuno yang belum pernah saya lihat. Prajurit ini berkemah di sekeliling bangunan, sama seperti orang-orang Lewi diperintahkan untuk berkemah di sekitar Gurun Tabernakel. Bagaimanapun, tidak satupun dari mereka bergerak ketika kami melewati kawanan mereka.

“Mengapa?” saya bertanya-tanya. Saya menunduk ke barisan mereka untuk melihat apa saya bisa memperhatikan alasan sikap diam mereka. Wajah-wajah dalam helm adalah bayangan. Tetapi mata mereka mengikuti kami.

Saya tiba-tiba teringat bagaimana dua malaikat yang dikirim untuk menyelamatkan Lot telah membutakan sementara mata orang-orang Sodom. Yesus, saya pikir, harus memberi iblis-iblis itu kelambanan. Mereka waspada. Tetapi mereka tidak mampu bertindak. Mereka menyusun barisan mereka seperti tentara tanah liat yang dikuburkan dengan kekaisaran Cina kuno.

Pendekatan

Setelah melewati banyak barisan tentara, Yesus mendekati bangunan. Strukturnya memiliki penampilan makam raksasa. Ketika kami mendekat, saya dapat melihat naga marmer hitam itu bernafas. Begitu pula dengan monyet- monyet marmer hitam yang membentuk hiasan mengelilingi puncak bangunan. Mahluk-mahluk itu melirik ke arah kami.

Pintu ganda yang besar bergeser saat kami mendekat. Pintu itu terbuka perlahan. Setiap pintu sangat berat. Hal itu merupakan gambaran harapan penaklukan setan. Pintu itu diselesaikan dengan bantuan perunggu dan mirip dengan pintu katedral Eropa yang sering menggambarkan kehidupan Kristus.

Bagian Dalam

Pintu terbuka keluar untuk mempersilahkan kami masuk ke ruangan besar tanpa jendela. Bau ruangan itu najis. Ruangan, seperti lembah, tampak diterangi oleh api yang jauh. Mata saya menjelajah sampai ke sebuah tonjolan lis profil dinding yang berat. Itu membentuk sebuah mahkota mengelilingi bagian atas ruangan. Sebuah teks tertulis di atasnya dalam bahasa kuno baji dan segitiga.

Yesus melambaikan tanganNya, dan huruf-huruf itu berubah sehingga saya dapat membaca prasasti itu. Teks itu menyatakan lima “Aku menghendaki” setan yang ia maksudkan untuk kubah diri di atas tahta Allah dan mahkota diri sebagai raja alam semesta. Saya bergidik.

Tergantung terbalik di profil dinding ini ada setengah wanita, setengah kelelawar menyerupai iblis – Lilith, iblis vampir yang berburu di malam hari. Mereka menjijikkan. Saya menjatuhkan pandangan saya dan melihat penyebab bau dalam ruangan. Kotoran kelelawar.

Di atas Display

Meja-meja pajangan mengapit kedua sisi ruangan. Meja itu ditutupi dengan sesuatu seperti beludru hitam. Benda-benda yang dipajang diterangi dengan cahaya dari dalam. Benda-benda yang indah, bukan karena pengerjaan yang indah juga bukan karena bertatahkan permata. Sebaliknya, benda-benda itu tampaknya memiliki beberapa keindahan yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah. Itu milik-Nya, untuk orang-orang-Nya dan mereka gunakan. Sekarang benda tersebut dipajang seperti kenang-kenangan perang. Saya cepat melirik ke atas meja dengan takjub. Ini adalah ruang piala.

Dicuri dari Tuhan

Setiap benda diberi label dengan cap tanah liat. Huruf baji yang sama dan berbentuk segitiga tertulis di cap tersebut seperti di profil dinding. Sekali lagi, Yesus melambaikan tangan-Nya. Bahasanya berubah sehingga saya dapat membaca label.

Di tempat pajangan secara pasti adalah, rebana Miriam, gambar kerja Bezalel untuk para pekerja (pola yang diberikan kepada Musa di gunung), mangkuk janda, berbagai jenis alat musik dengan desain yang kuno, dan seterusnya. Kami melewati benda demi benda yang telah digunakan oleh Allah dengan cara yang ajaib dan kemudian dicuri dari-Nya. Saya hanya dapat memperkirakan bahwa itu dibawa ke kemah musuh karena dosa-dosa umat Allah.

Saya berbesar hati, bagaimanapun, dengan ruang-ruang kosong di meja. Label-label menunjukkan benda yang tampaknya telah diselamatkan untuk digunakan oleh umat Allah lagi. Pedang Goliat yang digunakan oleh Daud hilang. Kecapi Daud telah diambil. Ada ruang kosong dimana setiap bendera telah ditampilkan. Sewaktu kami mendekati bagian belakang dari ruang piala, saya melihat jubah bersulam putih pada baju hitam yang berdiri. Jubah itu berpendar. Setan telah memajangnya sendiri, seolah-olah itu adalah tambahan berharga.

Lukisan

Selain barang-barang ini pada dinding belakang ada lukisan hidup. Di depan lukisan itu lilin hitam dibakar. Cahaya berkedip-kedip dari lilin yang terlihat memberi kehidupan pada lukisan itu sendiri.

Lukisan dimulai pada dasarnya dengan kisah demi kisah siksaan yang brutal dari beberapa umat Allah. Mereka yang tersiksa masih tampak hidup. Lukisan itu sepertinya tidak pernah saya lihat. Itu mirip dengan hologram. Cahaya dari lilin menyebabkan gambar-gambar tampak bergerak maju, sehingga mereka yang menderita terus menderita, sehingga setan mengira meraih kemenangan lagi dan lagi. Biadab.

Tahta Tengkorak-tengkorak

Mata saya menjelajah sampai ke gunung pembantaian ini sekitar sepertiga menuju langit-langit. Disini lukisan mulai menggambarkan gundukan tengkorak. Gundukan ini naik ke tahta tengkorak dimana duduklah kambing- seperti kaki-kaki satir (mahkluk mitologi setengah manusia setengah binatang).

Mahluk bertahta itu memiliki tubuh dan lengan manusia tetapi kepala dan tanduk kambing. Tangan kiri kambing ini memegang gambar dunia. Tangan yang lainnya adalah lokasi untuk dua kunci. Sketsa dari kunci masih di sana, tetapi kunci maut dan kerajaan maut telah hilang dari tangannya.

Lukisan itu berkubah sampai menutupi setengah dari langit-langit seperti kanopi yang menakutkan. Itulah setan, seperti kambing, bertahta di atas tumpukan pegunungan tengkorak manusia. Dia sombong dalam kemegahan yang jahat. Sebagaimana Allah Bapa yang bertahta di atas pujian umat-Nya, setan bertahta di atas kebiadaban pembunuhan dan kekejaman yang sadis.

Rasa dingin cepat menembus saya. kerlip cahaya dari lilin hitam menyebabkan wajah setan bergerak, tampaknya untuk berubah di depan mata saya. mata ularnya memelototi saya.

 

Jubah bersulam

Yesus menyentuh bahu saya. Saya tersentak. Kami mulai berjalan menuju benda hasil perolehan di bagian paling belakang – jubah bersulam.

Jubah itu panjang jatuh ke bawah dengan lengan yang panjang. Desain pakaian itu sederhana. Seorang pria atau wanita bisa memakainya. Kemewahannya terletak pada karya bordir yang diakhiri emas putih dengan kemurnian yang luar biasa. Sulaman timbul dari jubah. Polanya rumit dan sangat indah. Saat saya bergerak sedikit ke depan pakaian, semua warna dalam sinar Bapa tampak bermain di seluruh permukaaannya.

Berat dan ketebalan dari berbagai benang emas tampaknya melambangkan wibawa Tuhan. Jubah ini mencerminkan hal itu seolah-olah sifat tersebut telah dijalin pada pakaian.

Sulaman

Saya tidak tahu bagaimana pakaian ini dapat menjelaskan karakter Kristus. Namun, saya ingin bergerak sedikit ke depan sulaman itu untuk memastikan apa yang ditenun ke kain.

Saya mendapat kesan “hati belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.” Pakaian itu juga mencerminkan “menanggung satu sama lain” dan “saling mengampuni.” Benang yang memiliki bobot terbesar dan paling sering digunakan adalah “cinta.”

Ini adalah bagian dari karakter Kristus yang Paulus sebutkan dalam Kolose 3:12-14. Dia telah mengatakan pada tubuh Kristus yang hidup pada saat itu untuk “mengenakan” pakaian ini. Jika Dia telah memberitahu mereka untuk memakainya, mereka seharusnya memilikinya sebagai milik mereka tetapi tidak memakainya. Saya menyimpulkan bahwa dosa akhirnya telah memungkinkan pakaian itu diambil dari anak-anak Tuhan. Menyedihkan. Kita sangat memerlukannya.

Yesus berbicara kepada saya dengan tenang. Pakaian adalah untuk jiwa dan hati. Ini adalah pakaian dalam diri kita yang terlihat melalui tindakan, melalui keputusan yang mempengaruhi persatuan (kesatuan dalam Kristus).

Ia melanjutkan,”Akulah pakaian dalam diri, baru – yang lain daripada diri sendiri. Yang tertinggi Lainnya adalah Tuhan (Bapa) sendiri – hak-Nya, kebutuhan-Nya,dan keinginan-Nya di atas semuanya. Aku telah membelimu untuk Bapa kita. Aku telah membersihkanmu dan memakaikanmu dengan pakaian kekudusan dan keindahan, pakaian keselamatan dan kebenaran. Anna, kenakanlah dirimu dalam Aku – pakaian keselamatan untuk semua orang (tubuh, jiwa, hati dan roh). Kenakanlah dirimu dalam-Ku, atribut kebenaran yang indah untuk Allah (Bapa).

Saya berbalik untuk melihat jubah. Itu indah. Kebajikan Tuhan yang dijalin pada kain telah membawa tubuh Kristus pada “ikatan kesatuan yang sempurna.” Paulus telah mengatakannya. Bagaimanapun kita memerlukan itu sekarang.

Ia melanjutkan, “Sulaman pada pakaian untuk dikenakan oleh mereka yang menjadi mempelai wanita. Itu diturunkan dalam keluarga Kami. Mereka yang masuk dalam persatuan yang penuh dengan-Ku memakai pakaian ini. Tidak ada yang seperti ini. Ini milik keluarga Kami.”

Saat saya melihat jubah, saya sadar bahwa untuk masuk dalam hubungan yang lebih dalam dengan Kristus berarti masuk dalam perjanjian yang lebih dalam dengan tubuh-Nya. Keduanya tak terpisahkan.

Pemulihan

“Dengarkan Aku hati-hati,” Yesus berkata lembut. “Aku ingin engkau mengambil pakaian ini, lalu cepat-cepat naik ke punggung-Ku.” Tanpa ragu-ragu Dia meletakkan tangan-Nya di atas rak pakaian beludru.

Saya tidak punya waktu untuk berpikir. Seketika saya taat dan mulai mengambil jubah. Makin saya melepas pakaian, makin sulit Ia menekan bagian atas rak. Saya kira Dia mengganti rugi beberapa berat kemuliaan di dalamnya. Ia terus menekan bagian atas rak sementara saya melipat jubah bersulam sehingga bisa dibawa.

Ketika pakaian sudah aman, saya melihat Yesus. Dia mengerlip tersenyum, mengedipkan mata pada saya, dan kemudian menarik tangan-Nya dari rak.

 

Pelarian

Jeritan, sirene, dan alarm berbagai jenis banda segera muncul bersama-sama. Semua batasan telah dihapus dari segala sesuatu dalam dunia ini. Dengan cepat Tuhan menjadi elang putih. Dengan gugup saya bergegas ke punggung-Nya.

Setan-setan kelelawar vampir membuka sayap mereka yang besar. Mata mereka merah darah. Mereka mendesis melalui mulut bertaringnya. Mereka gila karena marah.

Pintu-pintu di depan ruang piala mulai tertutup. Elang putih harus terbang dengan sayap-Nya tegak lurus ke lantai untuk melewati bidang terbuka yang sempit. Saya mengencangkan lengan dan kaki memeluk-Nya, menekan jubah di antara tubuh rata saya dan punggungnya. Kami melewati bidang terbuka seperti satu kesatuan. Dengan teriakan membakar segala sesuatu – kelelawar, monyet, naga, tentara- membuat mereka terjaga.

Tampak seolah-olah segala sesuatu di lapisan yang jahat bernafas turun di atas kami, mengejar – melengking, menjerit, memekik, hiruk pikuk suara darah mengental muncul di belakang kami. Mereka adalah raksasa hiruk-pikuk.

Naga marmer terenggut bebas dari puncak bangunan dengan semua pecahan dan robekan yang menyertai sebuah struktur yang sedang tercabik-cabik. Monyet-monyet marmer hitam dengan kasar bebas lepas untuk bergabung dalam perburuan. Lilith dan tentara bayangan mengejar dengan cepat. Baik yang berkuku, bersayap, bercakar, terbang atau naik di udara, mereka menekan kami. Mereka adalah gerombolan pembunuh hiruk-pikuk dan marah.

Dengan cepat iblis dari tempat lain di langit kedua bergabung dengannya dalam pengejaran. Seluruh langit kedua terdengar seperti sesuatu yang berbahaya, hewan yang terluka. Teriakan dingin sampai ke tulang yang naik dari tempat itu membuat darah saya dingin. Mengerikan.

Saya melekat pada elang putih. Itu adalah perjalanan liar. Liar!…tapi menggembirakan. Saya menolehkan lagi kepala saya, menghirup udara dan tertawa diam-diam. Biarkan mereka mengaum. Itulah semuanya, suara gemuruh. Aku bersama Yesus, dan Yesus meraih kemenangan! Biarkan mereka mengaum!

 

Saffron dan Kulit Lokan

Tiba-tiba lepas wewangian dari saffron dan onycha. Lebih mahal dari emas murni adalah wangi saffron yang datang dari tunangan Tuhan, yang melambangkan iman. Kulit Lokan berarti “mengaum,” tetapi itu adalah auman berwibawa dari singa suku Yehuda. Wewangian tak ternilai ini dilepaskan di bagian tengah surga untuk dipertunjukkan mengatasi kemenangan Tuhan.

Penerbangan

Elang putih terbang ke kandang domba. Sepatu lumba-lumba saya jatuh dari kaki saya sementara Ia menukik melewati gerbang tunggal dan mulai naik ke atas. Setan-setan di luar tembok meratap dengan marah. Mereka akan dihukum karena membiarkan pakaian itu diambil. Baik mereka dan kami mengetahuinya. Tuhan terus terbang ke atas. Ada kekuatan yang besar dalam hentakan sayap-Nya. Keributan seperti suara binatang menjadi kurang jelas saat kami menarik diri menuju langit ketiga.

Sementara terbang Ia berbicara keras pada saya sehingga saya dapat mendengar-Nya. “Engkau akan mengenakan jubah ini, Anna. Ini sudah dikembalikan ke rumah Bapa kita. Sekarang banyak orang akan mengenakannya.” Dengan kekuatan yang besar Ia terus naik ke atas. Hampir tertawa Dia berteriak pada saya,”Sesuatu yang tua.”

______________________________________________________________

Bab Sembilan

Sesuatu Yang Dipinjam, Sesuatu Yang Biru

Dengan cepat, elang putih terbang ke ruang tahta di surga ketiga. Sebagaimana Ia turun ke lautan kaca, saya memperhatikan bahwa tidak ada seorangpun yang tampak kecuali Bapa Surgawi saya. saya tahu bahwa yang lainnya seharusnya berada di sana, tetapi saya tidak dapat melihatnya.

Saya menuruni punggung elang putih. Seketika, Ia menjadi Yesus. Dia meraih pinggang saya, mengangkat saya dan memutar saya beberapa kali. Ia tertawa. Saya juga tertawa. Kami terengah-engah karena kegembiraan ketika Ia menurunkan saya.

Menyajikan Jubah

“Ayo,” Ia tersenyum, sambil menunjuk Bapa. Dia menaruh tangan kiri-Nya di belakang pinggang saya untuk menemani saya ke depan. Saya masih memeluk jubah ketika saya mendekati tahta. Yesus menyatakan bahwa saya harus menyerahkan pada-Nya, dan saya melakukannya. Tuhan mengangkatnya, membiarkannya terjurai panjang penuh dalam segala keindahan berkilau kemudian Ia meletakkannya di lautan kaca di depan Bapa kami.

“Pakaian perjanjian sudah kembali, Bapa,” ia berkata. Kami berdua bersujud di depan-Nya.

“Saya senang,” kata Bapaku. “Taruh di tangan-Ku.” Kami bangkit. Yeus mengangkat pakaian ke tangan cahaya Bapa. Allah Bapa menerimanya, menggendongnya dengan kedua tangan seperti yang dilakukan pada anak bayi. Tangan-Nya menjadi laser yang terang. Pandangan saya dialihkan. Ketika saya melihatnya lagi, pakaian sudah menghilang. “Terima kasih,” Bapa berkata pada saya.

Sesuatu yang Baru

“Sekarang saudari-Ku, mempelai-Ku,” Yesus berkata, melangkah antara Bapa dan saya. dia berbalik ke arah saya. “Lihatlah Aku,” kata-Nya. Saya melakukannya. Bapaku menempatkan tangan cahaya-Nya pada bahu Yesus. Kemudian Yesus mengangkat tangan kanan-Nya ke dahi saya. cahaya ditembakkan dari Jari-jari-Nya sementara Ia menulis pada dahi saya. Itu adalah perasaan yang aneh.

“Aku menuliskan padamu nama baru-Ku,” Ia berkata. “Materai,” kata Roh Kudus, yang telah hadir selama ini. Saya merasa sebuah cap ditekan di atas tempat dimana Yesus barusan menempatkan nama-Nya. Sekarang saya memiliki dua nama di dahi saya. Bapaku menempatkan nama-Nya disana ketika Ia meminta saya untuk menjadi duta-Nya (sekretaris seorang raja).

Yesus tersenyum pada saya.”Sesuatu yang baru,” Ia berkata. “Sekarang engkau memiliki sesuatu yang baru yang akan kamu kenakan selamanya. Engkau ditandai dan dimateraikan, saudari-Ku, mempelai-Ku.” Bapaku menarik tangan-Nya dari bahu Yesus.

Keberangkatan

Yesus memegang tangan kanan saya pada-Nya. “Aku harus pergi,” Ia berkata. “Ketika Aku kembali, Aku akan memberikan keinginan hatimu. Ini, cinta-Ku, akan memeteraikan hatimu.” Ia terus melihat dalam ke mata saya. Dia sangat tampan, begitu indah dalam kekudusan, saat Ia mengambil nafas. “Anna, Aku segera datang,” Ia berkata. Ia mencium tangan saya dan menatap ke mata saya lagi. “Segera,” Ia berkata kemudian menghilang.

Dengan Bapaku

Ada jeda sebagaimana Bapa membiarkan saya untuk menikmati semua yang Tuhan telah katakan pada saya. Akhirnya, Allah Bapa berkata, “Anak-Ku, datanglah kemari.” Ia mengangkat saya dan menempatkan saya pada sandaran tangan dari tahta.

“Anna, yang menjadi cinta Anak-Ku,” Ia berkata, “Aku tidak akan hanya memberi engkau makan dari tangan-Ku, tetapi juga akan memberi makan engkau dari hati-Ku. Kemurnian dan kekudusan bukanlah kata-kata yang menjelaskan kualitas-Ku. Mereka adalah nyata dalam pribadi Anak-Ku. Dia bukan bayangan atau pantulan cermin – tetapi hati-Ku yang dinyatakan.”

Ia melanjutkan,”Roh sendiri akan mengerti hal ini. Oleh sebab roh datang dari Aku dan memahami dengan sendirinya. Roh melampaui semua batasan yang diharuskan di bumi. Mengenal hal ini adalah murni pengenalan karena, sebagaimana dalam pemberian semua hadiah tersebut, pengenalan yang murni datang dari atas.”

Dari tanganNya

Ia mengulurkan tangan-Nya.”Di sini Anna, makan ini. Bukan manna dari atas, Aku memberimu makan dari hati-Ku.” Tangan cahaya-Nya memegang sesuatu ditangan-Nya – tak sesuatupun. Saya dapat melihat tak sesuatupun di tangan-Nya. Saya menatap ke arah wajah-Nya, kemudian kembali ke tangan-Nya.

Tiba-tiba, bagian tengah tangan-Nya muncul nyala api. Api terangkat sangat tinggi, kemudian berkurang menjadi api kecil. Kemudian api menghilang seluruhnya. Di tengah tangan cahaya ada gumpalan kecil yang membara. Itu adalah bara atau cahaya membara (jika cahaya dapat terbakar).

“Makan dari tanganKu,” Ia berkata.

“Saya mencondongkan tubuh dan makan dari tangan-Nya. Bapaku tampak senang. Saya bertanya-tanya mengapa hal ini membuat Ia bersukacita.

Keinginan Bapa

Ia berkata, “Ini adalah keinginan-Ku untuk membangkitkan banyak elang putih, Anna, untuk membangkitkan mempelai yang akan mencintai anak-Ku lebih dari kehidupan jiwanya sendiri. Aku ingin membangkitkan seorang imamat yang akan membakar dupa di lubang hidung-Ku, menghirup masuk sebagai sebuah korban dan bernafas keluar membawa hidup pada orang lain.

“Aku Bapamu. Keinginan terbesar seorang ayah adalah untuk memiliki anak-anak pada siapa ia dapat memberikan semuanya. Aku punya anak layaknya seperti anak tunggal. Tetapi Aku lama untuk membangkitkan mereka menjadi anak adopsi-Ku yang akan ditarik mendekat kepada-Ku dan tidak akan puas dengan yang sedikit. Ketika seseorang rindu untuk makan dari tanganKu, Aku mendapat banyak sukacita.”

Rumah Bapaku

“Anna,” Ia berkata, ”kehidupan dalam rumah tangga ini adalah sebuah kehidupan yang sederhana – makan di sekeliling meja keluarga, mempedulikan anggota-anggota keluarga, sukacita atas kelahiran dalam keluarga, perayaan ulang tahun, berbagi sisi demi sisi pekerjaan. Sederhana.”

Saya memikirkan kata-kata Tuhan, ”Kecuali engkau bertobat dan menjadi seperti anak-anak, engkau tidak akan masuk kerajaan surga.” Seolah-olah kami perlu mencapai beberapa titik jenuh dalam kerumitan sebelum kami siap untuk berubah dan hanya mencari Dia. Ia melanjutkan,” Kemegahan keagungan-Ku terletak pada kedalaman cinta-Ku.”

Sarang di atas

“Bulumu berwarna putih sekarang, elang-Ku,” Ia berkata. “Engkau siap untuk bersarang di atas.” Dia melambaikan tangan-Nya untuk mengijinkan saya melihat sebuah istana gading di atas gunung yang tinggi.

“Ini milikmu, jika engkau menginginkannya,” Ia berkata. “Ini sangat indah Bapa,” Saya berkata perlahan, tidak ingin tampak tidak tahu berterima kasih. “Tapi,” saya tersenyum sedih, “Saya tidak akan pernah ada di sana. Saya akan selalu berada jauh dari rumah karena saya ingin berada di dekat-Mu. Engkau adalah rumah saya, Bapa, sama seperti Engkau adalah rumah kekasih saya. Saya mengambil banyak waktu untuk menyadari hal ini. Tetapi saya tahu sekarang bahwa tidak ada di bumi atau di surga yang saya inginkan. Saya hanya ingin Bapa saya. saya ingin Yesus, saya ingin sahabat saya, Roh Kudus. Jika saya boleh hidup dimana saya akan paling bahagia, mengijinkan saya untuk hidup di tengah bara api di dalam Engkau. Biarkan saya menjadi penyangga di bait Allah saya, tidak pernah keluar lagi.” Bapa saya sedikit menangis sukacita yang murni. “Engkau telah dipilih, “ Ia berkata.

Pohon Gaharu

Tiba-tiba, dilepaskan aroma gaharu. Saya tahu pohon gaharu itu berarti “kemah kecil” (dinamakan demikian untuk keintiman kemah/ruang mempelai). Saya juga telah memilih keintiman. Saya telah memilih kedekatan dengan Tuhan.Saya menghirup wewangian. Begitu juga Bapaku. Itu memuaskan.

Mahkota

Bapa melanjutkan, “Anna, Anak-Ku, engkau akan perlu meminjam mahkotamu untuk upacara. Engkau akan memakainya untuk kesempatan khusus ini. Tapi itu tidak akan ditaruh ditanganmu sampai pelayananmu di bumi selesai.”

Sebuah mahkota emas datang dari Bapa Surgawi. Ia memegangnya lebih tinggi dari garis mata saya. Mahkkota itu memiliki dua permata. Zamrud besar yang Bapa telah berikan pada saya berada di bagian tengah. Zamrud yang sedikit lebih kecil diberikan oleh Yesus berada di samping. Ada tempat dari emas untuk meletakkan perhiasan lainnya. Namun tidak ada batu permata lain yang ada saat ini.

Ia melanjutkan, “Aku sudah menambahkan pada mahkotamu dua puluh empat safir.” Ini segera muncul, mengelilingi zamrud besar di bagian depan. “Terima kasih, Bapa,” kata saya. saya bertanya-tanya bagaimana saya layak untuk permata-permata itu.

Bapaku menjawab apa yang saya pikirkan. “Engkau tidak mendapatkan yang tidak diciptakan.”Ia berkata. “Tetapi engkau dapat bertumbuh (dalam Kristus) untuk mewujudkan yang tidak diciptakan. Sesuatu yang dipinjam,” Dia menambahkan, “Sesuatu yang biru.”

Para Pelayan

Bapaku melanjutkan, “Dua puluh empat bintang mengurus mahkota ini. Mereka akan membawakanmu pakaian perjanjian, mahkotamu, dan kerudungmu. Mereka akan mendandanimu dan mengurusmu pada upacara tersebut.

Saya melihat bahwa mahkota itu memiliki dua puluh empat titik di sekeliling bagian atasnya. Saya bertanya-tanya apakah ada hubungan antara titik di mahkota dan pelayanan malaikat. Tetapi Ia tidak memberi penjelasan.

“Apakah ada yang perlu saya lakukan, Bapa?” saya bertanya. Ia menjawab, “Tidur dengan bunga pacar di telapak tangan dan telapak kakimu sebagai sebuah tanda lahiriah (dari kasih karunia batin). Anak-Ku datang.” Ia berkata. “Bersiaplah.”

Dua puluh empat malaikat yang tampak seperti wanita-wanita muda muncul di laut kaca. Mereka berbaju putih. Bapa memberikan pada mereka mahkota, pakaian perjanjian, dan kerudung. Gaun dan kerudung juga didapat dari orangNya sendiri.

“AnakKu,” Bapa melanjutkan, “Engkau memiliki berkat-Ku.” Kemuliaan-Nya datang dari-Nya dan mencium kening saya. “Terima kasih, Bapa,” saya berkata. Ia mengangkat saya dan menempatkan saya di depan kedua puluh empat malaikat. “Pergi dengan pelayan-pelayanmu,”Ia berkata.

Kami semua menunduk. Kemudian malaikat terbagi untuk memungkinkan saya melewati kumpulan mereka. Mereka mengantar saya dari ruang tahta. Seketika kami berjalan di padang rumput di taman Allah.

Bunga Pacar

Kami berjalan ke pohon kehidupan. Saya terdiam. Saya tidak merasa suka berbicara. Para malaikat juga diam. Acara yang sangat penting terbentang di depan saya. tetapi saya tidak tahu apa itu atau bahkan bagaimana akan terlihat.

Setelah saya mencapai batang pohon, para pelayan menyibukkan diri sendiri memakaikan bunga pacar pasta pada telapak tangan dan telapak kaki saya. udara menggantung berat dengan bau rempah-rempah.

Saya berpegang pada pohon yang anehnya hangat. Saya tidak memperhatikan para malaikat karena saya merasa gugup, terganggu. Berharap dapat mendukung saya, salah satu malaikat berkata, “Bunga pacar adalah rempah-rempah terakhir.” Ini mungkin didaftarkan pada saya bahwa saya telah dibawa melalui persiapan Esther.

Ketika pernyataan itu menerobos kesadaran saya, saya berpikir, “Bagaimana bisa bahwa saya harus masuk dalam kerajaan melalui darah Yesus, dan sekarang sebelum acara penting ini, sebuat tanda lahiriah harus dipakaikan pada saya.” dalam diri saya, saya berterima kasih pada Tuhan karena mengampuni saya. kemudian saya melanjutkan dengan lantang, “Saya minta maaf atas segala dosa yang telah saya lakukan, dan saya memaafkan semua orang untuk dosa-dosa mereka terhadap saya. saya menatap para malaikat. “Dikatakan dalam Firman untuk saling mengaku dosamu satu sama lain.” Para malaikat tampak bingung. Kemudian saya menyadari bahwa para malaikat itu tidak mengaku dosa satu sama lain. Saya mengganti topik. “Apakah ada yang tahu apa yang saya lakukan di sini di pohon kehidupan?’

Istirahat

“Istirahatlah,” seorang malaikat berkata. “Engkau sudah mengalami banyak hal.” Saya tertawa letih, “Ya.” Saya menegaskan. “Tapi saya sangat senang dan gugup.”

“Beristirahat di bawah pohon kehidupan akan memperkuat engkau,” yang lainnya menambahkan. “Kita akan mengangkatmu ke cabang-cabangnya,” kata yang lainnya. Sebelum saya dapat berpikir tentang hal ini, mereka mengangkat saya. mereka mulai membawa saya naik ke atas. Tampak seolah-olah pohon menampung kami, sehingga kami tidak terkait di cabang.

Tinggi di pohon, mereka membaringkan saya dalam sebuah bidang seperti tempat buaian. Sangat nyaman beristirahat di cabang-cabang itu. “Kami akan kembali ketika anda telah beristirahat,” kata seorang pelayan. “Terima kasih,” saya tersenyum pada mereka. Mereka pergi.

Saya berbaring di sana memandang ke cabang-cabang pohon, memikirkan kekasih saya, teman saya. Cahaya lembut dari daun-daun dan buah-buahan menenangkan saya. saya tidak berpikir saya dapat beristirahat. Tetapi saya melakukannya. Sebelum jatuh tertidur, saya mengangkat tangan untuk melihat mereka lagi. saya berbicara pelan, “Wahai Kekasih, apa yang akan terjadi?”

______________________________________________________________

Bab Sepuluh

Pentahbisan

Perlahan pikiran saya beringsut menuju kesadaran. Saya membuka mata. Cahaya yang kuat melayang di depan wajah saya. dalam cahaya itu ada garis dari roh-roh seukuran burung kolibri.

Saya terlalu perasa dari tidur menjadi terkejut. Sebaliknya, saya bingung memperhatikan mereka. Sementara saya melihat roh-roh itu, para malaikat di bawah saya di taman mulai menyanyi. Hebatnya, mereka mendandani batu, bukit, pohon, dan sungai dari Taman Allah.

Nyanyian dari duapuluh empat pelayan

O, mari kita mendengar engkau menyanyikan Allah,

Maha kuasa yang hebat,

yang mana api membakar kekudusan

apakah terlihat dalam AnakNya,

datanglah sekarang, bukit purbakala, beritakan

dan sungai kembali bergema,

dan batu-batu dan rumput dan pohon meledak.

Bersama biarlah mereka menyanyi

Keagungan-Nya lebih dari pada yang mereka dapat katakan,

purbakala meskipun mereka ada

sementara rentang waktu seolah-olah sehari,

Ia, kekekalan

Tetapi biarlah mereka bernyanyi dan biarlah mereka memberitahu

Bagi mereka juga akan menyatakan

Mereka juga akan bertepuk tangan, mereka juga akan menari

Mereka juga akan memuji nama-Nya.

Oh bukit-bukit purbakala, tahukah kamu?

Dan pohon-pohon, akankah engkau bernyanyi?

Dan batu-batu, kebajikan apakah yang engkau memuji?

Dan sungai-sungai, apa yang hikmat bawa?

O, biarlah kita mendengarmu menyembah Tuhan

Menjelaskan lewat penyembahanmu

Melalui perintahmu, mungkin kita juga

Lihatlah dengan tatapan teguh

Semarak-Nya ditanggung kemurnian

Kasih karunia-Nya indah.

Lewat semua yang diciptakan, sampai seperti engkau

Kami menatap wajah-Nya

Lagu berakhir. Saya mengulurkan tangan kanan saya pada roh-roh dalam bola cahaya. Mereka menyebar. Saya duduk. “Anna,”seorang malaikat memanggil saya dari bawah pohon. Saya memandang ke bawa ke wajahnya. Ia seorang dari pelayan. “Kami datang untuk membawamu ke pentahbisanmu.”

Semua dua puluh empat malaikat berpakaian putih mulai naik melalui cabang. Mereka berdiri di udara di dekat persimpangan di pohon tempat saya beristirahat. Mereka tersenyum.

“Halo,” saya tersenyum kembali kepada mereka, berpikir betapa anehnya bahwa apapun bisa berdiri di udara. “Halo,” jawab mereka, berusaha menahan kegembiraan mereka. “Apakah engkau siap untuk pergi?”

“Ya,”jawab saya. tiba-tiba tangan saya ke wajah. Kesadaran telah berdesakan dalam saya. ini adalah waktu yang saya tunggu-tunggu. Tetapi menunggu apa? Dan bagaimana hal ini akan dicapai? “Ya, saya siap,” saya menegaskan keras. Saya tidak ingin mengajukan pertanyaan. Saya tidak ingin mengoceh. Ini terlalu serius dan kasih saya kepada Yesus juga terlalu kuat. Seketika kami berada di kompleks Bait.

Bait

Saya hanya menerima kesan keseluruhan Bait ini, karena saya asyik dengan apa yang terbentang di depan saya. Saya melihat baik sisi dinding maupun langit-langit. Bahwa saya ingat. Saya bertanya-tanya dimana bait ini berdiri, tetapi saya tidak bertanya.

Kolam Pencelupan

Para malaikat mengantarkan saya ke kolam cekung yang berisi air yang beriak. Air mengalir ke dalam kolam dari sumber yang tak terlihat di bawah lantai dan mengalir keluar lagi secara misterius. Jalan masuknya dengan tangga yang memanjang ke bawah permukaan air.

Para malaikat membawa saya ke puncak tangga ini. Kemudian mereka mengitari kolam menahan terpal panjang lenan putih di atas kepala mereka. Tirai yang mudah dibawa ini memanjang dari tangan mereka yang terangkat sampai ke kaki, secara efektif memberikan privasi.

“Saya ingin tahu apa artinya?” Tanya saya dalam. Saya sudah dibaptis setelah menerima Kristus. “Saya tidak perlu menunjukkan lagi bahwa saya telah lulus dari maut ke dalam hidup, kan?”

Sebelum Acara Utama

Lalu saya ingat bahwa mereka yang dikuduskan (sebelum memulai tugas imam) melewati sebuah penyucian. “Mungkin,” saya pikir, “penyucian mendahului semua peristiwa besar dalam kehidupan seseorang, apakah kita tahu atau tidak.”

Meskipun saya tidak mengerti sepenuhnya, saya ingin meresponinya yang muncul dari ketaatan terhadap semua yang saya percaya Tuhan minta dari saya. Saya bertekad untuk masuk ke kolam.

Saat saya mulai mengambil langkah pertama saya dalam iman, jubah saya menghilang. Dengan hati-hati saya menuruni tangga, memasuki kolam. Tinggi air sekitar sedada. Cairan yang jernih, dingin mengalir melewati saya. hal itu menyenangkan. Saya merendahkan diri sepenuhnya di bawah air.

Berkat

Ketika saya muncul, saya merasa didesak untuk memberkati Tuhan dengan suara yang keras. Saya berkata, “Terpujilah Tuhan Allah, yang menyucikan kita dengan air dan firman.” “Ya,” kataku dalam hati, benar-benar kagum dengan wahyu yang diberikan dengan sikap ketaatan, pembersihan yang berkesinambungan.

Saya berbalik dan naik tangga. Para malaikat tetap memegang kain putih di atas kepala mereka. Merek berkumpul dekat di sekitar saya. Bersama-sama kami berjalan menuju altar besar korban bakaran. Saya masih tersembunyi dalam tutup lenan – basah kuyup.

Altar Korban Bakaran

Para malaikat mengelilingi mezbah tembaga, memegang lenan penutup di atas kepala mereka. saya menatap pembakaran batu bara di bawah pemanggangan. Itu panas.

Tidak sesuatupun dipersembahkan di atas mezbah ini karena Tuhan kita adalah korban dari seluruh korban bakaran di atas kayu salib. Saya menatap bara api. Tidak ada yang mengatakan apa yang harus saya lakukan. “Ini seharusnya adalah teka-teki yang jawabannya saya sudah tahu,” saya berkata pada diri sendiri. Saya mulai berpikir. “Jika Yesus sudah membayar harga penuh, maka mezbah korban bakaran bukan tempat engkau pergi. Kamu harus pergi melewatinya.”

Sama anehnya tindakan itu bagi saya, saya mulai berjalan ke depan. Saya lewat tepat melalui mezbah tembaga, batubara, panas, dan semuanya. Luar biasa!

Pemeriksaan

Di sisi lain dari mezbah, suara Bapa berbicara dapat didengar dalam bait. “Apakah engkau bersedia untuk hidup dalam kemurnian hidup, dikuduskan untuk-Ku sendiri?” “Ya,” jawab saya dengan suara keras, “Tuhan menjadi penolong saya.”

“Celana panjang lenan, “Ia berkata. Celana panjang lenan muncul. Saya melangkah ke dalamnya. Saya menduga itu adalah sebuah tanda keselamatan yang telah dimenangkan bagi saya di bumi. Para imam telah mengenakannya untuk menutupi ketelanjangan mereka.

Kembali Bapa berkata,”Apakah engkau bersedia untuk diajar, lembut, lentur – berdiri tepat di depan-Ku?” “Aku mau, Kristus menjadikan hal itu melalui saya,” saya berkata. “Jubah,” Ia berkata. Sebuah jubah lenan jatuh di atas kepala saya dari atas.

Kembali Bapa berbicara keras, “Apakah engkau bersedia untuk menjadi setia?” “Ya, Tuhan,” jawab saya. “Selempang,” Dia berkata. Sebuah selempang mengelilingi saya.

Bapa melanjutkan, “Apakah engkau bersedia bahwa seluruh kepala (mewakili pelihat) dijadikan bagi-Ku sendiri, pikiran Kristus, pandangan Kristus, pendengaran Kristus, membau dan merasa dari Kristus dan respon untuk sentuhan? Apakah engkau bersedia menjadi kudus bagi-Ku sendiri, dengan tudung Anak-Ku di atas kepalamu?” ‘Ya Tuhan,” jawab saya. “Penutup kepala,” Ia berkata. Penutup kepala lenan putih menutupi kepala saya.

Minyak urapan dituangkan di atas kepala saya. Minyak itu turun ke leher baju. Tiba-tiba darah muncul di daun telinga kanan saya, ibu jari kanan, dan kaki kanan. Ini pastinya darah Yesus, karena hanya Dialah satu-satunya darah di surga.

Para malaikat menjatuhkan penutup lenan. Barang itu lenyap dari tangan mereka. dua puluh empat pelayan menunjukkan bahwa saya harus bergerak maju. Mereka tidak pergi dengan saya.

Saat saya bergerak maju, tangan saya yang menengadah menanggung beban dari apa yang telah dimenangkan oleh Kristus di altar salib. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi saya merasakannya dan mengangkat tangan saya untuk melambaikan pengorbanan-Nya di hadapan Bapa.

Saat saya berjalan menuju pintu masuk ke tempat kudus, saya mendengar dua puluh empat tua-tua dan keempat mahkluk mulai bernyanyi.

Nyanyian Dewan Surgawi

Bawa imam-imam pada Allah kita

Ia yang duduk sebagai Raja

Lepaskan kuasa-Mu yang besar pada dunia

Bahwa bumi seperti disurga dapat menyanyikan

Allah Kudus, kesukaan besar kami

Menelan dosa di malam gelap

Mulailah, demi kemurahan, peperangan

Ya Allah, yang awal dan akhir

Pujian pada Raja yang memerintah di tempat tinggi

Sion di atas akan bernyanyi

Kami membawa ke hadapan-Mu mangkuk doa

Persembahan mereka juga kami bawa

Lepaskan materai sehingga mereka dapat berdiri

Buah sulung di atas sini,

Pencucian darah dalam darah Anak Domba,

Pemberian kasih-Nya yang tak terbatas

Mahkota kami kami buang di bawah kaki-Mu

Allah Kekal dari kekuatan

Semua kuasa, kasih, dan keagungan

Semua milik-Mu, Allah besar cahaya

Walau masih berdiri di atas bumi

Biarlah mereka hidup di atas

Bersama kami dalam pujian yang terus menerus,

Menikmati, pada akhirnya, dengan cinta

Biarlah mereka berjalan di tengah bara api

Dengarlah, Yahwe yang besar, doa kami

Biarlah lingkaran selesai

O Raja, luar biasa

Biarlah mereka mendengar dan biarlah mereka berbicara

Untuk menguduskan Nama-Mu yang besar

Biarlah kemuliaan-Mu tampak terlihat

Tetapkan hati mereka menyala

Lepaskan Anak domba untuk membuka di atas

Materai yang memateraikan akhir

Kebenaran dengan cinta yang paling murni

Biarlah berdiam di bumi lagi

Menelan dosa dalam malam paling gelap

Mulailah, demi kemurahan itu, pertempuran

Ya Allah, yang awal dan akhir

Nyanyian mereka berakhir pada saat saya melewati ambang pintu ke tempat suci. Beban dari persembahan sajian diangkat dari tangan saya.

Tempat Kudus

Saat saya masuk ke dalam tempat kudus, saya ditempatkan pada sesuatu yang melambangkan Kristus di sana -terang dari kaki dian emas, seperti halnya roti, anggur, dan dupa di atas meja roti sajian.

Altar Pedupaan

Saya datang ke mezbah pedupaan di depan ruang maha kudus. Karena saya telah melewati mezbah tembaga, saya merasa harus melewati mezbah ini juga. Ini melambangkan pelayanan doa syafaat Kristus.

Saat saya mulai bergerak melalui mezbah, aroma dupa melekat pada saya. Saya terus bergerak maju, mengangkat tangan saya.

Ruang Maha Kudus

Saya melewati kerudung, yang telah dipinjam pada saat kematian Tuhan kita, dan masuk ke ruang maha kudus. Percikan darah dari pengorbanan Kristus sudah ada di atas kursi pendamaian. Asap syafaat-Nya yang harum memenuhi ruangan itu. Rempah-rempah yang tidak terbakar dari pedupaan yang paling kudus bagi Tuhan juga ada. Karena Kristus sudah membayar harga penuh untuk mendapatkan pintu masuk kita kepada Bapa, saya melalui tabut perjanjian.

Pentahbisan

Di sisi lain dari tabut perjanjian, darah Kristus serta pengurapan minyak suci dipercikkan pada saya dan pada pakaian imam. Bapa Surgawi berbicara kepada saya lagi: “Engkau dinobatkan dan ditahbiskan pada-Ku hari ini, Anna, seorang imam untuk selamanya. Ada waktu menutup diri, namun, sebelum engkau menjalankan tugasmu.” Para pelayan kemalaikatan muncul setelah peringatan Bapa.

Berdandan untuk Upacara

Seperti yang Bapa telah katakan, dua puluh empat pelayan membawakan saya jubah perjanjian, kerudung, dan mahkota. Tutup kepala seorang imam masuk di dalam saya (internal). Celana, jubah, dan selempang tetap ada pada saya. sebagai malaikat yang siap mendandani saya, seorang pelayan berkata,”Engkau datang pada kesatuan ini tanpa membawa apapun tetapi pembersihan dari Tuhan, pengorbanan-Nya, darah-Nya, aroma-Nya dan pengurapan-Nya.” Tiba-tiba, kami mendengar bunyi dari sofar yang jauh. “Dia datang!” kata malaikat dengan banyak kegembiraan.Tanduk ditiup lagi.

Dengan cepat mereka menjatuhkan jubah perjanjian di atas kepala saya. baju itu memiliki aroma mur, gaharu, dan kayu teja. Bercampur dengan aroma ini adalah aroma rempah-rempah dari minyak urapan yang kudus, dan taman. Setiap aroma terasa kuat ketika jubah bordir dikenakan. Wanginya dimana-mana.

Saya memperhatikan bahwa telapak tangan saya masih bernoda merah dari bunga pacar. Saya menduga bahwa telapak kaki saya masih bernoda juga. Para malaikat menempatkan mahkota kehidupan yang dipinjam ke kepala saya. bersama-sama mereka mengangkat kerudung yang panjang penuh secara melingkar. Saya berpikir mereka akan melepaskannya dan mengapung turun di atas saya. Sebaliknya, saya menyadari bahwa Bapa surgawi mengerudungi saya dengan kuasa dari Roh Kudus. Sementara turun, Ia mengucapkan berkat atas saya: “Menjadi ribuan dari sepuluh ribu, anak-Ku.”

“Ia datang!” para malaikat penuh semangat. Segera Ia muncul pada pandangan. Dia mengendarai kuda putih yang paling indah yang pernah saya lihat. Kuda itu berderap dengan kecepatan tinggi. Pandangan Yesus mengetuk hembusan nafas saya. ia memakai baju putih, dengan mahkota emas di kepala-Nya. Ia setiap inci adalah Raja dan setiap inci kerinduan dari segala bangsa.

Pengangkatan

Tanpa membiarkan kuda untuk mengistirahatkan langkahnya, Dia meraih saya dan menarik saya ke kuda untuk duduk di depan-Nya. Dengan lengan kiri-Nya Ia memegang saya aman pada diri-Nya. Para pelayan kemalaikatan bertepuk tangan dan melompat, berputar dengan sukacita. Kuda putih mulai menanjak, naik dan naik ke wilayah surga. Ia berlari dengan sayap angin. Itu mulia!

Ketika kami mencapai lautan kaca, kuda putih itu mulai menurunkan-Nya Ia datang ke pemberhentian di belakang ruang tahta. AU dipadukan untuk mengangkat seruan sukacita.

Kemudian memotong seruan, satu-satunya malaikat di dekat tahta mulai bernyanyi:

Diberkatilah Dia yang datang.

Diberkatilah Dia yang datang.

______________________________________________________________

Bab Sebelas

Upacara Pertunangan Resmi

Yesus turun dari kuda putih. Segera, Ia berbalik untuk menolong saya turun. Memegang saya di pinggang, Dia menurunkan saya ke lautan kaca.Saat saya lewat di depan-Nya, Dia menghirup aroma yang keluar dari jubah perjanjian. Dia berkata,”Engkau telah membuat jantung-Ku berdetak lebih cepat, saudari-Ku, Mempelai-Ku.” Sesaat kami berpandangan. Kemudian baik Dia dan kuda putih menghilang.

Pelayan Kemalaikatan

Ke dua puluh empat pelayan kemalaikatan muncul di dekat saya di atas lautan kaca. Mereka menyibukkan diri sendiri mempersiapkan saya untuk upacara. Mereka merapikan pakaian perjanjian dan meluruskan kerudung. Saat mereka bekerja, mereka tersenyum pada saya saat itu untuk meyakinkan saya.

Tiba-tiba saya menyadari bahwa saya menghadapi seluruh kumpulan surga. Kumpulan kemegahan di hadapan saya begitu luar biasa.

Ruang Tahta

Lautan kaca itu penuh sesak dengan para malaikat dan orang yang ditebus. Malaikat juga mengisi atmosfir di atasnya. Setiap orang mengenakan pakaian putih. Ada ribuan berkumpul. Mereka bersinar seperti es pada musim dingin yang cerah. Mereka berkilau. Lebih terang dari mereka semua adalah kemuliaan Bapa. Cahaya putih tajam dari-Nya di tengah tahta terpancar keluar seperti pelangi dengan warna-warna cerah.

Dua puluh empat tua-tua berdiri mengapit-Nya. Para malaikat hadirat-Nya berdiri dekat mezbah pedupaan di depan tahta. Empat mahluk yang penuh dengan mata memperhatikan. Kerub besar di sisi lain tahta mengintip melalui cahaya yang kuat. Tujuh obor yang melambangkan atribut Roh Kudus terbakar lebih terang di depan Bapaku.

Planet dan bintang

Di tengah kemegahan yang menakjubkan ini, gambar planet-planet dan bintang-bintang lewat dalam tinjauan di depan Pencipta mereka. Ciptaan itu sendiri adalah “pasukan warna-warna,”memberi penghormatan pada Rajanya.

Kembali, satu-satunya malaikat bernyanyi:

Diberkatilah Dia yang datang

Diberkatilah Dia yang datang.

Kanopi Cahaya

Bapa Surgawi menjalin bersamaan jari-jari dari tangan cahayaNya. Perlahan Ia mengulurkan tangan-Nya ke atas lautan kaca. Tangan-Nya menangkup menjadi sebuah kubah, sebuah kanopi.

Kemudian Yesus, lebih indah dari semua ciptaan, melangkah di bawah kanopi ini. Dia berpakaian putih dengan mahkota emas di kepala-Nya. Gambar-gambar bintang dan planet-planet berpesta di tempat. Tujuh nyala api berbalik untuk mengelilingi daerah berkanopi. Sekarang Bapa, Anak, dan Roh Kudus dinyatakan bersama untuk upacara.

Yang luar biasa mendebarkan adalah paduan yang perkasa meledak dalam pujian:

Kemuliaan bagi Anak Domba

Kemuliaan bagi Raja

Kemuliaan bagi Tiga dalam Satu

Biarlah cincin puji-pujian!

Prosesi

Dua puluh empat pelayan mulai bergerak maju berpasangan. Ada kekaguman dalam penghormatan mereka. Saya teringat kata-kata dari Mazmur 2:11 :”Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.”

Semakin dekat para malaikat ditarik ke tangan kanopi Bapa, semakin terang mereka bersinar. Saya bisa mengerti mengapa Bapa memanggil mereka bintang. Mereka seperti lampu yang cemerlang atau obor.

Dua malaikat tetap bersama saya untuk membantu saya bergerak maju pada saat yang tepat. Ketika pelayan lainnya sudah menempatkan diri mereka di luar dari tujuh nyala api, para malaikat yang bersama saya memberi tahu bahwa saya sekarang harus bergerak menuju kanopi.

Saya menelan ludah. Saya mulai berjalan ke arah Yesus, merasa sangat kecil diantara majelis yang menakjubkan ini. Saya juga kagum bahwa bintang-bintang dan planet-planet akan menjadi saksi upacara juga. Kemudian seluruh pertemuan mulai bernyanyi. Ketika mereka memuji Allah kita, kegelisahan saya hilang, sebaliknya, hati saya berpacu dengan harapan.

Puji-pujian

Lebih terang daripada ribuan matahari

Adalah Putra Kebenaran

Melalui-Nya segala sesuatu telah dimulai,

Pada siapa segala sesuatu diberkati.

Bersujud di hadapan keagungan-Nya

Bumi diciptakan dari tanah.

Kemuliaan bagi Satu, namun Tiga,

Kemuliaan bagi Allah kita.

Tak terhitung, tak terhitung ribuan

Bersujud di hadapan tahta-Nya

Tak terhitung, tak terhitung ribuan

Menyembah Allah saja.

Ia menciptakan langit dan bumi,

Rencana besar keabadian.

Dengan Firman-Nya, Ia bawa pada kelahiran

Berkat dari tangan-Nya.

KuasaNya tersembunyi dalam tangan-Nya,

Cahaya dalam Anak-Nya.

Membuka pengampunan seperti rentangan

Salam, Tiga dalam Satu yang agung

Rumah Bapa Duniawi Saya

Saat saya terus maju, saya melihat banyak yang saya kenal dalam kerumunan. Beberapa orang kerabat yang telah meninggal dalam tahun terakhir. Ayah jasmani saya berada diantara mereka. tapi mata dan perhatian saya adalah kepada-Nya kepada siapa saya pergi. Saya teringat Mazmur 45:10-11 : “Lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu; maka Raja akan menginginkan kecantikanmu.” Saya merasakan dipindahkan dari rumah ayah saya di dunia ke tempat tinggal Suami saya.

Juga diantara mereka yang berkumpul adalah para malaikat yang ditugaskan untuk saya. beberapa saya tidak tahu. Tapi saya mengatakan bahwa itu adalah malaikat yang ditugaskan untuk membantu saya karena mereka tersenyum lebar.

Rumah Bapaku

Saat saya mendekati rumah cahaya kecil yang dibuat oleh tangan Bapa, saya ingin berbagi perhatian saya. saya ingin berkata,”Ya, ya, saya setuju,” pada ketiga anggota Trinitas. Saya merasa ringan seperti sebuah gumpalan udara. Saya tumpah ruah dengan sukacita. Yesus tersenyum pada saya saat saya melewati salah satu perwujudan dari Roh Kudus yang ditempatkan di sekeliling kanopi Bapa.

Persetujuan Saya

Saat saya melangkah di bawah kanopi, saya tidak bisa lagi menahan sukacita saya. saya mulai berjalan melalui sebuah penerimaan. Gerakan ini seperti tarian megah.

Saya melingkari Yesus tiga kali, satu putaran untuk setiap anggota Trinitas. Sebagaimana saya mengayun lembut diantara obor perkasa dari Roh Kudus, saya meluap dengan cinta untuk ketiganya. Seperti Ribka, saya ingin mengatakan, “Saya pergi dengan Orang ini.” Saya mulai menyanyikan sebuah lagu baru.

Nyanyian Mempelai

Dengarlah, Engkau Penebus mahabesar diberkati,

Jauh di hatiku mendapat ketenangan;

Engkau yang melahirkan aku dari sisi-Mu

Lalu memanggil aku keluar untuk menjadi mempelai-Mu

Aku bersukaria dalam-Mu sendiri,

Dan mengambil hati-Mu untuk menjadi rumahku

Kekasih, sahabat, Penebus, Anak

Suami kekal, membuat kita Satu

Saat Pribadi

Ketika rangkaian ketiga telah selesai, saya mengambil tempat saya di sebelah kanan Yesus. Saya secara umum memberikan persetujuan di hadapan banyak saksi. Ia menatap dalam ke mata saya dan berbicara secara pribadi pada saya :

Tempatkan Aku seperti materai dalam hatimu,

Sebagai cincin materai pada jarimu.

Di bawah tudungNya

Dengan lembut sebuah selendang ritual diletakkan di atas kepala kami. Yesus berbicara lagi, kali ini dengan cara untuk memberikan kesaksian umum untuk semua:

Aku menunangkan engkau pada-Ku selamanya.

Aku menunangkan engkau pada-Ku dalam kebenaran dan dalam keadilan,

Dalam cinta kasih dan dalam kasih sayang,

Aku menunangkan engkau pada-Ku dalam kesetiaan – dan engkau akan mengenal Allah.

Cincin yang Lebih Berharga Daripada Emas

Kemudian mengangkat kerudung saya sedikit, Ia mengambil tangan kanan saya pada kedua tangan-Nya. Ia memegang jari telunjuk kanan saya terbungkus dalam tangan kanan-Nya sementara Ia berbicara: Lihatlah, engkau ditahbiskan kepada-Ku. Sebuah cahaya keemasan mencakup jari telunjuk kanan saya. dari jari saya cahaya menyebar ke seluruh tubuh saya.

Tangan cahaya Bapa menjadi sebuah kepompong yang cemerlang. Selain Yesus, satu-satunya yang saya bisa lihat adalah Roh Kudus yang diwujudkan dalam menara yang menyala. Cahaya itu menjadi bertambah dan bertambah terang. Saya melihat dua papan roda dua elang putih.

Mahanaim

Lalu perlahan-lahan, seperti dalam ritual tarian burung, saya merasa tertahan dalam cahaya yang menyilaukan dan api. Seolah-olah Yesus dan saya mulai bergaya, tarian kekasih. Saya merasa bahwa saya adalah uap yang dapat dihirup, uap yang bisa dibawa ke dalam api dan cahaya.

Ini adalah cahaya yang dapat bernafas. Ini adalah cahaya yang hidup. Ia pergi menembus saya seolah-olah saya tidak ada sama sekali. Saya menjadi satu dengan cahaya – dalam sebuah tarian dengannya. Ini seolah-olah di dalam cahaya dan api, saya juga menjadi cahaya dan api.

Kami menjadi uap – berpadu, berputar, homogen namun berbeda, menyatu tetapi terpisah. Keduanya menjadi satu seluruhnya, kemudian terpisah lagi. Meskipun tarian ini dimulai perlahan-lahan, tarian mulai dipercepat pada kecepatan kilat. Tarian adalah kilat – kilat, api, dan cahaya, mulia secara ekstrim.

Lagu Pengantar untuk Penciptaan

Kemudian, seolah-olah dalam beberapa keheningan yang tertahan, saya mulai mendengar Bapa bernyanyi. Itu seperti suara yang kreatif, lagu pengantar dari hati-Nya yang bernyanyi untuk ciptaan-Nya, dari Dia yang memegang segala sesuatu bersama-sama oleh firman-Nya.

Dia telah memberikan alam semesta suara ini sehingga semua dapat menyanyikannya kembali pada-Nya. Dalam kondisi langka ini, keheningan yang tertahan, saya dapat mendengar suara tunggal yang keluar dari semua ciptaan. Jauh dalam diri-Nya, Tuhan kita, seperti seorang ayah yang mengayun anaknya, bernyanyi penuh cinta untuk alam semesta-Nya.

Saya merasakan kesatuan yang sempurna dalam keTuhanan, keselarasan mereka. Dengan dibawa pada keTuhanan, saya mulai mengalami kesatuan Mereka. saya berbagi dalam kesatuan Mereka. Yesus memberi saya hasrat hati saya. sebagaimana Ia telah bersumpah, dalam ukuran yang lebih besar saya mulai untuk “mengenal Allah.”

Kembali ke Upacara

Dari tempat yang tertahan ini, saya menjadi sadar lagi dalam upacara. Tangan berkanopi Bapa, tujuh obor api, Yesus, para pelayan, para malaikat, dan yang ditebus semua kembali terpusat. Saya sekali lagi di bawah kanopi bersama Yesus.

Sebuah sorak kegirangan datang dari paduan suara. Bersama-sama mereka menyatakan:

Mentahbiskan

Perayaan

Ruang tahta serentak menjadi perayaan. Penari mulai meluncur melewati kami, mengulurkan tangan berharap kami bangkit. Yesus menyentuh tangan demi tangan. Saya tersenyum tapi agak bingung. Yesus memandang ke arah saya.

Kemudian berbicara dengan kasih sayang pada mereka yang meraih ke arah kami, Dia berkata, “Maafkan kami,” Sambil tersenyum, Ia meraih tangan saya dan berkata, “Ayo.”

______________________________________________________________

Bab Dua Belas

Roh Dan Mempelai

Seketika Yesus dan saya berjalan di jalan surga. “Saya sedikit kewalahan,” saya mendesah sedih. Kemudian, berlomba dengan kecepatan yang tak terduga, saya tersenyum, “Orang-orang datang dan pergi begitu cepat di sini.”

Yesus tertawa. Ia melingkarkan lengan-Nya dipinggang saya. “Aku ingin bersamamu secara pribadi sebelum engkau kembali,” Ia berkata. “Mereka akan mengerti.” “Saya ingin bersama-Mu juga,” Saya berkata. Jawaban-Nya membuat saya merasa sangat dicintai. Saya menyandarkan kepala di bahu-Nya.

Terpisah kepada Kristus

Saya memperhatikan bahwa jubah perjanjian dan mahkota emas yang saya pakai telah hilang. Kembali saya mengenakan jubah yang polos. Meskipun saya hampir tidak bisa melihat kerudung, itu tetap ada. Itu lebih berupa sebuah tanda daripada kehadiran yang tampak. Saya merasa bahwa ini tanda menjadi terpisah untuk Kristus. Saya menduga bahwa itu akan terlihat setelah kami sepenuhnya menikah.

Mawar Saron

Jalan yang kami jalani berpuncak di sebuah bukit. Dari sana, bukit-bukit lain terbentang di depan kami. Setiap bukit tertutup dengan mawar Sharon. Gulungan wilayah berwarna merah terang. Kami berjalan dalam keheningan. Saya dapat merasa bahwa ada sesuatu dalam hati-Nya.

Berbagi hatiNya

“Anna,” Ia akhirnya berkata, “pembagian akan datang.” Ia memandang dari atas bukit. “Bagi mereka yang menganut takut akan Tuhan dan mengikuti ajaran-Nya, kebaikan emas-Nya akan tercurah atas mereka.

“Tetapi bagi mereka yang tidak menganut takut akan Tuhan,” Ia melanjutkan “yang menghina ajaran-Nya dan jalan-Nya,maka ajaran & jalan-Nya sudah akan diambil dari mereka. Allah tidak ditiru, Anna, dan jalan kedagingan tidak diampuni.”

Sinar mentari wajahNya

Ia melanjutkan,”Tetapi sinar mentari wajah-Nya akan bersinar pada orang benar. Ia akan melepaskan tawanan bebas. Ia akan memelihara mereka dengan kasih sayang, dan mereka akan memakan lemak dari tanah. Karena Dia adalah Bapa yang memiliki belas kasihan pada anak-anak-Nya, dan Dia tidak akan menyembunyikan mata-Nya dari penderitaan mereka. “Dia adalah dari kekal sampai ke kekal, cinta-Ku, dan kebaikan-Nya membentang sejauh kehadiran-Nya yang tidak pernah berakhir.”

Persekutuan dengan Allah

“Bagi mereka yang menganut ajaran-Nya,” Ia melanjutkan, “Dia akan membuka setiap pintu gudang-Nya. Tidak ada hal yang baik akan menahan-Nya. Mereka akan berenang, mereka akan mengapung di lemak tanah. Mereka akan melangkah dari puncak gunung ke puncak gunung lainnya mengukur warisan mereka dan merayakan kedekatan-Nya yang selalu hadir.”

Ia melanjutkan, “Ia akan mengambilnya tinggi-tinggi. Mereka akan duduk dengan PutraN-ya dan makan malam dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia akan membawa bersama mereka yang takut akan Nama-Nya, dan mereka akan memiliki persekutuan di dalam Dia.”

Yang Tidak Bertobat

“Mereka penipu dan pembohong juga akan bertemu satu sama lain.” Ia berkata, “dan persekutuan mereka akan dengan ayah mereka.” “Mereka yang mencintai diri sendiri lebih dari mereka takut akan Tuhan akan memiliki sifat lama mereka sebagai pendamping mereka. Keresahan dan pembenaran diri akan menjadi pahala mereka. Mereka akan menghadapi pintu tertutup untuk kemuliaan Allah di setiap kesempatan. Rahmat akan membanting pintu di wajah mereka. Dinding antara mereka dan kebaikan Tuhan akan terlalu tinggi untuk didaki, dan mereka akan menghabiskan hari-hari mereka mencari Tuhan sebagai orang buta yang meraba-raba di tanah asing.”

Sebuah Kanopi Kemuliaan

Ia melanjutkan, “Tetapi barang siapa yang berpegang pada jalan-jalan-Nya dan takut akan nama-Nya, sebuah kanopi kebaikan akan menjadi tempat tinggal mereka, kanopi kemuliaan akan menjadi rumah mereka. bahkan sebuah jari kaki akan menyodok jalan dari bawah belas kasihan dan cinta kasih dari Tuhan.” Dia memiringkan kepala-Nya ke belakang seolah memberitakannya di atas bukit.

Proklamasi

“Bersukacitalah, hai orang-orang benar, Allahmu akan datang padamu. Engkau akan berjalan bersama-Nya seperti pada awal penciptaan, dan Dia akan berbagi denganmu sebagai seorang pria berbagi dengan sahabatnya tersayang. Ia akan mengungkapkan misteri-misteri kepadamu dan melempar terbuka portal surga, yang memungkinkan engkau berjalan diantara bintang-bintang. Dari selamanya sampai selamanya, adalah Dia. Dari selamanya sampai selamanya, kebaikan-Nya akan dinikmati oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan. Bersukacitalah, engkau umat Allah. Dia datang kepadamu, terang kemuliaan-Nya bersinar dari wajah-Nya,dan engkau juga akan berbagi kebaikan-Nya dengan orang lain untuk kemuliaan nama-Nya.

Ia melanjutkan, “Bersiaplah, karena Dia datang, dan semua mata akan melihat Dia didalammu (umat-Nya), dan engkau akan tersembunyi, terlindung dalam sayap kasih-Nya – tidak pernah keluar lagi. Biarlah orang benar bersukacita.”

Hidup di atas

Ia berbalik pada saya, “Dan engkau, Anna, engkau telah mulai hidup di atas. Engkau tidak akan lagi memanggil dunia sebagai rumahmu. Ketika setiap hari berakhir, engkau akan kembai ke rumah Bapamu. Di sana engkau akan beristirahat.”

“Kita akan bersama-sama, cinta-Ku. Kita akan pergi ke tanah lapang yang putih untuk memanen dan ke kebun-kebun anggur untuk memeriksa anggur,” Ia mengulurkan tangan pada saya, “Mempelai-Ku yang cantik, seorang pilihan-Ku,” Ia berkata.Saya mengambil tangan-Nya, menciumnya, dan menempelkannya di pipi saya.

Ia melanjutkan, “Ada banyak untuk dilihat, diketahui, dan dimengerti. Engkau baru saja mulai, Anna. Kita akan pergi lebih tinggi,cinta-Ku, yang lebih tinggi.” “Sekarang,” Ia berkata, “Pekerjaanmu di dunia menunggu.” Ia membungkuk dan mengumpulkan setumpuk mawar Sharon.”Untukmu, mempelai-Ku,”menaruhnya di tangan kiri saya. “Terima kasih,” bisik saya, menekan bunga pada saya.

Roh Kudus

Roh Kudus muncul di jalan. Dia berubah lembut, seperti asap spiral ke atas yang dapat naik. “Roh Kudus telah datang untuk menemanimu, cinta-Ku,” Ia berkata. “Apakah engkau siap untuk kembali?” “Aku siap,” saya berkata pada Yesus. Saya tetap memegang tangan-Nya. Dengan enggan, saya melepasnya.

Namun, Dia memegang tangan saya. Menatap dalam ke mata saya, Dia berkata, “Engkau telah bermesraan hati-Ku, saudari-Ku, mempelai-Ku. Engkau telah bermesraan hati-Ku.” Kedua mata kami berkaca-kaca. Ia melepas tangan saya. Saya mengambil langkah mundur untuk menunjukkan bahwa saya sudah siap untuk pergi.

Angin berputar-putar dari Roh Kudus menyelimutiku. Secara naluriah, saya menutup mata saya. Melalui suara yang berputar, saya dengar Yesus memanggil,”Engkau kekasih-Ku.” Saya menjawab, “Dan Engkau adalah sahabat-Ku!” saya menahan air mata.Roh Kudus menjemput saya. Tiba-tiba Ia pergi “berdesir” turun melalui rumput surga. Saya tidak ingin melihat.

Di Bumi

Ketika saya membuka mata, saya berdiri di ruang tamu apartemen kami di Florida. Bunga-bunga itu pergi. Tetapi harapan di dada menumpuk, dan kemudian melampaui langit-langit seperti sebelumnya. Roh Kudus berputar-putar di sekeliling saya. angin puyuh-Nya meninggalkan lingkaran api supernatural di lantai. Saya mengulurkan tangan untuk merasakan cahaya kecil, cemerlang yang berputar dalam corong. Mereka menggelitik seperti percikan kembang api.

“Oh, sahabatku,” saya berkata pada Roh Kudus,”kita akan bekerja bersama, benarkah?” cahaya dalam corong menyala sangat terang dalam menanggapinya. “Saya sudah kehilangan Dia,” saya mengaku. Saya merenung sebentar. “Ia mengatakan bahwa Roh dan Mempelai berkata ‘Ayo.” Ia bergabung dengan saya berkata,”Ayo (pada Kristus).”

Ini tampaknya sangat menyenangkan-Nya. Kembang api berubah menjadi pusaran angin menyala Tuhan. Ia mulai naik melalui langit-langit. Sementara Ia naik, Ia membakar melalui atap, membuka seluruh apartemen ke surga.

Saya memperhatikan-Nya naik. Ia spektakuler. Saya memikirkan anak-anak Israel dan tiang api pada malam hari. Kemudian saya menyadari bahwa Roh Kudus telah meninggalkan nyala api di kepala saya dan kedua bahu saya. mereka membentuk kanopi. Yesus sudah mengatakan tentang tudung kebaikan dan kemuliaan. Apakah ini kanopi api pengurapan yang akan bersemayam pada orang-orang yang takut akan Tuhan? Seandainya waktu datang untuk mempelai-Nya memanggil Dia turun?sebagai duta surgawi yang telah berdoa, apa ini waktunya Tuhan untuk memulai yang akhir?

Saya meluap dengan harapan dan sukacita mendahuluinya. Menatap ke langit terbuka, saya menegaskan:

Pernyataan

Besar kemuliaan Allah kita

Bersemayam di atas kepala-Nya.

Dan kunci-kunci Daud yang agung

Berada di bahu-Nya menyebar

Api membakar di atas

Dan api di kedua sisi.

Di bawah kanopi cinta ini

Kehadiran-Nya menetap

Panggilan Mempelai

Turunlah, Mulia keagungan kami!

Turunlah, Raja kebenaran kami!

Turun dalam api suci sekali lagi

Dengan pemandu melewati jumlah

Saya mengangkat tangan ke langit terbuka dan dengan kerinduan besar, memanggil lagi:

Turunlah, Mulia keagungan kami!

Turunlah, Raja kebenaran kami!

Turun dalam api suci sekali lagi

Dengan pemandu melewati jumlah

“Datanglah, Tuhan Yesus.”

______________________________________________________________

Lampiran B

Pegunungan Rempah-Rempah

Berikut adalah daftar rempah-rempah dan penjelasannya yang digunakan dalam persiapan Mempelai wanita.

Mur : Ketaatan sampai kematian

Rempah-rempah mur berasal dari getah tebal yang mengalir dari sayatan kulit simpul pohon yang berduri. Getah itu mengeras menjadi tetesan merah yang dinamakan “air mata,” Kata mur berasal dari akar utama dalam bahasa Ibrani berarti “penderitaan pahit.” Ini mewakili penderitaan pahit Yesus sebagai seorang manusia di bumi.

Kata Yunani menunjukkan rempah-rempah yang digunakan dalam penguburan. Dalam Perjanjian Baru, orang Majus membawa hadiah kepada kanak-kanak Kristus, termasuk mur, bayangan penderitaan dan kematian-Nya yang pahit di kayu salib (Matius 2:11).

Pengertian asli dari kata tersebut adalah “penyulingan dalam tetesan” – sebuah proses yang lambat dari pemurnian. Kristus hidup dalam sebuah kehidupan penyulingan, yang meskipun Ia adalah Anak, Ia belajar untuk taat dari apa yang telah Ia derita” (Ibrani 5:8). Yesus mengosongkan diri-Nya dari kehendak-Nya sendiri, dan ini memuncak dalam ketaatan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:7-8). Demikian juga, setiap anak Tuhan dipanggil untuk menghirup bau mur penyulingan dari hari ke hari dengan menyangkal diri sendiri dan berjalan dalam ketaatan pada keinginan Kristus sendiri (Matius 16:24-25; 6:10).

Kayu Manis: Kekudusan Hati

Asal usul dari kata kayu manis berarti “memancarkan bebauan.” Rempah ini dipanen dalam duri yang harum, kulit bagian dalam pohon famili Laurel.

Dalam Kidung Agung, kayu manis tumbuh di taman terkunci yang Yesus katakan,”Saudari-Ku, Mempelai-Ku” (Kidung Agung 4:12-14). Hati yang baru dari setiap orang yang percaya adalah sebuah taman dengan wangi rempah – hati yang tertutup dan dikhususkan bagi Tuhan Yesus sendiri – sebagaimana hati Yesus tak terbagi dalam pentahbisan-Nya pada Bapa sendiri (2 Taw 16:9, Lukas 10:22).

Dalam Amsal 7:10, perempuan yang berzinah, “berpakaian sebagai pelacur dan licik hati, telah ditaburi tempat tidurnya dengan rempah-rempah wangi yang juga termasuk kayu manis (Amsal 7:17), sebagai tiruan dari hati mempelai. Ia melempar hatinya terbuka untuk menerima setiap jenis perzinahan rohani.

Dalam kedua kasus, kayu manis memancarkan bebauan: juga pentahbisan dalam kekudusan pada Allah (Imamat 8:12), yang manis dalam lubang hidung Allah, atau bau yang busuk dari penipuan dan rayuan (Ams 7:17-19),yang merupakan bau busuk bagi-Nya.

Kayu manis adalah salah satu rempah-rempah dalam minyak urapan kudus yang digunakan untuk memisahkan orang-orang dan hal-hal yang kudus untuk digunakan bagi Allah saja (Kel.30:23-25, 30). Yesus dan orang-orang di dalam Dia adalah imam yang kudus bagi Tuhan (Kel.28:36).

Kayu Teja : Penghormatan pada Allah sendiri

Kayu Teja juga dari famili Laurel, tercium dan terasa hampir seperti kayu manis, tetapi dianggap lebih rendah daripada itu, sebuah tanaman yang rendah hati. Allah meninggikan pohon rendah ini untuk memberikan satu dari empat rempah yang digunakan dalam minyak urapan kudus (Kel.30:23-25). Namanya, wakil dari sifat-sifatnya, berasal dari asal kata yang berarti “untuk sujud,” “membungkuk,” “untuk memberi penghormatan,” menggambarkan kerendahan hati Kristus dihadapan Bapa-Nya. Yesus berkata, “Aku menghormati Bapaku…Aku tidak mencari kemuliaan-Ku”(Yohanes 8:49-50). Meskipun sebagai orang percaya kita harus menunjukkan diri rendah hati di hadapan orang lain (I Petrus 2:17; 5:5), kita harus sujud dalam ibadah kepada Allah saja (2Raja-raja 17:35-36; Mat 4:10).

Kata penghormatan berarti “untuk menunjukkan kesetiaan, ketaatan dan menghormati” (Kel.34:8). Kita, seperti Yesus, harus menghormati Bapa kita dengan ketakutan kudus dan penghormatan, memperlakukan Dia dengan suci di mata orang lain (Bilangan 20:10-12; Yeh36:22-23) dan di kedalaman hati kita (1Pet 3:15).

Tebu : Kebajikan

Tebu adalah minyak wangi yang berasal dari tanaman rawa yang dikenal sebagai bendera manis. Kata Ibrani untuk rempah-rempah ini berarti “tangkai atau buluh (seperti bangun),” atau tegak. Kita melihat arti alkitabiah tegak dalam contoh pertama dari kata Ibrani dalam Alkitab, yang diterjemahkan “benar di hadapan (Tuhan)”(Kel 15:26). Nama puitis Allah untuk umat-Nya Israel adalah “Jeshurun,” sebuah kata yang berarti “seorang yang tegak”(Yesaya 44:2). Di mata Bapa-Nya Tuhan Yesus adalah tegak dalam Diri-Nya (Mazmur 25:8), dalam firman-Nya (Mazmur 33:4), dan di jalan-Nya (Yesaya 11:4).

Kedua makna Alkitab tegak termasuk juga bahwa menjadi halus dan lurus, yaitu, tanpa penyimpangan, jalan yang benar dan langsung. Segala sesuatu tentang Yesus Kristus adalah keselarasan sejati dengan Bapa. Tidak ada halangan atau keganjilan didalam-Nya untuk menghalangi wahyu yang jelas dari Allah (Yoh 5:30; 14:9). Orang Kristen, seperti Yohanes Pembaptis, adalah untuk “meluruskan jalan Tuhan (Roma 7:25, Galatia 6:8). Yesaya berseru, “Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya.”(Yesaya 26:7), sehingga mereka berjalan lurus dihadapan Allah. Kristus sendiri tegak atau benar di mata Bapa, dan kita di dalam Dia (2Kor 5:21; Roma 10:3-4).

Bunga Pacar: Pengampunan

Bunga Pacar, diterjemahkan “camphire” dalam versi King James, berasal dari pohon yang daunnya menghasilkan zat warna yang digunakan sebagai pewarna merah. Kata Ibrani berarti “Menutupi, harga penebusan, tebus.” Asal utama dari kata itu berarti “mengampuni”(Kidung Agung 4:13 ; Yesaya 43:3). Oleh karena rempah yang harum ini menandakan penumpahan darah Kristus di Kalvari sebagai tebusan kita dari dosa dan kematian (I Tim. 2: 6).

di Timur Tengah pada malam sebelum pernikahan, mempelai wanita diberi pasta bunga pacar pada telapak tangan dan telapak kakinya. Dalam simbolisme Kristen tangannya (bekerja) dan kaki (berjalan) adalah untuk memancarkan bau manis dari pengampunan dan memperlihatkan seterusnya noda merah dari penumpahan darah-Nya di kayu salib. Kristus memanggil mempelai-Nya untuk berjalan terus dibersihkan lewat pengampunan yang dimenangkan untuknya oleh mempelai prianya (I Yoh 1;9); dan menyampaikan pengampunan itu pada yang lainnya (Mat 6:14-15).

Gaharu : Keintiman

Kata Gaharu berasal dari bahasa Arab yang berarti “tenda kecil,” penjelasan bentuk tiga sudut ringkas dari pohon gaharu yang memiliki damar yang harum. Tenda runcing, kecil adalah jenis yang dibicarakan dalam 2 Samuel 16:22, yang berarti “tenda kesenangan di atap rumah” atau sebuah “tenda pengantin”: sebuah tempat keintiman. Di luar kemah Musa mendirikan sebuah tenda pertemuan pribadi dimana Tuhan berbicara padanya bertatap muka (Kel.33:7,9, 11). Daud juga mendirikan sebuah tenda di Gunung Sion untuk tabut perjanjian, dimana ia bisa sedekat mungkin dengan kehadiran Tuhan (2 Sam.6:17). Yesus memiliki keintiman yang sempurna dengan BapaNya, sebuah keintiman dimana Roh Kudus mempersiapkan kita dan kemana kita sedang disempurnakan: “Seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kami” (Yoh 17:21,23). Seruan hati kita yang terus menerus harus pergi denganNya menuju keintiman kemah pengantin sehingga Ia mengenal kita dan kita -Dia (Yoh.10:14-15). Hanya melalui keintiman dalam roh dengan Yesus kita mendatangkan anak-anak rohani bagi kerajaanNya (1 Yoh 1:3; Gal.4:19, 1 Kor.4:15).

Narwastu : Cahaya

Narwastu murni adalah rempah-rempah yang sangat mahal dan berharga (Yoh 12:3). Hal ini dihasilkan dari batang kering berbulu dari tanaman yang tumbuh pada ketinggian sampai tiga belas ribu kaki di Himalaya dalam cahaya matahari yang lebih kuat dan lebih murni. Kata Narwastu (minyak narwastu dalam versi King James) berasal dari Ibrani yang berarti “cahaya”.

Realitas Allah di surga terlihat dalam kemurnian, cahaya tak tercipta dari sifat-Nya. Ia adalah cahaya, dan tidak ada kegelapan di dalam-Nya (1Yoh1:5). AnakNya, Yesus Kristus, adalah cahaya sejati dari Bapa (Yohanes 1:9) – realitas Allah nyata di dalam manusia (Yohanes 1:14). Tidak ada kegelapan dosa dalam-Nya, karena Ia berjalan dalam terang Bapa-Nya (Yoh 8:29; 1 Yoh 1:7).

Kekristenan adalah menjadi pengambil bagian dalam kodrat ilahi dan mewujudkan terang Kristus (2 Pet 1:4; Mat.5:16), menjalani kehidupan mereka di hadapan Allah dan manusia dengan kejujuran, menjadi manusia yang sama di luar sebagaimana mereka dalam hatinya. Mereka menjadi lampu yang transparan melalui mana cahaya surgawi Kristus bersinar (Roma 13:12). Sebagai pembawa cahaya-Nya, kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus saat Dia mengambil sikap terhadap semua kegelapan dalam diri kita (Efesus 5:8). Akhirnya bahkan bayangan kita menjadi begitu diresapi dengan terang Allah sebagaimana kita lewat, orang sakit disembuhkan (Kis.5:15).

Saffron: Iman

Saffron adalah rempah-rempah yang sangat mahal. Rempah ini dikumpulkan dari stigma oranye-merah, tiga kecil dari bunga sativus crocus. Sekitar 225.000 dari stigma ini harus dipilih dengan tangan untuk menghasilkan satu pon saffron. Ini rempah-rempah yang sangat berharga berwarna kuning-emas ketika dikeringkan, dan secara harafiah sepadan dengan berat emas. Secara medis rempah ini memperkuat jantung. Untuk alasan ini, saffron adalah simbol iman Yesus Kristus yang dibangun dalam hati-Nya dihadapan Bapa surgawi (Ibr.2:13). Iman-Nya dalam kata-kata Bapa-Nya kepada-Nya diuji dan disempurnakan (Ibrani 12:2) sepanjang tahun pelayanan-Nya di bumi, dimulai dengan pencobaan pertama di padang gurun (Mat 4:3-4).

Anak menanamkan iman-Nya kepada murid-murid-Nya, dan itu adalah kasih karunia melalui iman kita diselamatkan (Ef.2:8). Dengan iman kita hidup (habakuk 2:4), dan iman yang disempurnakan bahwa Kristus mencari saat Ia kembali. “Namun, ketika Anak Manusia datang, akankah Ia menemukan (ketekunan) iman di bumi ?” (Lukas 18:8, AMP). Oleh karena itu kita bersukacita dalam pencobaan sehingga “bahwa bukti iman (kita), yang lebih berharga dari emas yang fana, meskipun diuji oleh api, dapat ditemukan untuk menghasilkan pujian dan kemuliaan dan hormat pada pernyataan Yesus Kristus” (I Pet. 1:7).

Kemenyan : Kemurnian

Kemenyan adalah getah damar yang mengalir dari kayu bagian dalam pohon yang menyerupai abu gunung. Kata dalam bahasa Ibrani berasal dari akar yang “murni” atau “putih” karena berkilauan, seputih susu, damar “air mata”. “Air mata” ini, ketika dibakar, mengeluarkan bau yang kuat dari balsam. Dupa yang terbaik mengandung kemenyan murni, muncul dalam asap putih yang melambangkan doa-doa yang naik ke tahta Allah (Wahyu 8:3-4). Kemenyan adalah bagian dari dupa suci yang digunakan di gurun Tabernakel (Kel.30:34-35). Ini mewakili kemurnian pentahbisan kebangkitan Kristus dalam pelayanan-Nya untuk kita dihadapan Bapa (Roma 8:34). Tuhan Yesus telah dikuduskan atau menetapkan Diri-Nya terpisah (Yoh 17:19) dari Bapa sebagai Imam Besar “ yang saleh, tanpa salah, tanpa noda,” (Ibrani 7:25-26) untuk menebus kita dari setiap perbuatan durhaka dan menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri (Titus 2:14).

Ketika Kristus muncul dalam kemuliaan, “kita akan menjadi seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia sama seperti Dia. Dan setiap orang yang memiliki pengharapan ini ditetapkan pada-Nya menyucikan dirinya seperti Ia adalah suci.” (I Yoh.3:2-3).

Kayu Lokan : Otoritas

Kata Ibrani untuk tanaman rockrose tersebut, kayu lokan, yang berasal dari akar kata “mengaum” atau “singa.” Tuhan yang dibangkitkan adalah singa dari suku Yehuda,yang telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (Wahyu 5:5; Mat 28:18), dengan kuasa “untuk menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” (Filipi 3:21). Otoritas Bapa melalui Kristus dilambangkan dengan auman singa dalam Hosea 11:10-11: “Mereka akan mengikuti Tuhan, Ia akan mengaum seperti singa. Sungguh, Ia akan mengaum, maka anak-anak akan datang dengan gemetar dari barat, seperti burung dengan gemetar datang dari Mesir, dan seperti merpati dari tanah Asyur, lalu Aku akan menempatkan mereka lagi di rumah-rumah mereka, demikianlah firman Tuhan. (JB)

Bau yang dipancarkan oleh kayu lokan dalam pedupaan suci tidak hanya membuktikan otoritas Kristus, Ketuhanan-Nya di bumi, tetapi seperti naik melalui pertengahan surga, setiap hari mengingatkan setan bahwa ia adalah musuh yang dikalahkan. Orang Kristen membagikan dalam otoritas Kristus “melampaui….semua kekuatan musuh” dalam nama-Nya (Lukas 10:19).

Getah Rasamala: Ibadah, Pujian, kekaguman dan Rasa syukur

Bahasa Ibrani untuk kata getah rasamala berasal dari akar utamanya yang berarti “lemak” atau “bagian terkaya atau terpilih” atau “terbaik.” Rempah-rempah ini adalah getah damar yang dikumpulkan dengan mengiris batang tanama dari famili ferula. Lemak adalah salah satu dari dua bagian dari hewan korban yang seluruhnya diperuntukkan bagi Allah (Kej.4:4; Im 3:16-17). Ini menandakan korban terbaik yang bisa diberikan kepada-Nya, bahwa diluar segala sesuatu yang lain dalam menyenangkan-Nya: pujian sukacita “dalam roh dan kebenaran”(Ulangan 28:47, Yoh 4:23) dan pujian sukacita dan rasa syukur untuk menghormati Bapa dengan putra-Nya dan murid-murid-Nya (Mzm 50:23, Ibr 2:12; 13:15).

Setan menjanjikan “kerajaan dunia dan kemegahannya” kepada Kristus dalam pertukaran untuk menyembahnya (Mat 4:8-9). Musuh mengarahkan orang-orang tidak percaya untuk mencari “lemak” pada masa ini – untuk menerima pujian, penyembahan, syukur, dan pemujaan untuk diri mereka sendiri (Yohanes 5:44). Dalam pertentangan langsung dengan Firman Tuhan (Yesaya 42:8), banyak dalam tubuh Kristus secara rohani kelebihan berat badan karena mengambil untuk diri mereka sendiri apa yang menjadi milik Tuhan saja: lemak.

 Getah Damar : Kebenaran dengan belas kasihan

Getah damar dari asal katanya berarti “jatuh menetes” lembut atau “bernubuat” kata-kata dari Allah. Sejak “kesaksian Yesus adalah roh nubuat,”(Wahyu 19:10), pedupaan kudus (yang mana rempah ini adalah bagiannya {Kel.30:34-35}) nubuat Kristus pada Allah, tetapi juga melanda ketakutan pada mereka yang menjadi musuh Kristus (Yos.2:9-11). Aroma dupa naik dari Bait suci ke tahta di surga dan pergi ke seluruh bait. Bau ini dapat tercium bermil-mil, bahkan di Sungai Yordan oleh orang Kanaan (2Kor. 2:15-16). Ini bersaksi tentang kebenaran keselamatan hanya dalam Kristus saja (Yoh 14:6), bagi Bapa kita yang ingin semua orang diselamatkan (1 Tim 2: 3-4). Kebenaran Kristus, yang mana dinubuatkan getah damar, “jatuh menetes” atau kelembutan, belas kasihan. Amsal 16:6 mengatakan, “Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan Tuhan orang menjauhi kejahatan (KJV). Rahab perempuan sundal itu pastinya diantara mereka yang berbau nubuat kesaksian Yesus ini – Jalan, Kebenaran, dan Hidup – dan siapa yang takut akan Tuhan dan percaya dalam keselamatan yang Ia sediakan (Yos. 2:11-13).

Ada juga bagian catatan luas dalam buku untuk setiap bab, tetapi tidak termasuk di sini.

About

View all posts by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *